Tuesday, April 10, 2018

√ Zona Supratidal Sebagai Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat

Pengertian Zona Supratidal

Tempat terbentuknya suatu sistem karbonat atau yang lebih dikenal sebagai lingkungan pengendapan karbonat, meliputi beberapa bab dari suatu bahari dangkal. Salah satu zona dari bahari dangkal tersebut kita kenal dengan sebutan zona supratidal. Zona (daerah) supratidal adalah zona yang terletak di atas garis pasang tertinggi yang sanggup mempunyai lebar sampai beberapa kilometer dengan bentuk morfologinya yang bergelombang. Daerah ini sangat dipengaruhi oleh iklim, paling utama yakni hujan.


Gambar zona supratidal (sumber:oz.coast govdotau).

Supratidal dan Lingkungan Pengendapan Karbonat

Suatu wilayah yang mempunyai demam isu hujan dan demam isu panas, dengan curah hujan yang tinggi, akan membentuk beberapa sub-sistem lingkungan pengendapan. Endapan evaporit yang sering terbentuk pada demam isu kemarau biasanya akan segera dikikis air hujan pada dikala demam isu hujan.

Di pinggiran pantai, rawa-rawa dengan bagian-bagian lekukannya yang khas akan terisi oleh air tawar atau air payau yang bersifat sementara (perenial). Di permukaan dasarnya biasanya akan tumbuh ganggang hijau-biru yang menjadi makanan beberapa jenis gastropoda dalam jumlah yang banyak. Selain gastropoda, pada zona ini biasa tumbuh kerak ganggang di atas lumpur karbonat dan lanau dengan lapisan yang tipis. Sedimen yang dibuat oleh gelombang pasang dan angin puting-beliung di kawasan pinggiran sering ditembus oleh akar-akar rumput dan bakau, juga aneka macam jenis cacing dan kepiting-darat.

Sering terbentuk rongga-rongga kecil dalam lapisan sedimen yang diakibatkan oleh akumulasi gas hasil pembusukan material organik. Saat sedimen tersebut mengalami kompaksi, rongga-rongga tersebut ikut pula terawetkan sehingga membentuk struktur yang dikenal dengan istilah struktur mata-burung (birdseye: Shinn, 1968). Angin pada zona supratidal sering bertiup cukup kencang, sehingga sanggup mengangkut butiran pasir dan cangkang-cangkang dari kerang-laut ke wilayah daratan.


Di wilayah dengan iklim kering, batuan evaporit yang terbentuk di zona supratidal pada umumnya tidak mendukung kehidupan. Lumpur karbonat yang berlapis tipis dan berongga, biasanya hanya mengandung mineral gipsum dan anhidrit. Kolam-kolam kecil yang merupakan akumulasi air bahari akandibawa oleh gelombang pasang di atas lapisan evaporit. Setelah mengalami pemanasan akumulasi air bahari tersebut akan menghasilkan endapan halit.

Penyebaran dari sebuah endapan evaporit sangat dipengaruhi oleh angin, sedangkan derajat penguapan yang tinggi merupakan pengontrol yang menyebabkan air bahari sanggup terbawa ke atas lapisan sedimen yang ada di kawasan rawa-rawa di wilayah beriklim kering. Hal inilah yang menyebabkan lingkungan tersebut merupakan tempat penggantian mineral aragonit oleh dolomit pada awal diagenesa (Shinn dkk., 1965).

Sumber http://www.geologinesia.com