Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Tuesday, April 10, 2018

√ Kisah Bijak : Pergantian Kepala Desa

Suatu hari disebuah desa, kepala desa ingin mencari pengganti untuk meneruskan pengelolaan desa tersebut. Karena kondisi badannya yang sudah tidak begitu sehat dan juga usianya sudah separuh baya dan matanya sebelah buta, kemudian ia meminta beberapa orang dari desanya yang memiliki potensi.

Tersebutlah ada 3 orang anak muda yang bersedia dan mempunyai potensi untuk menggantikan kepala desa tua. Untuk menentukan salah satu dari ketiga calon tersebut, kepala desa mengadakan tes kepada ketigannya. Setiap calon kepala desa tersebut masuk secara bergantian untuk mengikuti tes dan wawancara dengan sang kepala desa.

Masuklah seorang perjaka calon kepala desa pertama.

Kepala Desa berkata : “Tolong buatkan citra perihal diriku?”
Lalu calon pertama tersebut mulai menggambarkan pada kertas yang disediakan oleh kepala desa. Ketika selesai calon pertama menggambarkan “kepala desa” tersebut kemudian kepala desa memandang hasil citra perihal dirinya. Dengan citra tersebut sang kepala desa menilai ia sebagai seorang yang jujur menggambarkan diri kepala desa apa adanya dengan wajah selayaknya dan mata yang buta sebelah. Namun kepala desa bukan mencari orang yang jujur ibarat itu. Kepala desa tersebut berkata, “engkau memang orang yang baik dan jujur, namun tidak semua orang yang terlalu suka akan kepolosan atau sikap yang tranparan”.

Selanjutnya, masuk dan menggambarlah calon kedua. Calon ini sangat elok sekali menggambarkan kepala desa dengan gagahnya. Sebuah gambar seorang yang memakai kacamata hitam dengan gagahnya sosok kepala desa. Dengan hasil tersebut kepala desa tersenyum dan berkata : “engkau orang sangat pandai menggambar, saya bahagia sebab engkau penuh dengan citra ibarat ini. Namun saya kurang suka sebab engkau lebih suka menutupi kekurangan ku dengan hal yang lain yang tidak semestinya.”

Setelah keluar calon kepala desa ke-2, masuklah yang terakhir. Ia mulai berpikir dan menggambarkan bagaimana sosok kepala desa. Setelah beberapa waktu berlalu, kepala desa tertawa sembari tersenyum kepada perjaka tersebut. Kemudian ia berkata: “engkau memang perjaka yang lebih sempurna untuk menggantikanku dan kurasa engkau orang memang pantas menjadi kepala desa berikutnya.” Dan sang perjaka pun beranjak keluar sesudah ia mengucapkan terimakasih.

Lalu apa dan bagaimana hasil yang digambarkan oleh perjaka tersebut akan sosok kepala desa? Sebenarnya perjaka itu menciptakan sebuah sosok kepala desa yang sedang memegang senjata, dengan mata yang dipejamkan salah satunya untuk mengintai dilobang teropong. Sehingga ia tidak menutupi kekurangan sang kepala desa, namun pula ia tidak menampakkan kekurangan daripadanya. Sang perjaka hanya menyamarkan akan kekurangan yang dimiliki.
Sumber http://menofschool.blogspot.com

Thursday, April 5, 2018

√ Sisi Negatif Kecurangan Ujian Nasional

Ujian nasional merupakan acara evaluasi berguru selama 3 tahun. Dengan ujian nasional, para siswa diperlukan bisa mengukur dan menilai sejauh mana perjuangan untuk kepahaman terhadap pelajaran yang pernah dibina disekolah mereka. Ini bisa menjadi kekayaan pengalaman dan pengetahuan diri mereka dimasa datangnya.
Namun, pada kenyataan dan beberapa kasus yang pernah terjadi – baik yang tersebar atau yang tidak tersebar – telah terjadi kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Kecurangan tersebut diantaranya yakni kebocoran soal, tersediannya kunci tanggapan Ujian Nasional, Lembar Jawaban Ujian diisi dan diperbaiki pihak lain, serta kejadian-kejadian lainnya yang termasuk ke dalam kecurangan.
Sebagaimana seorang guru seharusnya lebih bisa menawarkan pengalaman positif pada ujian nasional. Jangan hingga hal-hal yang bisa merugikan tersebut meng-kontaminasi sekolah kita, sebab kecurangan tersebut bisa menyebabkan kerugian yang lebih banyak daripada tidak lulusnya siswa. Kerugian atau sisi negatif dari kecurangan tersebut diantaranya yakni :

1. Menumbuhkan Ketidak-sportifitasan

Ujian hampir menyerupai dengan lomba dan kompetesi, dimana ada kasus yang merupakan tantangan untuk menjadi juara. Jika mereka berusaha, mereka mempunyai kemungkinan besar menjadi sang juara, namun bagi mereka yang tidak berusaha lebih banyak peluang untuk gagal atau kalah. Cara singkat untuk menjadi juara yakni dengan adanya kunci terhadap kasus yang dihadapi. Dengan adanya kunci tanggapan dari soal Ujian Nasional, siswa tidak perlu berguru dan berusaha keras. Dia sanggup dengan gampang menjawab soal / pertanyaan dengan kunci tanggapan yang tersedia. Tidak lagi menghitung, menelaah, memikirkan sebab jawabannya sudah tersedia. Tantangannya hanya menjaga semoga tidak bocor / terdengar oleh (panitia, pengawas ruang, pengawas lapangan atau orang yang lebih menghargai kejujuran.
Dengan kata lain, ketika siswa lain berusaha keras, berpikir keras, berjuang sekuat tenaga dengan kemampuan yang mereka miliki, siswa yang tidak sportif, dengan santai ia menjadi juara (nilai tinggi / masuk kualifikasi).

2. Meningkatkan Konflik dan Kecemburuan Sosial

Permasalahan kecurangan tersebut berlanjut menjadi timbulnya konflik dan kecemburuan sosial di antara akseptor ujian nasional. Karena dianggap tidak adilnya dalam perjuangan untuk menjadi juara – akhir ketidaksportifan. Namun konflik atau kecemburuan sosial tidak akan mencuat apabila kasus kecurangan tersebut disembunyikan atau tidak diketahui oleh pihak lain. Ini bisa kita sebut dengan istilah “rahasia umum”. Diketahui tapi tidak ambil pusing terhadap kasus tersebut.

3. Menumbuhkan Kebiasaan Tidak Jujur

Kita semua tahu bahwa sikap jujur yakni perilaku yang tidak menutupi keburukan atau kesalahan yang ada, berani mengambil langkah tanpa menepikan rasa tanggung jawab. Kecurangan sebagaimana kita ketahui yakni tindakan yang tidak terpuji, sebab melaksanakan kesalahan dan menutupinya. Pada ujian nasional, kecurangan lebih banyak dilakukan oleh siswa sebagai peserta, namun apabila tidak ada celah dan dukungan dari pihak lain kemungkinan besar mereka akan tetapterbiasa untuk bersaing secara sehat dan jujur. Pihak-pihak yang terkait ini bisa jadi yakni orang termasuk ke dalam lingkung sebutan “guru”. Para akseptor tidak akan berani dan akan berpikir lebih positif apabila mereka “diajarkan” untuk berbuat jujur, tanpa khawatir apa yang akan terjadi di masa datang.
Guru yang baik akan menuntun mereka ke jalan yang benar lagi baik, semoga mereka terbiasa nantinya ketika guru bukan menjadi pembimbing hidupnya lagi. Mereka akan mengerti ketika itu atau di lain waktu setiap perbuatan yang baik dan benar, akan berbuah kebaikan pula bagi dirinya.

4. Melatih Ketidak-percayaan Diri

Kecurangan mengandung makna adanya proteksi dari luar untuk menjadi yang dianggap terbaik disekelilingnya. Ketika para siswa selalu dibantu oleh guru ketika proses pendewasaannya dan kala ia masih dalam “belajar”, mereka akan terbiasa untuk hidup bergantung dengan proteksi dari luar.
Guru yang baik tentu mengerti bagaimana seharusnya dan dimana tepatnya ia harus dipimpin (dari depan), didampingi (dari samping), didorong (dari belakang) dan didewasakan (diberi kesempatan mandiri). Tidak selamanya siswa harus dibantu, sebab hidup sang “guru” terbatas pula. Ada saatnya ia dibantu, ada saatnya pula ia membantu dirinya dan orang lain.
Dengan proteksi kunci jawaban, ia menjadi yakin sebab proteksi dari luar walaupun dalam kunci tanggapan tidak 100% benar. Sebaliknya, tanpa kunci tanggapan (bantuan), ia kurang bahkan tidak yakin terhadap apa yang dipikirkan, diperbuat, diputuskan oleh dirinya sendiri. Resiko yang jelek di masanya akan tiba dari anak didik yang tidak mempunyai kepercayaan diri sendiri akan menjadi benalu bagi orang lain. Tentu kita sebagai guru tidak menginginkan “cetakan” kita menyerupai itu.

5. Meningkatkan Rasa Tidak Mengharigai Usaha dan Kerja Keras

Dengan menjadi siswa yang masuk kualifikasi / juara, mereka akan gembira dan aib sebab kualifikasi yang diterimanya tidak sesuai dengan kemampuan gotong royong yang dimiliki. Karena ia menjadi “pemenang” ia tahu / tidak tahu seberapa besarnya perjuangan siswa lain yang jujur, mereka tidak ambil pusing terhadap itu semua, bisa jadi mereka menganggap siswa jujur “sama saja” dengan mereka.
Ketidak-bisaan menghargai kerja keras orang lain, akan berdampak ia tidak akan ambil pusing terhadap jerih payah yang orang lain lakukan. Dalam kehidupan ke depan, ia mempunyai kemungkinan menjadi pemimpin yang kejam, menginginkan hasil maksimal namun tidak mengerti keterbatasan.

6. Membanggakan Karya Orang Lain

Saat seorang mendapat hasil dengan “bantuan” dari luar merupakan hasil yang bukan sepenuhnya dari usaha sendiri. Jika ”bantuan”nya dari skala persentasi melebihi 50% berarti itu yakni hasil dari perjuangan orang lain. Apabila proteksi dari luar 50% dan perjuangan sendiri 50% berarti hasil bersama.
Siswa yang ujiannya dibantu bisa berarti ia tidak mengerjakannya sendiri. Dan apabila ia masuk kualifikasi atau lulus kemudian ia bangga, siswa tersebut gembira terhadap hasil kerja keras orang lain. Apabila ia mengerjakan dengan cara dan usahanya sendiri, beliau akan aib melihat kesannya tidak sebagus yang diinginkan. Dengan kata lain siswa tersebut lebih mementingkan hasil dengan jalan dan cara apapun dibanding ia memaknai proses / jalan menuju tujuannya.
Sumber http://menofschool.blogspot.com

Monday, April 2, 2018

√ Pengelolaan Sarana Lingkungan Hidup Sekolah

Jangan Jadikan Sekolah Tempat Sampah. Jangan jadikan petugas kebersihan menanggung beban kebersihan. Tanggung jawab menjaga kebersihan mesti kita tanamkan bersama di jiwa guru dan para siswa. Petugas kebersihan hanya membantu untuk pengelolaan sampah dan kerapian sekolah. Setiap orang di lingkungan sekolah mempunyai hak untuk menjaga kebersihan. Karena sekolah merupakan rumah berguru dan daerah bersama antara guru, pegawai, petugas dan siswa.
 Jangan jadikan petugas kebersihan menanggung beban kebersihan √ Pengelolaan Sarana Lingkungan Hidup Sekolah
Kebersihan Kelas
Sumber Ilustrasi : aciknadzirah.blogspot.com/search?q=kebersihan-lingkungan

Kebersihan

1. Tersedianya Alat Kebersihan Dalam dan Luar Ruangan

Kita tidak mengharuskan membeli alat semoga lingkungan sekolah menjadi bersih. Walaupun di pasar, sudah tersedia alat-alat kebersihan. Para guru bisa mengajak siswanya membuat kreatifitas alat-alat kebersihan, contohnya sapu ijuk, sapu lidi, keset dari sabut kelapa, serok sampah dan daerah sampah dari papan bekas serta lain-lainnya. Selain ini bisa menumbuhkan kemandirian sekolah, juga kreatifitas menjadi bertambah.

2. Tersedianya Toilet / WC

Sudah menjadi kebutuhan sekolah dalam pengadaan bangunan pembuangan kotoran yaitu WC atau Toilet. Dengan adanya daerah ini, siswa dan guru tidak perlu banyak membuang waktu untuk mencari daerah buang air. Selain itu juga para siswa menjadi terbiasa untuk hidup bersih.

3. Tersedianya Alat Kebersihan Toilet

WC tersebut juga perlu adanya alat pembersih, sehingga ruangan WC tetap bersih. Jika kita lebih bisa bisa disediakan cairan pengharum ruangan WC atau pengharum Closet.

4. Tersedianya Air Bersih

Air merupakan media pembersih benda-benda. Air higienis juga dibutuhkan dalam tatanan prasarana di sekolah. Air higienis bisa dipergunakan untuk banyak keperluan sekolah, baik itu untuk dikonsumsi maupun untuk yang tidak dikonsumsi. Sekolah yang bagus, selalu mempunyai persediaan air guna untuk memasak, mengisi bak WC dan kamar mandi, berwudhu, mencuci muka atau tangan kotor, dan lainnya.

Kerapian

Rapi mempunyai makna tertata dengan baik dan sesuai ketentuan. Kerapian yang berkenaan dengan sekolah terkait banyak sekali macam hal diantaranya ialah sebagai berikut :

1. Tatanan Perlengkapan Kelas

Kebanyakan kelas di sekolah sudah mempunyai kelengkapan umum menyerupai papan tulis (whiteboard atau blackboard), kursi dan meja guru serta kursi dan meja para siswa. Mungkin saja kini sudah banyak sekali disetiap sekolah mempunyai fasilitas yang berbeda. Ini bukanlah duduk kasus utama. Sedikit atau sebanyak apapun perlengkapan kelas, mesti ditata dengan rapi.

Panataan kelas pada umumnya ialah dikelola oleh wali kelas beserta siswa-siswi kelas tersebut. Kita bisa melatakkan papan tulis pada cuilan paling depan dari kelas dengan berhadapan eksklusif kepada para siswa. Meja dan kursi guru boleh diletakkan di cuilan kiri depan atau kanan depan kelas dengan menghadap kepada para siswa. Peralatan kebersihan kelas bisa diletakkan didalam lemari atau bila tidak mempunyai lemari khusus, boleh diletakkan pada cuilan belakang.

Selain perlengkapan utama, untuk menambahkan kenyamanan ruangan dengan kreatifitas bersama bisa ditambahkan di dalam kelas hasil karya, poster, lemari, jam dinding dan barang-barang yang mendukung pendidikan serta kenyamanan. Pada cuilan luar sangat bagus kiranya apabila ada daerah meletakkan ganjal kaki, tumbuhan hias, dan kursi santai. Selebihnya dikembangkan dengan kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki bersama.

2. Tatanan Bangunan

Tata bangunan ini akan lebih banyak terkait dengan bidang sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Tentunya penataan bangunan merupakan program yang dilaksanakan dengan waktu-waktu tertentu. Hal ini dikarenakan penataan bangunan sedikit banyaknya akan mempergunakan biaya yang cukup bahkan lebih besar dari keperluan lain di dalam pengelolaan sekolah.

3. Tatanan Parkir

Sekarang ini siswa-siswa tidak hanya berasal dari sekitar sekolah, ada juga yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari sekolah. Sehingga mereka mempergunakan alat transportasi menyerupai sepeda atau sepeda motor. Parkir sekolah sangat membantu sekali menghindari terjadinya pencurian. Peletakkan sepeda atau sepeda motor yang dikelola di daerah parkir khusus akan memudahkan keluar masuknya sepeda dan sepeda motor ke dalam sekolah. Keamanan sekolah menjadi lebih terperhatikan.

4. Tatanan Pembuangan Kotoran

Pengelolaan sanitasi ini perlu kita perhatikan adanya di sekolah. Kotoran dan sampah bisa menimbulkan penyakit pada orang-orang disekitarnya. Kesehatan warga sekolah menjadi faktor penting juga, sebab bila warga sekolah sakit maka akan terganggu proses berguru mengajar. Penempatan bangunan WC sebisa mungkin tidak berdekatan dengan ruang kelas, sumber utama air bersih, kanten terbuka, ruang kantor. Selain duduk kasus rawan timbulnya penyakit, kadang-kadang basi yang kurang lezat bisa mengurangi kenyamanan di dalam ruangan.

5. Tatanan Pembuangan Akhir Sampah Sekolah

Sekolah merupakan wahana pendidikan juga menghasilkan sampah baik itu sampah sisa atau bungkus makanan, sampah dokumen, sampah alami (organik). Karena adanya sumber penghasil sampah di sekolah, maka penyediaan daerah sampah menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk diadakan. Jika daerah sampah sudah tersedia, berarti sekolah mempunyai kesempatan mengajak guru dan siswanya untuk bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada daerah yang tersedia.

Usahakanlah memberi pengetahuan ihwal sampah dan daerah sampah dibedakan. Pembedaan daerah sampah ini boleh dengan jenis sampah organik dan anorganik atau sampah berair dan sampah kering. Sehingga nantinya sampah bisa dikelola atau dimanfaatkan menjadi barang mempunyai kegunaan menyerupai kompos, kerajinan tangan serta tidak terjadi penumpukkan sampah yang banyak.

6. Tatanan Saluran Air

Saluran air atau yang biasa disebut dengan drainase, selayaknya diperhatikan pula. Saluran air yang terganggu menjadikan tergenangnya air kotor, air hujan dan bisa mengakibatkan penyakit, becek dan banjir. Saluran air apabila ditata dengan sempurna akan membuat pergerakkan air serta penyerapan air ke dalam tanah lebih cepat.

Kerindangan

1. Taman dan Pekarangan Sekolah

Untuk membuat sekolah yang ramah lingkungan, dibagian lahan atau halaman sekolah yang kosong bisa dibuatkan sebuah pekarangan atau taman. Pekarangan tersebut ditanami dengan tanaman hias (bunga) atau tanaman obat-obatan. Untuk lebih bagus lagi sanggup ditambahkan dengan papan nama (sebutan, istilah latin). Dengan ini siapa pun yang memperhatikan akan sanggup mengenal tumbuh-tumbuhan tersebut dengan kata lain menambah wawasan alam lingkungan.

2. Tanaman Hias Sekitar / Dalam Kelas

Terkhusus tumbuhan guna mempercantik ruangan kelas, menyegarkan udara kelas dan menyejukkan pandangan, di sekitar ruangan kelas – baik di dalam kelasmaupun diluar kelas – sanggup dihiasi dengan tumbuhan pot yang digantung, ditempel atau diletakkan pada lantai.

3. Pohon Perindang

Selain pekarangan dan tumbuhan penghias kelas, di cuilan halaman yang tidak diperunakan untuk upacara dan lapangan olah raga ditanam beberapa pohon perindang. Pohon perindang merupakan penghijau dan penyejuk untuk skala yang lebih luas lagi. Pilihlah pohon perindang yang tumbuhnya akan banyak daun dan cepat pembesarannya. Perbanyaklah pohon jenis tumbuhan dikotil dibanding monokotil. Beberapa jenis pohon perindang dikotil adalah pohon Ketapang, Beringin, Mangga, dll. Sedangkan pohon jenis monokotil ialah Pinang, Kelapa, Palm, dll.

Terima Kasih Telah Membaca, Semoga Bermanfaat.
Sumber http://menofschool.blogspot.com

Sunday, April 1, 2018

√ Peningkatan Kualitas Berguru Dengan Taktik Warna

 Maka proses pembelajaran bisa kita modifikasi dengan menciptakan startegi warna guna meningka √ Peningkatan Kualitas Belajar dengan Strategi Warna

Sebagaimana kita bahas pada pengaruh warna dalam pembelajaran. Maka proses pembelajaran bisa kita modifikasi dengan menciptakan startegi warna guna meningkatkan kualitas belajar.
Strategi warna menucakup mengenai :

1. Pemilihan Buku Pelajaran

Dalam pemilihan buku, kita kini ini mempunyai banyak kesempatan untuk menentukan buku apa yang sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran kita. Di pasaran sudah banyak tersedia banyak sekali macam jenis dan bentuk buku yang sebagian besar sudah mempunyai warna-warni bahkan ada yang full color dengan harga yang bervariasi.

Akan tetapi permasalahan yang kadang kita hadapi pada faktanya ialah buku yang mempunyai warna full color lebih mahal dibandingkan yang lainnya. Sehingga untuk mengadakan setiap siswa kita mempunyai buku tersebut terasa berat bagi kita alasannya dianggap membebankan harga yang tinggi.

Strategi dalam pemilihan buku berwarna tidak selalu mengharuskan dimiliki oleh semua siswa. Bisa saja buku disediakan oleh sekolah sehingga tidak menjadi beban terhadap siswa. Atau barangkali dimiliki oleh siswa dengan cara angsuran yang sementara dibayar oleh sekolah atau guru yang bersangkutan.

Pemilihan buku yang berwarna juga tidak mengharuskan buku yang dipilih mempunyai warna penuh (full color) pula. Paling tidak minimalnya ialah guru mempunyai satu buku yang berwarna penuh.

 Maka proses pembelajaran bisa kita modifikasi dengan menciptakan startegi warna guna meningka √ Peningkatan Kualitas Belajar dengan Strategi Warna2. Pemilihan Media Belajar

Strategi warna yang kedua ialah pemilihan media belajar. Pemilihan berarti mencari dan menentukan media mana yang sempurna dengan mengutamakan warna pada media tersebut. Di lapangan, sebagian guru merasa terbebani untuk membeli media pembelajaran alasannya faktor harga dan terbatasnya pengetahuan mengenai media belajar.

Kita ketahui bersama bahwa penyediaan media pembelajaran, seorang guru tidak mesti membeli. Banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menyediakan media pembelajaran tersebut selain membelinya, menyerupai meminjam, memodifikasi atau membuat sendiri dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru tersebut. Jikalau seorang guru memodifikasi atau menciptakan media sendiri, guru bisa mendapat materi/bahan dari internet yang kemudian dicetak dengan memakai printer warna.

3. Penggunaan Alat dan Teknologi

Jika peningkatan kualitas pembelajaran masih terkendala dengan pemilihan buku berwarna dan pemilihan media belajar, kita sebagai guru bisa mendapat alternatif untuk mengatasi problem tersebut dengan menggunakan alat dan teknologi.

Peralatan yan bisa kita gunakan diantaranya ialah LCD dan Proyektor. Kedua teknologi ini sebagian besar sekolah sudah mempunyai dan menjadi sebuah keperluan sekolah itu sendiri. Tantangannya ialah bagi sekolah yang belum tersedia tenaga listrik.

LCD dan Proyektor mempunyai ciri yang hampir mirip. Akan tetapi kedua teknologi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sumber http://menofschool.blogspot.com




√ Imbas Warna Pada Pembelajaran

Di lingkungan sekitar kita aneka macam terdapat  √ Pengaruh Warna pada Pembelajaran
Pengaruh Warna
Di lingkungan sekitar kita aneka macam terdapat warna-warni. Ada yang menonjol ada yang samar-samar. Pernahkah kita melihat warna-warni di lingkungan sekitar kita? tentu saja bukan. Namun Seringkah kita memperhatikan perhatikan secara secama perbedaan warna-warna tersebut?

Warna kadang tidak kita sadar pengaruhnya dalam kehidupan terlebih khusus dalam proses berguru kita. Bisa jadi hal tersebut dikarena sudah sering dan biasa meilhat benda-benda yang mempunyai warna-warna lumrah. Misalnya saja kita sudah biasa melihat bahwa daun segar berwarna hijau, jalan beraspal berwarna hitam, langit berwarna biru di siang hari atau awan berwarna putih ketika bersih.

Karena hal tersebut biasa, maka kesan dan perhatian kita tidak terlalu melekat. Bila saja kita melihat warna daun merah cerah, sedikit banyaknya kesan akan menempel kepada kita. Bahkan kita ceritakan kepada orang lain hal tersebut, dikarenakan kesan yang ditimbulkan lebih kuat.

Tahukah anda bahwa warna-warni sangat mempengaruhi pemahaman dan ingatan kita ketika kita belajar. Sebagaimana kita temukan sebagian besar majalah berwarna penuh (fullcolor) lebih gampang dicerna dan cepat laris (menarik) daripada tabloid atau surat kabar yang hanya sebagian berwarna penuh atau hanya warna hitam dan putih.

Dulunya buku atau materi didik lebih lebih banyak didominasi warna hitam pada goresan pena dan gambar dan putih sebagai warna dasar. Jika pun berwarna ialah media dasarnya saja menyerupai kertas yang sudah berwarna. Sekarang ini sudah banyak inovasi dan pengembangan untuk menghasilkan media dan sumber berguru (buku dan sejenisnya) menjadi lebih menarik. Salah satunya ialah dengan menciptakan bahan-bahan didik memakai warna-warni di sebagian besar halamannya.

Untuk memperdalam dilema warna ini, ada baiknya kita mengenal apa itu warna terlebih dahulu. Warna (Color) ialah spektrum bias cahaya yang diterjemahkan oleh mata. Setiap warna mempunyai dimensi yang berbeda sehingga mata insan sanggup melihat perbedaan antara tiap-tiap jenisnya. Karena warna mensugesti penglihatan mata, maka warna membawa efek kepada pembelajaran yang bersifat visual (penglihatan).

Pengaruh warna pada proses berguru akan banyak membawa dampak yang lebih terkait dengan faktor psikologis (kejiwaan) seseorang. Secara garis besar efek warna memperlihatkan rangsangan ke arah positif. Beberapa efek yang saling berkaitan sanggup kita sebutkan disini di antaranya adalah

1. Daya Tarik (Interest)

Setiap warna memilik daya tarik tersendiri dan setiap orang menyukai warna sampai mereka punya warna kesukaan (favorit) baginya. Ada yang lebih tertarik dengan warna cerah (merah, kuning, biru, hijau, jingga, putih) namun ada pula yang tertarik dengan warna agak gelap dan gelap (hitam, coklat, abu-abu, biru malam, hijau lumut, dll).

2. Perhatian (Fokus)

Warna sanggup menciptakan mata kita terfokus pada potongan tertentu. Pertama kali dilihat oleh mata ialah potongan warna yang menonjol dan tampak perbedaan yang paling jelas. Jika suatu potongan berwarna lebih banyak didominasi (khas) dan potongan lain mempunyai warna yang rata-rata, perhatian yang tertuju ketika pertama kali memandangnya ialah pada potongan yang berwarna khas kemudian mata memindai potongan yang lainnya.

3. Pembedaan (Difference)

Warna memperlihatkan kesan pembeda antara satu potongan dengan potongan yang lainnya. Mencoloknya perbedaan tidak mesti lantaran kecerahan dan kontas warna itu sendiri saja, tapi juga bergantung pada tersebut pencahayaan dari kondisi sekitar. Semakin berpengaruh dimensi warnanya maka akan semakin nampak pula perbedaannya.

4. Pengingatan (Memorize)

Menonjolnya potongan dengan warna yang dominan memperlihatkan imbas kepada otak melewati penglihatan mata dan disimpan lebih kuat potongan yang menonjol tersebut. Warna yang menonjol dari potongan lain mendapat kesan berpengaruh sampai disimpan dan diletakkan pada bagian prioritas memori di otak. Sehingga untuk mengingat potongan yang warnanya menonjol tersebut menjadi lebih mudah.
Di lingkungan sekitar kita aneka macam terdapat  √ Pengaruh Warna pada Pembelajaran
Diagram Warna
Untuk mengenal warna secara umum, mari kita bahas mengenai kategori warna. Kategori warna yang dibagi menjadi beberapa jenis :
Di lingkungan sekitar kita aneka macam terdapat  √ Pengaruh Warna pada Pembelajaran
Kategori Warna
  1. Warna Netral
    Warna netral ialah warna yang menjadi dasar dari dimensi dalam warna. Yang termasuk ke dalam warna netral ialah warna Hitam (Black) dan warna Putih (White). Warna hitam putih ini mensugesti adanya tingkat kecerahan dan kontras dari warna. Jika warna hitam lebih tebal, imbas yang dihasilkan dari warna ialah gelap. Dan jikalau warna putih yang lebih tebal, imbas yang dihasilkan ialah terang.
  2. Warna Primer (Utama)
    Warna primer terdiri dari warna merah (Red), warna kuning (Yellow) dan warna biru (Blue). Dalam teori warna tradisional (digunakan dalam cat dan pigmen), warna primer ialah 3 warna pigmen yang tidak sanggup dicampur atau dibuat oleh kombinasi dari warna lain. Semua warna lain berasal dari 3 warna tersebut.
  3. Warna Sekunder (Turunan)
    Warna sekunder ialah warna yang diturunkan dari warna primer atau yang dibuat oleh pencampuran warna primer. Warna sekunder: hijau, oranye dan ungu.
  4. Warna Tersier (Campuran)
    Warna tersier adalah percampuran antar warna primer dengan warna sekunder sehingga menghasilkan warna baru. Ini ialah warna yang dibuat dengan mencampur primer dan warna sekunder. Itu sebabnya hue ialah nama dua kata, menyerupai biru-hijau, merah-ungu, dan kuning-oranye. Warna Tersier yaitu Kuning-oranye, merah-oranye, merah-ungu, biru-ungu, biru-hijau & kuning-hijau.

Sumber http://menofschool.blogspot.com

Saturday, March 31, 2018

√ Latihan Kreatif Kemampuan Menulis

Menulis merupakan salah satu kemampuan dalam berbahasa. Menulis menitik beratkan pada pengolahan kemampuan motorik halus. Sebelum siswa diajarkan menulis, guru mesti memperhatikan dan memilih bahwa kemampuan motoiriknya sudah berjalan dengan baik. Kemampuan motorik meliputi pada bagaimana ia memfungsikan bab tangan yaitu jari dan lengan. Guru bisa menilai siswanya apakah ia memang mempunyai kemampuan motorik normal atau mempunyai cacat fisik bab tangan.
Mari Menulis Dengan Kreatif
Selain kemampuan motorik itu pula, guru perlu memperhatikan apakah kemampuan koordinasinya berjalan dengan baik atau belum. Kemampuan koordinasi tersebut meliputi bagaimana gerakan mata dan tangan sanggup sejalan. Ini bisa dilihat dari cara siswa menulis huruf-huruf atau dengan melaksanakan tes kemampuan motorik dan koordinasi.

Jika belum, maka yang perlu dilakukan oleh guru yaitu melatih kemampuan motorik halusnya terlebih dahulu. Jangan buru-buru mengajarinya menuliskan karakter atau angka, tetapi ajarkan siswa untuk terbiasa memegang alat tulis terlebih dulu. Atau ajarkan ia untuk terampil memakai otot-otot halusnya. Hal itu juga mempunyai kegunaan untuk melatih kemampuan motorik tangannya ketika memegang alat tulis.

Ada banyak cara untuk melatih kemampuan motorik halusnya, misalkan dengan :
  • Menggunting gambar-gambar yang ada di majalah bekas.
  • Melengkapi atau menggunting mengikuti outline dari sebuah gambar yang sederhana dengan ukuran yang agak besar. Misalkan bentuk segitiga, kotak, atau lingkaran.
  • Memisahkan butiran kacang hijau atau kacang kedelai dan memasukkan ke daerah yang sudah disiapkan.
  • Sebelum mengajarinya menuliskan karakter dan angka. Ajari terlebih dahulu bentuk-bentuk dasar geometris. Seperti garis lurus, garis vertikal, horizontal, garis lengkung, lingkaran, dsb. Cara sederhana, buatlah dua buah titik dengan jarak yang agak berjauhan kemudian mintalah untuk menghubungkannya. Saat siswa menghubungkan kedua buah titik tersebut, guru bisa sambil bercerita bila titik yang pertama yaitu sebuah stasiun kereta dan titik yang lain yaitu suatu tempat, X misalnya. Dan si kecil diminta menjalankan kereta dari 'stasiun' ke 'tempat X' tadi.
  • Setelah bisa menghubungkan titik secara horizontal, ajak dan ajarkan untuk menghubungkan kedua titik secara vertikal, kemudian diagonal.
  • Gunakan alat tulis yang gampang digunakan. Pensil berbentuk segitiga dengan permukaan yang bernafsu ibarat pada gambar juga bisa menjadi pilihan untuk memudahkannya berguru memakai pensil.
  • Siapkan pensil warna, crayon, spidol, dan mainan lainnya ketika berguru bersama dengan siswa. Biarkan ia bereksplorasi dengan aneka warna dan bentuk. Biarkan ia mencoret-coret di atas kertas sesuka hatinya.
  • Selalu lihat dan hargai proses belajarnya. Yang terpenting bukanlah hasil, tetapi membangun ketertarikan anak didik ketika berhadapan dengan alat tulis dan hasil karyanya sendiri. Berikan perhatian dan kebanggaan ketika anak berhasil melaksanakan apa yang kita ajarkan, atau bahkan yang berhasil dibuatnya sendiri tanpa seruan atau suruhan orangtuanya.
Setelah siswa kita mempunyai kemampuan motorik dan koordinasi yang baik, selanjutnya barulah latihan menulis.

A. Menulis Huruf dan Tanda Baca

Latihan yang pertama dalam menulis yaitu siswa bisa mengidentifikasi huruf, tanda baca dan simbol bacaan dan menuliskannya dengan benar. Siswa perlu diajarkan bagaimana menulis karakter dan membedakannya antara satu dengan yang lain dan antara karakter kapital dan karakter kecil.
Ajaklah siswa kita untuk menulis huruf, tanda baca dan simbol secara teratur dan pertama-tama menulisnya dengan terpisah. Guru sanggup mengajarkan menulis sering salah satu karakter secara teratur kemudian barulah berganti ke karakter yang lain.

B. Menulis Kata

Setelah siswa dianggap andal dalam menulis huruf, tanda baca dan simbol. Barulah berpindah kelatihan menghubungkan karakter dan membuatnya menjadi kata. Pertama ajarkan menulis kata tunggal karakter terpisah, kemudian kata tunggal dengan penggunaan kombinasi karakter kapital dan kecil. Setelah itu ajaklah latihan menulis berkait / bersambung. Ketika siswa sudah lancar dalam latihan di atas, kemudian dilanjutkan latihan menulis frase.

C. Menulis Kalimat

Apabila siswa bisa menulis kata, latihan berikunya yaitu mencontoh goresan pena dari kalimat-kalimat pendek dilanjutkan menulis kalimat yang agak panjang sampai yang panjang. Setelah mereka pandai mencontoh, kemudian beralih ke latihan menciptakan sendiri kalimat.

D. Menulis Paragraf

Latihan terakhir dari bab ini yaitu menulis paragraf. Latihan menulis paragraf bisa bermacam-macam. Kadang latihan menulis paragraf yang bisa kita temui dalam pembelajaran yaitu menciptakan cerita, puisi, artikel, resume dan lain-lainnya.

Terima kasih sudah membaca, agar bermanfaat.
Sumber http://menofschool.blogspot.com

Friday, March 30, 2018

√ Latihan Kreatif Kemampuan Mendengarkan

Setiap orang mempunyai kemampuan mendengarkan. Namun kemampuan yang ada tersebut memiliki keterbatasan masing-masing. Selama beliau masih mempunyai kemampuan mendengar (tidak tuli), ia masih mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan menjadi lebih baik. Sama hal nya dengan kemampuan berbahasa yang lain, mengembangan kemampuan tersebut memerlukan proses dan waktu. Lama tidaknya seorang meningkatkan kemampuan mendengarkan bisa dipengaruhi oleh banyak, efektif dan efisiennya latihan mendengar yang dilakukannya.
Melatih Pendengaran
Karena kemampuan mendengarkan berkaitan dengan fungsi pendengaran (telinga), maka latihannya pun akan mengarah kepada penggunaan alat dengar tersebut. Perlu diketahui untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan, perlu kita mengenal batasan kemampuan alat dengar yang kita miliki tersebut.

Pada proses pembelajaran, pengembangan kemampuan mendengar siswa dipengaruhi oleh sumber bunyi (suara guru atau sumber bunyi lainnya) dan kepekaan pendengaran siswa. Untuk menganlisa itu perlu kita lakukan teknik pengukuran kemampuan mendengarkan. Pengukuran yang dilakukan antara lain bisa :
  1. Mengukur Kejelasan dan Volume Sumber Suara
    Sumber bunyi merupakan termasuk hal penting dalam peningkatan kemampuan pendengaran. Apabila di dalam proses belajar-mengajar sumber bunyi yakni bunyi guru, maka guru mesti menyesuaikan dan mengontrol volume bunyi dan kejelasan dalam pengucapan. Suara guru tidak mesti nyaring, namun cukup bisa didengar oleh siswa yang paling jauh dari guru.

    Apabila sumber bunyi berasal dari alat pengeras (speaker), maka kontrol volume sangat perlu diperhatikan terlebih lagi pengeras bunyi tersebut hanya bersumber pada satu arah (umumnya meletakkan di depan ruangan). Pengeras bunyi bisa mengganggu pendengaran siswa jika yang terdekat merasa terlalu keras dan bab terjauh tidak mendengar (tidak terang didengar) dari daerah mereka berada.

    Alat pengeras bunyi sama halnya bunyi eksklusif dari guru juga mempunyai keterbatas. Dengan mengetahui keterbatasan sumber tersebut, guru bisa membijaksanainya dalam mempergunakan sumber suara.
  2. Mengukur Daya Tangkap dan Kejelasan Pendengaran Siswa.
    Hal yang kedua yakni dengan mengukur daya tangkap pendengaran para siswa. Salah satu caranya yakni dengan menanyakan kejelasan penangkapan sumber bunyi dari posisi dimana siswa itu berada.

    Dalam kenyataannya, bunyi setiap guru mempunyai abjad yang bermacam-macam. Ada yang dengan gampang guru memakai bunyi yang bisa didengar siswanya dari jarak yang terjauh. Akan tetapi ada pula abjad bunyi guru yang susah untuk didengar siswa walaupun sudah berada dibagian terdekat.

    Untuk mensiasati hal tersebut, guru bisa melaksanakan teknik penyampaian dengan arah yang bervariasi. Bisa ketika memberikan berada didepan, bisa berada di bab tengah kelas ataupun belakang kelas. Apabila guru lebih banyak memberikan bahan / isyarat dari bab depan, maka untuk bisa ditangkap apa yang disampaikan, guru merubah posisi duduk siswa dengan meletakkan siswa yang pendengarannya susah menangkap kejelasan bunyi pada bab bersahabat guru dan meletakkan siswa yang mempunyai kemampuan dan perhatian anggun bab belakang. Pemposisian duduk siswa juga akan bermanfaat untuk meningkatkan perhatian para siswa terhadap penyampaian bahan pembelajaran.

    Setelah guru sanggup mengukur kemampuan atau batasan pendengaran para siswa, guru sanggup melaksanakan latihan-latihan umum untuk pengembangan kemampuan mendengarkan ibarat yang berikut ini :
    1. Diamlah Untuk Beberapa Saat.
      Latihan yang pertama yakni meminta siswa untuk damai sejenak. Dengan suasana diam, guru dan siswa menjadi lebih sensitif terhadap suara-suara yang muncul disekitar. Ketenangan ketika membisu berarti tidak menyebabkan suara-suara yang sanggup mengganggu sehingga guru dan siswa bisa memusatkan pikiran pada suara-suara tertentu atau yang ditentukan.-Keadaan dimana terjadi keributan dan kegaduhan menciptakan kemampuan mendengarkan menjadi terganggu. Sehingga daya konsentrasi siswa ataupun guru menjadi terpecah oleh perhatian lain.

      Untuk itulah guru dilatih kesabaran untuk membiasakan siswanya supaya bisa mengendalikan diri. Memberi kesempatan untuk membisu dan memberi kesempatan untuk bersuara. Dengan kata lain para siswa bisa mengatur emosi mereka di dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi tantangan besar bagi guru yang menawarkan pembelajaran pada tingkat usia anak didik Sekolah Dasar dan Lanjutan Pertama dimana sebagian besar yang guru hadapi yakni psikologi keramaian dan kecerian yang labil dari para siswa.
    2. Mendengarkan Beberapa Suara.
      Latihan mendengarkan berikut yakni mendengarkan beberapa suara. Pada latihan mendengarkan beberapa suara, buat dan ajaklah siswa mendengarkan salah satu dari beberapa suara. Dengan ini, siswa akan terlatih untuk menyeleksi perhatian mereka pada suara-suara tertentu ketika keadaan muncul banyak suara.

      Buatlah bunyi atau temukan suara-suara disekitar kita yang menarik untuk didengarkan, kemudian tanyakan kepada siswa yang mereka sanggup tangkap dari bunyi tersebut. Melatih mendengarkan beberapa bunyi tidak mesti yang didengarkan yakni kata atau kalimat. Bisa saja siswa dilatih mendengar bunyi suara lain. Dengan seringnya latihan ini, kita dan juga siswa bisa meningkatkan kesensitifan pendengaran dan juga konsentrasi dengan pemberian gangguan / pengecoh dari bunyi lain (distruction).
    3. Menikmati Suara-Suara yang Anda Tidak Suka.
      Latihan mendengarkan berikut merupakan latihan lanjutan, alasannya mempunyai tantangan lebih berat. Kebanyakan orang mendengarkan apa yang mereka sukai untuk didengarkan. Mereka akan mengacuhkan perhatian dari suara-suara yang tidak disenangi kepada bunyi yang nyaman didengar.

      Kesukaan seseorang terhadap bunyi dipengaruhi oleh subjektifitas dan kebiasaan seseorang. Misalnya bagi siswa, guru yang memberikan dengan lantang dan bersemangat itu disukai. Namun siswa yang lain lebih menyukai guru yang memberikan dengan tutur perlahan dan lembut. Contoh lain diluar kelas. Kebisingan pasar bisa dianggap bunyi yang mengganggu, tapi bisa pula dianggap sebagai keramaian yang menyenangkan.

      Dalam pembelajaran, buatlah latihan mendengarkan yang disenangi dan ajaklah siswa untuk menikmati bunyi yang tidak disenangi. Karena ada suara-suara yang disenangi dan ada bunyi yang tidak disenangi, maka cobalah untuk menikmatinya alasannya dimana yang tidak disenangi tersebut juga menyimpan keunikan dan kesenangan yang tidak eksklusif dinikmati.
    4. Mengubah Posisi Mendengarkan Anda.
      Peningkatan kemampuan mendengarkan sanggup dilatih dengan menentukan posisi yang tepat dan sesekali merubahnya ke posisi yang lain. Ini akan menawarkan pengalaman kita untuk mengetahui bagaimana posisi yang baik untuk mendengarkan. Secara tidak eksklusif hal ini mempunyai kegunaan untuk mengukur daya tangkap pendengaran.

      Pemposisian ini layaknya meletakan antena akseptor sinyal gelombang radio. Posisi yang sempurna besar kemungkinan kita atau siswa kita bisa mendapatkan dengan baik sinyal dari sumbernya (sumber suara).-Posisi juga sanggup mengukur bab indera pendengaran sebelah mana yang mempunyai daya tangkap lebih kuat. Namun untuk memaksimalkan daya tangkap tetap perlu mempergunakan kelebiihan dari dua bab alat pendengaran.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.
Sumber http://menofschool.blogspot.com