Showing posts with label Pelajaran Umum. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran Umum. Show all posts

Monday, May 27, 2019

√ 19 Pola Kalimat Deskripsi Ihwal Alam Dalam Bahasa Indonesia

Kalimat deskripsi merupakan salah satu di antara jenis-jenis kalimat yang ada selain kalimat inti, kalimat imperatif, kalimat deklaratif, kalimat interogatif, kalimat pasif, dan kalimat tidak langsung. Kalimat deskripsi sendiri merupakan sebuah kalimat yang berisi penggambaran suatu hal ataupun objek. Adapun hal atau objek yang dideskripsikan oleh kalimat ini bisa apa saja, tidak terkecuali alam. Pada artikel kali ini, kita akan mengetahui menyerupai apa bentuk kalimat deskripsi yang bertemakan perihal alam. Adapun beberapa pola kalimat deskripsi tersebut ialah sebagai berikut!



  1. Langit pagi ini begitu cerah dengan warnanya yang kebiruan, awan berwarna putih yang mengitarinya, dan sinar mentari yang sinarnya begitu cerah dan menghangatkan.

  2. Awan siang ini kian bergulung dan menghitam, serta mengandung petir yang menyambar sejak tadi.

  3. Langit di sore itu sekarang berwarna jingga, dan disekelilingnya terdapat awan yang mulai menghitam, dan juga burung camar yang beterbangan di sekitarnya.

  4. Di hutan itu, pohon-pohon berbatang tegak dan berdaun hijau bangun berjajar di tiap sudut hutan.

  5. Pantai itu memiliki pasir yang berwarna putih halus di sepanjang pantai, dan memiliki beberapa pohon kelapa yang bangun tegak dan memiliki buah yang warnanya masih kehijauan.

  6. Laut yang berwarna biru itu memiliki air yang jernih, sehingga kita bisa melihat sekelompok ikan yang berenang, serta formasi terumbu karang di dalamnya.

  7. Siang itu, langit mulai diselimuti awan hitam yang mengeluarkan petir yang menggelegar, dan butiran hujan yang merinai ke permukaan bumi.

  8. Bukit itu memiliki hamparan rumput yang luas yang bertumbuh di permukaan tanah di sekitar bukit, dan juga di permukaan bukit tersebut.

  9. Sepanjang mata memandang, rumput-rumput berwarna hijau cerah terbentang luas di sepanjang pada savana itu.

  10. Tak hanya rumput, pepohonan tinggi menjulang dan berdaun hijau juga ada di padang savana tersebut.

  11. Pasir cokelat dan halus dan barisan pohon kurma yang pelahan terlihat di kejauhan ialah pemandangan khas yang lazim kita lihat di padang pasir.

  12. Pagi ini, kabut tengah menyelimuti perbukitan, dan embun-embun kecil pun tengah terduduk di ujung dedaunan.

  13. Di puncak gunung itu, saya bisa melihat langit biru yang terbentang luas dan tertutupi oleh awan putih tebal yang berjalan dengan pelan di depannya.

  14. Selain sanggup melihat langit, saya juga bisa melihat pegunungan-pegunungan lain yang menyembulkan asap dari kawahnya.

  15. Di dalam hutan itu, saya sanggup mendengar bunyi burung bersahutan dengan bunyi kera, dan saya juga sanggup melihat kera-kera yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya.

  16. Selain melihat kera, saya juga melihat beberapa burung-burung beterbangan di atas hutan ini.

  17. Saat saya menyelam di maritim itu, saya berjumpa dengan segerombol ikan kecil yang berenang dan juga beberapa ekor ikan pari yang berenang dan mendekati kami.

  18. Tak hanya segerombol ikan, di daasr maritim ini saya juga bisa melihat hamparan terumbu karang yang disebaliknya terdapat beberapa ekor ikan kecil yang sedang bersembunyi.

  19. Air terjun itu memiliki tinggi sekitar 10 meter, memiliki air yang jernih, dan memiliki bunyi khas gerojokan yang begitu bedebur di telinga.


Demikianlah beberapa pola kalimat deskripsi perihal pantai dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai kalimat deskripsi maupun bahasa Indonesia. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Wednesday, December 26, 2018

√ 24 Pola Kata Keterangan Tujuan Dalam Kalimat Bahasa Indonesia

Salah satu diantara jenis-jenis kata keterangan yang ada ialah kata keterangan tujuan. Kata ini merupakan kata yang menandakan tujuan atau motif dilakukannya suatu perbuatan. Kata ini sendiri terdiri atas beberapa bentuk, yaitu: agar, untuk, dan juga supaya. Pada artikel kali ini, kita akan mengetahui menyerupai apa tumpuan pemakaian kata keterangan ini dalam format kalimat. Adapun beberapa tumpuan tersebut ialah sebagai berikut!



  1. Andi sengaja berangkat sekolah lebih pagi agar dia tidak terlambat ketika hingga di sekolah.

  2. Adik sengaja menyisihkan sebagian uang sakunya agar dia bisa berguru menabung dengan baik.

  3. Supaya lebih nikmat, nasi goreng bisa kita tambah dengan sejumlah materi lainnya, menyerupai sosis, bakso, ataupun kornet.

  4. Bawalah payung ketika bepergian ke mana pun supaya dirimu tidak berair kuyup ketika turun hujan deras.

  5. Pak Burhan sengaja menyisihkan sebagian gajinya untuk dia sumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu.

  6. Kegiatan kerja bakti itu dilakukan untuk membiasakan kebiasaan bahu-membahu diantara warga kompleks tersebut.

  7. Pak guru sengaja mengajak kami berguru di luar kelas agar kami tidak jenuh belajar.

  8. Dwi menentukan kelas karyawan supaya dia bisa berkuliah sambil bekerja.

  9. Mita sengaja menentukan profesi pekerja lepas supaya dia bisa bekerja sambil mengurus anak-anaknya di rumah.

  10. Pak Burhan sengaja menyekolahkan anaknya ke pesantren supaya anak semata wayangnya itu bisa lebih mendalami ilmu agama.

  11. Pak Anwar sengaja merasiakan penyakit yang dideritanya supaya keluarganya tidak mengkhawatirkan kesehatan dirinya.

  12. Semua perhiasannya ia jual supaya dia bisa membayar semua utang-utangnya.

  13. Acara seminar itu diadakan untuk memberikan wawasan gres kepada masyarakat mengenai perkembangan industri kreatif ketika ini.

  14. Gofar menentukan magang sehabis lulus kuliah untuk memperkaya pengalamannya sebelum benar-benar terjun ke bidang pekerjaan yang sesungguhnya.

  15. Pak Jajang bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

  16. Pak Apip mewakafkan sebidang tanah miliknya untuk dibangun sebuah masjid di atasnya.

  17. Area itu hanya ditujukan khusus untuk anak-anak berusia dibawah tujuh tahun.

  18. Dokumen-dokumen berharga tersebut sengaja disimpan di kawasan rahasia supaya tidak sanggup dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

  19. Besok, Pak Andi akan ke Yogyakarta dalam rangka untuk bertemu dengan salah satu kliennya yang ada di sana.

  20. Pak Tora sengaja pulang kerja lebih cepat agar ia sanggup menemani istrinya yang tengah sakit keras.

  21. Pak guru selalu berpesan kepada kami supaya tetap rajin berguru setiap waktu.

  22. Kita mesti berolahraga secara rutin supaya badan kita sehat dan bugar.

  23. Pemberian ice breaking dilakukan supaya para penerima tidak jenuh selama mengikuti program tersebut.

  24. Pria paruh baya itu mesti dirawat di rumah sakit dalam waktu lama untuk menyembuhkan penyakit kronis yang dideritanya.


Demikianlah beberapa tumpuan kata keterangan tujuan dalam kalimat bahasa Indonesia. Untuk mengetahui beberapa tumpuan kata keterangan serta beberapa jenis kata lainnya, pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh kata keterangan tempat, contoh kata keterangan waktu, contoh kata sandang jamak, contoh kata benda abnormal dalam bahasa Indonesia, contoh kata benda nyata dalam bahasa Indonesia, serta artikel contoh kata sifat turunan. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai kata keterangan pad akhususnya, maupun mengenai materi pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian danjuga terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Thursday, December 6, 2018

√ Rujukan Novel Beserta Sinopsisnya Dalam Bahasa Indonesia

Sebelumnya, kita telah mengetahui menyerupai apa teladan sebuah novel yang ditampilkan secara singkat. Kali ini, kita juga akan mengetahui teladan sebuah novel secara singkat. Contoh novelnya pun sama dengan yang pernah ditampilkan di artikel sebelumnya, yaitu novel”Para Priyayi” (terutama pada pecahan “Lantip”) karya Umar Kayam. Hanya saja, di artikel ini, teladan novel tersebut akan ditampilkan jauh lebih singkat dan juga disertai dengan sinopsis dari novel tersebut. Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut teladan novel beserta sinopsisnya dalam bahasa Indonesia.


Para Priyayi


Karya: Umar Kayam


(Sebagian) Isi Novel*:


Nama saya Lantip. Ah, tidak. Nama saya yang orisinil sangatlah dusun–ndeso–Wage. Menurut embok (ibu) saya, nama itu diberikan alasannya saya dilahirkan pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu saya dapatkan kemudian waktu saya mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono, di Jalan Setenan, kota Wanagalih. Sebelumnya, saya tinggal bersama emboksaya di Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer saja dari kota Wanagalih. Menurut cerita, Desa Wanalawas itu yaitu desa cikal bakal kota Wanagalih, terutama ketika Mataram melihat daerah ini sebagai wilayah yang strategis. Madiun diperintahkan oleh Mataram untuk membuatkan daerah itu menjadi daerah yang ramai. Maka bedol desa atau pemindahan desa pun diperintahkan oleh Mataram untuk mengisi daerah tersebut, di mana desa Wanalawas yaitu salah satu desa yang dijebol untuk menjadi pecahan Wanagalih.


…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….


Selain bersawah, keluarga moyang saya yaitu juga keluarga pembuat tempe. Ayah saya… wah, saya tidak ingat pernah mengenalnya. Embok selalu menyampaikan ayah saya pergi jauh untuk mencari duit. Hanya bertahun-tahun kemudian pada waktu saya sudah menjadi pecahan dari rumah tangga Sastrodarsono, saya sedikit menerima bayangan siapa ayah saya sewaktu saya sering kena hardik embah guru kakung (kakek). Meskipun orangnya baik dan adil, embah guru kakung juga keras dan kalau murka suka membentak sembari misuh (mengumpat)….


………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


Sinopsisnya**:


Berawal dari keluarga buruh tani, Soedarsono, oleh orangtua dan sanak saudaranya diperlukan sanggup menjadi sang “pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan dari ajun wedana Ndoro Seteng, ia bisa sekolah dan kemudian jadi guru desa. Dari sinilah ia memasuki dunia elit birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya, melewati zaman Belanda dan zaman Jepang, tumbuh sebagai guru, opsir Peta, dan istri ajun wedana. Cita-cita keluarganya berhasil.


Benarkah? Lalu apakah bekerjsama “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elit birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya? cucu-cucu Soedarsono sendiri kemudian hidup sebagai anak zaman mereka: menjadi anak menjadi anak kelas menengah birokrat yang manja, idealis kiri yang terlibat Gestapu, dan entah apa lagi. Justru Lantip–anak jadah dari keponakan jauh Soedarsono–yang tampil sebagai hero. Dialah yang dengan caranya sendiri, menawarkan makna “priyayi” dan “kepriyayian” itu.


Demikianlah teladan novel beserta sinopsisnya dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin menambah acuan soal novel dan prosa, pembaca bisa membuka artikel berikut, yaitu: jenis-jenis novel, contoh novel terjemahan, contoh resensi buku novel, contoh sinopsis novel, jenis-jenis prosa lama, jenis-jenis prosa baru, dan jenis-jenis prosa fiksi. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan para pembaca sekalian, baik mengenai novel maupun bahasa Indonesia. Sekian dan juga terima kasih.


*Disadur dari artikel contoh novel singkat dengan sedikit perubahan.


**Disadur dari sampul belakang novel “Para Priyayi.”



Sumber https://dosenbahasa.com

Saturday, May 26, 2018

√ Teks Ulasan Dalam Bahasa Indonesia – Pengertian, Ciri, Struktur Dan Contohnya


Ketika kita membaca surat kabar, majalah atau bahkan membaca di internet, kita kerap menemui bermacam-macam teks ulasan yang mengulas mengenai buku, film, lagu, atau karya sastra lainnya. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), teks ulasan merupakan sebuah teks yang dihasilkan dari sebuah analisis terhadap banyak sekali hal. Analisis itu sanggup berbentuk buku, novel, berita, laporan, atau dongeng. Teks tersebut memperlihatkan jawaban atau analisis yang bekerjasama dengan latar, waktu, tempat, serta abjad yang ada di dalam teks tersebut.





Pengertian





Teks ulasan dalam Bahasa Indonesia ialah suatu teks yang berisi pembahasan ataupun penilaian terhadap suatu buku atau karya-karya lain dan ditujukan untuk kepentingan orang lain. Teks ulasan disusun berdasarkan tafsiran maupun pemahaman atas isi buku yang dibaca. Hasil pemahaman tersebut kemudian disampaikan kepada khalayak.





Ciri





Sebagaimana teks mekanisme dalam Bahasa Indonesia atau teks lainnya, teks ulasan juga mempunyai ciri atau karakteristik kaidah kebahasaan tertentu. Adapun ciri atau karakteristik kaidah kebahasaan teks ulasan dalam Bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.





  • Menggunakan konjungsi penerang, menyerupai bahwa, yakni, yaitu.
  • Menggunakan konjungsi temporal, menyerupai sejak, semenjak, kemudian, akhirnya.
  • Menggunakan konjungsi penyebab, menyerupai karena, sebab.
  • Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada cuilan selesai teks. Hal ini ditandai dengan kata jangan, harus, hendaknya.
  • Menggunakan kata sifat perilaku menyerupai lembut, nakal, antagonis, teladan, eksotis.
  • Menggunakan kata benda yaitu kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Kata benda tidak sanggup diingkarkan dengan kata tidak.
  • Menggunakan kata kerja yaitu kata yang mengandung makna perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat. Pada umumnya, kata kerja tidak sanggup bergabung dengan kata-kata yang menyatakan kesangatan.
  • Menggunakan metafora yaitu pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.
  • Menggunakan kata rujukan yang merujuk pada partisipan tertentu.
  • Menggunakan kalimat kompleks (kalimat majemuk), baik kalimat beragam setara maupun kalimat beragam bertingkat.




Struktur





Selain mempunyai ciri khusus, teks ulasan pun mempunyai struktur teksnya sendiri. Adapun struktur teks ulasan dalam Bahasa Indonesia meliputi identitas karya, orientasi, sinopsis, analisis, evaluasi, dan rekomendasi.





  • Identitas karya meliputi judul, pengarang, penerbit,
    tahun terbit, tebal halaman, dan ukuran buku. Jika yang diulas ialah film atau
    lagu maka identitas karya yang dimaksud tidak dinyatakan secara langsung.
  • Orientasi berisi citra umum suatu karya
    yang akan diulas menyerupai nama, kegunaan, dan sebagainya. Orientasi biasanya
    tercantum pada paragraf pertama.
  • Sinopsis berupa ringkasan yang menggambarkan
    pemahaman penulis terhadap isi karya yang diulas.
  • Analisis berupa paparan wacana keberadaan unsur-unsur
    cerita menyerupai tema, penokohan, dan alur.
  • Evaluasi berupa paparan wacana kelebihan dan
    kekurangan suatu karya.
  • Rekomendasi berisi saran-saran kepada pembaca.




Contoh





Pada kesempatan yang lalu, kita telah memahami contoh teks ulasan singkat dalam Bahasa Indonesia. Berikut disajikan referensi teks ulasan wacana buku dalam Bahasa Indonesia yang disadur dari Harian Kompas, 28 April 2018.





  Aktifisme Bersajak Penghayat Alam*
  Oleh : Muhammad Khambali
Judul Buku : Kekasih Teluk
Penulis Buku : Saras Dewi
Penerbit : PBP Publishing/PWAG Indonesia
Cetakan : I, Mei 2017
Tebal : 124 halaman

Menyimak sajak demi sajak dalam buku ini mengantar kesenduan Saras Dewi berlagu : Menatap lembayung di langit Bali, dan kusadari betapa berharga kenanganmu. Di kala jiwaku tak terbatas, bebas mafia mengulang waktu. Saras Dewi, melalui “Kekasih Teluk” dan “Lembayung Bali”, lagu lawasnya lima belas tahun silam, mengungkap kegelisahan yang sama. Satu lewat lagu, satu lagi lewat puisi. Ia mengenang sekaligus mencemaskan Bali sebagai kampung halamannya.

Kita akan mendapati romantisisme dalam sajak-sajak Saras Dewi. Buku sajak “Kekasih Teluk” ini diakui Saras Dewi menjadi semacam ucapan terima kasihnya kepada Teluk Benoa, Bali. Saras Dewi lahir di Denpasar, kemudian meninggalkan Bali dan mengajar filsafat di Universitas Indonesia. Semenjak mengajar, Saras Dewi mengeluhkan hidupnya laksana mesin filsafat yang sehari-hari dihabiskan untuk membangun argumen kokoh dan logis.

Rasa puitiknya terenggut, digantikan kebisingan kota yang menuntut rutinitas dan kemonotonan. Bagi Saras Dewi, “Hari-hari saya bersama Teluk Benoa ialah keintiman yang mengisi jiwa dengan harapan. Ia memperbaharui hidup saya, menyambung kembali cinta yang sempat tercerai dengan kampong halaman.”

Menjadi seorang akademisi tidak membikin Saras Dewi berjarak dengan Bali ataupun laris aktivisme. Saras Dewi ialah seorang intelektual yang merasa tidak munkin berdiam diri saja di rumah ilmu, yakni universitas. Saras Dewi tidak ingin menyerupai jamaknya intelektual di Indonesia yang nyaman berada di menara gading dalam balutan gelar, martabat, ataupun pekerjaan akademik.

Setidaknya sajak “Rumah Ilmu” menandaskan itu. Meski pengetahuan disebutnya memperlihatkan bilik ruang yang nyaman diselimuti buku-buku, tidak terlibat terhadap “untaian kesengsaraan”, berdasarkan dia, menjadi wujud kejahatan. Sosok intelektual yang rendah hati juga begitu berpengaruh dalam sajak “Takut”. Saras Dewi merasa pikiran merintangi kebebasannya dan “pengetahuan tidak menyelamatkanku” (hlm.31)

Menolak Reklamasi
Kita tahu selama bertahun-tahun terakhir ini Saras Dewi menceburkan dirinya sebagai seorang penggagas lingkungan hidup. Dia aktif dalam gerakan Bali Tolak Reklamasi. Dapat dikatakan sajak-sajaknya dalam “Kekasih Teluk” ini tidak lain ialah sebentuk lisan puitiknya atas laris aktivismenya tersebut. Sajak Dewi bersajak untuk melawan. Sajak-sajaknya menjadi artikulasi penolakannya atas reklamasi Teluk Benoa bahwa ia, “Tidak mau insan menang dalam perkelahian tidak setimbang dengan alam.”

Saras Dewi dalam sajak berjudul “Ibu” tersebut melanjutkan, Sebab bila mereka menang, berarti mereka telah kalah/Karena mereka sejatinya membunuh/Ibunya sendiri. Alam ialah ibu bagi manusia. Manusia lahir dan dibesarkan bersama alam. Dalam sajak tersebut, keserakahan dan arogansi insan pada alam kolam seorang anak yang mendurhakai, bahkan membunuh ibunya. Tidak hanya “ibuisme” dalam melukiskan korelasi mesra antara insan dan alam. Saras Dewi banyak melaksanakan personifikasi alam : nyanyian lumba-lumba,  pancaran mata anjing, laut, gunung, padang lamun, pohon, angin, senja, dan gemericik sungai. Agama manusia, bagi Saras Dewi tertera di dalam guratan batang-batang pepohonan raksasa (hlm 21). Tak pelak, aku-penyair dalam sajak-sajaknya seakan telah menentukan beragama pada alam.

Tidak hanya itu, “kekasih”, sebagai ungkapan metaforisnya pada Teluk Benoa ataupun Sanur, bergelimang dalam setiap sajak-sajaknya. Misalnya dalam baris terakhir sajak “Cinta yang Paling Mulia”, Saras Dewi menulis, Cinta ialah teluk/Dan teluk ialah aku. Joko Pinurbo dalam pengantar buku menyebut larik terakhir dalam sajak itu begitu intim, tak lain ialah penghayatan mengenai korelasi cinta kasih insan dengan alam. Pada alam, insan menemukan citra dirinya, dan dalam dirinya, insan mencicipi arus dan denyut alam (hlm 16).  

Manusia dan alam
Buku puisinya ini juga melengkapi buku Saras Dewi sebelumnya, Ekofenomenologi (2015). Buku tersebut ialah studi filsafat Saras Dewi yang mengurai secara mendalam wacana kesetimbangan antara korelasi insan dan alam. Saras Dewi meminjam pemikiran fenomenologi Martin Heidegger atas kritik terhadap insan yang merasa dirinya ialah subyek dan memperlakukan alam semata sebagai obyek. Eksploitasi yang dilakukan insan mengesampingkan keberadaan alam. Alam hanya dijadikan sebagai alat pemuas kepentingan insan belaka. Kita sanggup menemukan keselarasan pandangan Saras Dewi memandang alam dalam kedua bukunya itu. Dalam Ekofenomenologi, Teluk Benoa bukan sekedar teluk melainkan kupu-kupu, ikan-ikan, terumbu karang, penyu hijau, juga bangau di sana.

Seturut itu, buku puisi Saras Dewi ini menjadi penting untuk mengingatkan kita kembali makna fenomenologis korelasi welas asih antara insan dan alam. Sajak-sajaknya tak hanya romantis, tetapi juga mengisyaratkan kekhawatirannya pada pembangunan di Bali, khususnya reklamasi yang memacak kerusakan alam di Teluk Benoa. Sajak “Kelahiran Anarki” menjadi pengejawantahan atas pendiriannya menolak reklamasi. Saras Dewi bersajak, Anarki lahir dari seorang bocah,/yang menggandeng tangan ayahnya,/berderap tanpa bantalan kaki, meneriakkan “Bali tolak reklamasi”.

Buku sajaknya ini mengesahkan Saras Dewi sebagai intelektual sekaligus penghayat alam. Kecintaan Saras Dewi pada ilmu pengetahuan sama besanya dengan etos dan eros melawan pelbagai bentuk keangkuhan insan pada alam. Selain itu, sajak-sajak yang terhimpun dalam buku puisinya ini juga bermetamorfosis ingatan saras Dewi pada Bali di masa lalu. Sajak menjadi pertaruhan perlawanan sekaligus kenangan pada keluarga, rumah, pura, teluk, pantai, dan pohon-pohon. Saras Dewi berkenang menyerupai dalam sajak berjudul “Delima” :/agar segalanya ada dalam diriku/ terjaga di dalam diriku.








Demikianlah ulasan singkat wacana teks ulasan dalam Bahasa Indonesia terkait dengan pengertian, ciri, struktur, dan contohnya. Artikel lain yang sanggup dibaca di antaranya ialah contoh resensi non fiksi, contoh resensi buku pelajaran, contoh resensi buku cerpen, contoh resensi buku novel, cara menulis resensi buku, cara menulis resensi film, contoh teks diskusi wacana kesehatan, contoh teks laporan hasil observasi wacana alam, contoh teks eksplanasi, dan contoh autobiografi singkat wacana diri sendiri. Semoga bermanfaat. Terima kasih.





*Disadur dari Harian Kompas, 28 April 2018



Sumber https://dosenbahasa.com

Saturday, May 19, 2018

√ Referensi Daftar Riwayat Hidup Dalam Bahasa Indonesia

Setelah menuntut ilmu di SMA/SMK atau Universitas, tentunya kita ingin pribadi memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Caranya yakni dengan melamar pekerjaan baik secara pribadi maupun melalui pos atau daring. Biasanya ketika melamar pekerjaan, kita harus menyiapkan banyak sekali hal yang dibutuhkan ibarat surat lamaran pekerjaan dan banyak sekali dokumen yang diharapkan ibarat fokotopi kartu tanda pengenal, fotokopi ijazah terakhir, fotokopi transkrip nilai, surat keterangan kesehatan, surat keterangan kelakukan baik, pas foto, dan daftar riwayat hidup.


Apakah yang dimaksud dengan daftar riwayat hidup?


Daftar riwayat hidup yakni data pribadi yang berisi catatan seluruh latar belakang kehidupan seseorang, baik pendidikan, pekerjaan, hobi, keluarga, prestasi yang pernah diraih, kesehatan, penghargaan, dan lain-lain. Daftar riwayat hidup juga dimaknai sebagai dokumen tertulis yang berisi intisari data pribadi, riwayat pendidikan, pengalaman kerja, jenis penghargaan yang pernah diraih, jenis prestasi yang pernah dicapai, pengalaman berorganisasi, aktivitas atau pembinaan yang pernah diikuti, keterampilan yang dimiliki atau kemampuan yang dikuasai. Dalam penulisannya kerap diakhiri atau ditutup dengan tanda tangan dan nama terang.


Ketika kita ingin melamar pekerjaan, penulisan daftar riwayat harus diperhatikan dengan baik alasannya yakni tak jarang seseorang gagal diterima bekerja alasannya yakni daftar riwayat hidup yang tidak sesuai dengan cita-cita perusahaan. Misalnya, perusahaan meminta pelamar untuk menulis surat lamaran dan daftar riwayat hidup dalam bahasa asing. Sebagai pelamar harus mengikuti apa yang diinginkan oleh perusahaan. Karena itu, penulisan daftar riwayat hidup harus memperhatikan bahasa yang digunakan.


Untuk daftar riwayat hidup berbahasa Indonesia, bahasa yang dipakai yakni bahasa Indonesia baku yang mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Begitu pula dengan daftar riwayat hidup berbahasa asing, bahasa yang dipakai hendaknya sesuai dengan kaidah ejaan bahasa gila yang berlaku. Baik daftar riwayat hidup berbahasa Indonesia maupun berbahasa gila hendaknya memakai bahasa yang baik dan benar, memakai kata-kata yang sopan, goresan pena bersih, dan gampang dibaca. Untuk itu, kita perlu mengetahui dan memahami tata cara penulisan daftar riwayat hidup yang baik dan benar sekaligus menarik. Selain itu, kita juga perlu memahami banyak sekali unsur yang terdapat dalam daftar riwayat hidup supaya peluang untuk diterima bekerja di perusahaan yang diinginkan menjadi lebih besar.


Unsur-unsur daftar riwayat hidup


Daftar riwayat hidup mempunyai beberapa unsur penting ibarat data pribadi, riwayat pendidikan, pengalaman bekerja, pengalaman berorganisasi, pengalaman dalam banyak sekali kegiatan, seminar, pelatihan, dan kursus yang pernah diikuti, keterampilan atau kemampuan yang dimiliki, dan prestasi yang pernah diraih. Berikut yakni ulasan singkatnya.


1. Data pribadi


Unsur pertama yang terdapat dalam daftar riwayat hidup yakni informasi mengenai data diri yang mencakup nama, daerah dan tanggal lahir, alamat sesuai tanda pengenal atau alamat surat, pendidikan terakhir, alamat surat elektronik, dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Informasi mengenai data pribadi sangat penting guna memudahkan perusahaan menghubungi calon pegawai yang telah dipilih.


2. Riwayat pendidikan


Riwayat pendidikan berisi informasi mengenai jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti. Penulisan riwayat pendidikan biasanya diawali dari pendidikan terendah sampai pendidikan tertinggi. Penulisan riwayat pendidikan hendaknya disertai dengan awal tahun masuk sekolah dan tahun kelulusan serta nilai akademis yang diraih. Untuk lulusan SMA/SMK, beberapa perusahaan mensyaratkan nilai akademis Ujian Nasional baik jumlah keseluruhan mapun atau untuk mata pelajaran tertentu. Sedangkan untuk lulusan perguruan tinggi mensyaratkan Indeks Prestasi Kumulatif. Riwayat pendidikan pelamar sangat penting bagi perusahaan alasannya yakni perusahaan sanggup dengan gampang mengetahui kesesuaian kemampuan akademis dengan kebutuhan perusahaan.


3. Pengalaman bekerja


Unsur daftar riwayat hidup berikutnya yakni pengalaman bekerja. Saat menulis daftar riwayat hidup, hendaknya dicantuman pengalaman bekerja jikalau memang pelamar pernah bekerja sebelumnya. Cara penulisan pengalaman bekerja tidak berbeda dengan cara penulisan riwayat pendidikan yakni jenis pekerjaan yang pernah dilakukan disertai dengan citra pekerjaan dan tahun bekerja. Perbedaannya yakni penulisan pengalaman bekerja disusun secara terbalik, diawali dari jenis pekerjaan yang dilakukan terakhir kali dan diakhiri dengan jenis pekerjaan yang dilakukan pertama kali. Hal ini untuk memudahkan perusahaan mengetahui pengalaman bekerja yang termutakhir dan jumlah total pengalaman bekerja yang dimiliki. Semakin banyak pengalaman bekerja yang dimiliki maka semakin banyak pula ilmu yang diperoleh.


4. Pengalaman berorganisasi


Selain pengalaman bekerja, pengalaman berorganisasi baik di dalam maupun di luar lingkungan akademis kerap menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar ketika melamar pekerjaan. Umumnya, syarat ini diperuntukkan bagi para lulusan gres yang belum mempunyai pengalaman kerja. Pengalaman berorganisasi sangat penting bagi pelamar kerja alasannya yakni pengalaman berorganisasi memperlihatkan kemampuan pelamar kerja untuk sanggup bekerja sama dengan orang lain dan bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi tugasnya. Untuk itu, dalam penulisan pengalaman berorganisasi hendaknya dicantumkan nama organisasi yang diikuti, jabatan yang pernah diemban, dekripsi jabatan, dan masa bakti di dalam organisasi yang bersangkutan.


5. Pengalaman dalam banyak sekali kegiatan


Selain pengalaman berorganisasi, unsur lain yang terdapat dalam daftar riwayat hidup yakni pengalaman dalam banyak sekali kegiatan. Ketika kita sekolah atau kuliah biasanya ada banyak sekali macam aktivitas yang mempunyai struktur kepanitiaan tersendiri. Pengalaman menjadi salah satu panita aktivitas ini sanggup memperlihatkan pengalaman bekerja dalam sebuah tim. Karena itu, sebagaimana menulis pengalaman berorganisasi, pengalaman kepanitiaan juga hendaknya ditulis dengan lengkap nama aktivitas yang dimaksud, posisi yang diemban, citra posisi, serta masa kepaitiaan itu berlangsung.


6. Seminar, pelatihan, dan kursus yang pernah diikuti


Unsur lainnya yang terdapat dalam daftar riwayat hidup yakni seminar, pelatihan, dan kursus yang pernah diikuti. Kegiatan-kegiatan ini perlu dicantumkan dalam daftar riwayat hidup alasannya yakni sanggup memperlihatkan nilai tambah serta menjukkan keterampilan serta ilmu yang dimiliki. Cara penulisannya tidak berbeda dengan riwayat pendidikan atau pengalaman bekerja yakni disusun secara terbalik dengan aktivitas terakhir dicantumkan terlebih dahulu dan diakhiri dengan aktivitas yang pertama kali dilakukan. Selain itu, durasi waktu selama mengikuti seminar, pelatihan, dan kursus pun perlu dicantumkan.


7. Keterampilan atau kemampuan yang dimiliki


Unsur berikutnya dalam daftar riwayat hidup yakni keterampilan atau kemampuan yang dimiliki. Misalnya, keterampilan berkomunikasi, kemampuan berbahasa asing, serta kemampuan memakai teknologi. Hal ini diharapkan mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang notabene banyak memakai bahasa asing. Selain itu, kemampuan berbahasa gila sanggup menunjang kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berasal dari negeri seberang.


8. Prestasi yang pernah diraih


Hal penting lainnya yang perlu dicantumkan dalam daftar riwayat hidup yakni prestasi yang pernah diraih oleh pelamar. Hal ini perlu supaya perusahaan mengetahui potensi lain yang dimiliki oleh pelamar sehingga sanggup dikembangkan oleh perusahaan melalui pendidikan dan latihan. Apalagi jikalau prestasi yang pernah diraih oleh pelamar sanggup memperlihatkan bantuan nyata bagi perusahaan.


Tips menulis daftar riwayat hidup


Agar sanggup diterima bekerja di perusahaan yang diinginkan, daftar riwayat hidup perlu dibentuk semenarik mungkin namun tidak berlebihan. Berikut yakni beberapa tips menulis daftar riwayat hidup yang baik dan benar sebagaimana disarikan dari banyak sekali sumber.



  • Hindari menulis “Daftar Riwayat Hidup” sebagai judul

    Tips pertama menulis daftar riwayat hidup yang sempurna yakni dengan tidak menulis judul “Daftar Riwayat Hidup” pada daftar riwayat hidup yang dibuat.

  • Jangan basa-basi

    Ketika menulis daftar riwayat hidup hendaknya tidak bertele-tele dan terlalu basa-basi alasannya yakni perusahaan cenderung lebih menyukai daftar riwayat hidup yang singkat, padat, dan jelas. Hal ini juga memperlihatkan bahwa perusahaan lebih menyukai pelamar yang lugas dan tidak berlebihan menceritakan dirinya dalam daftar riwayat hidup. Karena itu, sebaiknya menulis daftar riwayat hidup dengan singkat walapun prestasi yang diraih atau pengalaman kerja yang dimiliki tidak sedikit.

  • Menyesuaikan riwayat pendidikan dengan posisi yang dilamar

    Ketika melamar pekerjaan, hendaknya menyesuaikan dengan posisi yang dilamar. Dan alasannya yakni itu, daftar riwayat hidup yang ditulis juga hendaknya memuat riwayat pendidikan yang sesuai dengan posisi yang dilamar. Kesesuaian ini sangat penting bagi perusahaan alasannya yakni sanggup menujukkan apakah kemampuan yang dimiliki oleh pelamar sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan atau tidak. Misalnya, untuk menjadi dosen Ilmu Komunikasi, latar belakang pendidikan yang dibutuhkan yakni minimal S2 ilmu Komunikasi.

  • Menggunakan pas foto yang resmi

    Dalam daftar riwayat hidup biasanya terpasang pula pas foto sang pelamar. Sebaiknya, pas foto yang dipakai yakni pas foto diri dengan memakai pakaian resmi, rapi, dan dalam pose tersenyum. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bab Sumber Daya Manusia melihat pribadi sang pelamar melalui foto yang dilampirkan. Untuk itu, hendaknya jangan melampirkan foto diri dengan memakai baju tidak resmi, tidak rapi, dan bebas ibarat foto selfi.


Contoh

Berikut yakni pola Daftar Riwayat Hidup dalam bahasa Indonesia.




















































































































































A. DATA DIRI
1Nama lengkapMawar Wangi
2Tempat Lahir / Tgl. LahirJakarta, 29 Februari 1992
3Jenis KelaminWanita
4Alamat RumahJalan Taman Bunga No. 1 Bandung
5Pendidikan TerakhirS1-Ilmu Komunikasi
6Emailmawar92@mymail.com
7Telepon/HP+628000000000
8Kegemaran (Hobby)Membaca, menulis
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
11998 – 2004SDN Sabang Bandung
22004 – 2007SMPN 1 Bandung
32007 – 2010SMAN 1 Bandung
42010 – 2015UNIKOM Bandung
C. RIWAYAT PEKERJAAN
12015 – 2018Staf Humas di PT Maju Sekali, Bandung
E. PENGALAMAN BERORGANISASI
12013-2014Ketua HIMA Humas
F. KURSUS/LATIHAN/SEMINAR
12010 – 2015Bahasa Inggris
22010 – 2015Bahasa Perancis
G. KETERAMPILAN YANG DIMILIKI
1Menguasai MS Office
H. PRESTASI YANG PERNAH DIRAIH
12005Juara 1 Lomba Pidato Antar Kelas SMPN 1 Bandung
Demikian Daftar Riwayat Hidup ini saya buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian hari terdapat keterangan yang tidak benar, saya bersedia dituntut di muka pengadilan.

………………………, ………………………………..



Yang membuat



(……………………………………………….)



Demikianlah ulasan singkat perihal pola Daftar Riwayat Hidup dalam bahasa Indonesia. Artikel lain yang sanggup dibaca di antaranya yakni contoh surat lamaran kerjajenis-jenis karangan ilmiah, jenis-jenis karangan semi ilmiah, jenis-jenis karangan non ilmiah, tata cara penulisan gelar, tata cara penulisan catatan kaki, cara penulisan daftar pustaka, contoh catatan kaki dan daftar pustaka, contoh kutipan pribadi dan tidak langsung dan contoh kata pengantar. Semoga bermanfaat. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Friday, May 18, 2018

√ Wawancara Dan Etikanya – Pengertian, Unsur, Dan Langkah-Langkahnya


Tentunya kita sering melihat di televisi atau mendengar di radio wawancara yang dikemas dan disajikan sedemikian rupa dalam sebuah jadwal aktivitas televisi atau radio menyerupai berita. Biasanya, wawancara dilakukan untuk menggali dan memperoleh informasi dari suatu masalah. Adapun informasi digali dari banyak sekali narasumber yang sangat berkompeten atau menguasai permasalahan yang sedang dibahas. Wawancara yang dilakukan oleh pewawancara tidak sanggup dilakukan sembarangan. Dalam arti harus dilakukan secara sedikit demi sedikit dan mengacu pada adab yang telah ditetapkan. Berikut akan diulas mengenai wawancara terkait dengan pengertian, unsur, langka-langkah wawancara, serta adab wawancara yang harus dipenuhi.





Pengertian





Kata wawancara dalam bahasa Indonesia merupakan padanan kata dari kata interview dalam bahasa Inggris. Kata interview sendiri berasal dari kata Latin dan Perancis yang berarti untuk “melihat di antara” atau “melihat satu sama lain”. Secara umum, interview berarti sebuah pertemuan yang sifatnya pribadi antara orang-orang ketika banyak sekali pertanyaan ditanyakan dan dijawab. Orang yang memperlihatkan pertanyaan disebut dengan interviewer atau pewawancara. Sedangkan, orang yang menjawab pertanyaan disebut dengan narasumber. Dengan demikian, wawancara merupakan pertemuan pertemuan antara dua orang dengan tujuan untuk melihat atau mengenal satu sama lain. Biasanya, bila mendengar kata wawancara, persepsi yang kemudian muncul ialah wawancara untuk memperoleh pekerjaan.





Sementara itu, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, wawancara diartikan sebagai tanya jawab dengan seseorang (pejabat dan sebagainya) yang dibutuhkan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi. Wawancara juga diartikan sebagai tanya jawab direksi (kepada personalia, kepala humas) perusahaan dengan pelamar pekerjaan. Selain itu, wawancara juga dimaknai sebagai tanya jawab peneliti dengan narasumber.





Lebih lanjut dijelaskan, terdapat beberapa jenis atau bentuk wawancara di antaranya ialah sebagai berikut.





  • Wawancara bebas ialah wawancara yang susunan pertanyaannya tidak dicantumkan terlebih dahulu dan pembicaraannya bergantung pada suasana wawancara.
  • Wawancara individual ialah wawancara yang dilakukan oleh seseorang (pewawancara) dengan responden tunggal atau wawancara secara perseorangan.
  • Wawancara kelompok ialah wawancara yang dilakukan terhadap sekelompok orang dalam waktu yang bersamaan.
  • Wawancara konferensi ialah wawancara antara seorang pewawancara dan sejumlah responden atau wawancara antara sejumlah pewawancara dan seorang responden.
  • Wawancara terbuka ialah wawancara yang berdasarkan pertanyaan yang tidak terbatas (tidak terikat) jawabannya.
  • Wawancara terpimpin ialah wawancara dengan menggunakan pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya.
  • Wawancara tertutup ialah wawancara yang berdasarkan pertanyaan yang terbatas jawabannya.




Konteks





Wawancara sanggup terjadi dalam banyak sekali macam konteks yaitu pekerjaan, psikologi, penelitian, jurnalistik, dan situasi lainnya.





  • Wawancara pekerjaan ialah wawancara yang dilakukan dengan tujuan mengevaluasi kualifikasi orang yang diwawancarai untuk menempati posisi tertentu.
  • Wawancara psikologi ialah banyak sekali metode dan teknik wawancara yang dilakukan oleh psikolog sebagai upaya untuk memahami dan membantu pasien.
  • Wawancara penelitian ialah wawancara yang umumnya dilakukan dalam bidang pemasaran maupun akademis. Di bidang pemasaran, wawancara biasa dipakai dalam penelitian kualitatif sebagai upaya untuk memahami pemikiran konsumen atau apa yang dipikirkan oleh konsumen.
  • Wawancara jurnalistik ialah wawancara yang dilakukan di bidang jurnalistik. Biasanya, reporter yang bertugas meliput sebuah dongeng atau bencana melaksanakan wawancara melalui telepon dan secara tatap muka dalam rangka memperoleh informasi untuk disajikan di media massa atau media lainnya.
  • Wawancara situasi lainnya ialah wawancara yang dipakai dalam situasi tertentu contohnya wawancara keanggotaan gres sebuah organisasi atau untuk memperoleh beasiswa.




Unsur





Wawancara terdiri atas beberapa unsur yaitu pewawancara, narasumber atau informan, tema, serta waktu dan tempat.





  • Pewawancara ialah orang yang berperan sebagai penanya atau orang yang mencari dan menggali informasi dari narasumber atau informan.
  • Narasumber atau informan ialah orang yang diwawancarai oleh pewawancara dan berperan sebagai penjawab pertanyaan atau pemberi informasi kepada pewawancara. Biasanya, mereka yang menjadi narasumber ialah orang-orang yang berkompeten di bidangnya dan menguasai permasalahan yang tengah dibahas. Narasumber sanggup beru pa tokoh, orang biasa atau pakar.
  • Tema ialah perihal yang diwawancarakan antara pewawancara dan narasumber.
  • Waktu merujuk pada waktu dilaksanakannya wawancara.
  • Tempat merujuk pada daerah dilaksanakannya wawancara.




Langkah-langkah Melakukan Wawancara





Wawancara tidak sanggup dilakukan secara sembarangan. Terdapat beberapa langkah melaksanakan wawancara yang dibagi ke dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan.





1. Tahap persiapan





Terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh seorang pewawancara sebelum mengadakan wawancara dengan narasumber.





  • Menentukan tema wawancara. Tema yang akan dikupas dalam wawancara akan memilih narasumber yang akan diwawancarai.
  • Memilih narasumber yang akan diwawancarai. Narasumber dipilih berdasarkan tema wawancara yang telah ditetapkan sebelumnya.
  • Membuat janji dengan narasumber. Setelah tema dan narasumber ditetapkan, langkah selanjutnya ialah menciptakan janji dengan narasumber terkait kesediaan narasumber untuk diwawancarai serta waktu dan daerah dilaksanakannya wawancara.
  • Menyiapkan daftar pertanyaan. Setelah narasumber menyatakan kesediaannya untuk diwawancarai, pewawancara kemudian menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber ketika wawancara. Pertanyaan ini harus disusun secara sistematis dan teratur. Adapun jenis-jenis pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber di antaranya ialah pertanyaan yang bersifat menimba, menyelidiki, menyarankan, mengungkap, dan meneliti. Selain itu, pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara hendaknya mengandung unsur-unsur 5W + 1H yaitu what atau apa, when atau kapan, who atau siapa, where atau di mana, why atau mengapa, dan how atau bagaimana.
  • Menyiapkan alat wawancara. Seorang pewawancara hendaknya menyiapkan alat wawancara dan memastikan alat wawancara tersebut sanggup dipakai dengan baik. Adapun alat-alat yang dipakai untuk wawancara antara lain buku catatan, alat tulis, alat perekam, dan lain-lain.




2. Tahap pelaksanaan





Tahap pelaksanaan wawancara ialah tahapan berlangsungnya wawancara dari awal hingga akhir.





  • Mengawali wawancara dengan pembicaraan ringan menyerupai menanyakan kabar narasumber.
  • Menunjukkan perilaku yang ramah dan bersahabat.
  • Mengajukan pertanyaan secara runut dan jelas.
  • Merekam dan mencatat wawancara.
  • Menghindari pertanyaan yang sifatnya memojokkan atau menginterograsi.
  • Wawancara diakhiri dengan memperlihatkan kesan yang baik dan menyenangkan.
  • Mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesediaan narasumber untuk diwawancarai juga hendaknya jangan hingga terlewat.




3. Tahap pelaporan





Setelah melaksanakan wawancara, pewawancara diharuskan untuk melaporkan hasil wawancara yang telah dilakukan. Laporan sanggup ditulis dalam bentuk makalah, paparan atau disajikan dengan ringkas. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun laporan hasil wawancara, yaitu :





  • Kaidah-kaidah penulisan laporan.
  • Tidak mencampuradukkan hasil wawancara dengan opini pribadi.
  • Memilih serta mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan tema yang dibahas dalam wawancara.
  • Menjaga nama baik narasumber atau menjaga kerahasiaan identitas narasumber bila diminta sesuai dengan etika. Jika yang mewawancarai narasumber ialah jurnalis atau wartawan, adab yang dijadikan pemikiran ialah Kode Etik Jurnalistik.




Etika





Melakukan wawancara dengan narasumber hendaknya dilakukan dengan penuh sopan santun dan beretika. Adapun adab dalam berwawancara di antaranya ialah sebagai berikut.





  • Mempersiapkan wawancara dengan sebaik mungkin terkait dengan kerangka wawancara, menguasai bahan wawancara, memahami siapa yang menjadi narasumber, dan sebagainya.
  • Membuat janji terlebih dahulu dengan narasumber untuk menanyakan kesediaan narasumber untuk diwawancara dan memilih waktu dan daerah wawancara.
  • Datang sempurna waktu sesuai dengan kesepakatan yang telah dibentuk antara pewawancara dan narasumber.
  • Menaati tata tertib wawancara, peraturan, serta norma-norma yang berlaku di daerah berlangsungnya wawancara.
  • Bersikap sopan yang ditandai dengan pakaian yang dikenakan, menghormati dan mengikuti peraturan serta norma setempat, dan sebagainya.
  • Bersikap rendah hati.
  • Menghormati narasumber.
  • Bersikap ramah dalam kata dan tindakan.
  • Bersikap penuh pengertian terhadap narasumber dan netral.
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Ketika mewawancarai narasumber hendaknya tidak memotong apa yang disampaikan oleh narasumber.
  • Ketika mewawancarai narasumber hendaknya tidak mendebat apa yang disampaikan oleh narasumber.
  • Tidak menanyakan hal-hal yang sifatnya umum yang tidak sesuai dengan topik wawancara.
  • Memberikan pertanyaan secara obyektif, netral, dan tidak memengaruhi narasumber untuk memperlihatkan balasan tertentu.
  • Memberikan pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin, jelas, dan terarah sehingga gampang dipahami oleh narasumber.
  • Ketika memperlihatkan pertanyaan, hendaknya tidak memperlihatkan dua pertanyaan sekaligus sebab narasumber cenderung hanya menjawan pertanyaan yang diajukan terakhir alias pertanyaan kedua. Akibatnya, informasi tidak akan tergali dengan baik.
  • Menyesuaikan diri dengan aksara narasumber.
  • Menjalin kekerabatan dengan narasumber dengan cara mempergunakan waktu sebelum dan setelah wawancara untuk mengakrabkan diri. Hal ini perlu dilakukan semoga proses wawancara sanggup berlangsung dengan lancar.
  • Ketika mewawancarai narasumber yang mempunyai banyak musuh, ada baiknya pewawancara bersikap seakan-akan memihak pada narasumber. Hal ini dilakukan semoga narasumber merasa nyaman dan tidak merasa diwawancara oleh musuh.
  • Mengucapkan terima kasih kepada narasumber setelah selesai melaksanakan wawancara. Jika memungkinkan disertai dengan saling berjabat tangan.




Demikianlah ulasan singkat wacana wawancara dan etikanya terkait dengan pengertian, unsur, dan langkah-langkah ketika akan melaksanakan wawancara. Artikel lain yang sanggup dibaca di antaranya ialah jenis-jenis kalimat tanya dan contohnya, kalimat interogatif, contoh paragraf eksposisi laporan singkatcontoh teks singkat, contoh teks gosip di koran, contoh teks gosip duka, contoh teks gosip ekonomi, contoh teks gosip pendidikan, contoh teks gosip bola, contoh teks gosip seni budaya, contoh teks laporan observasi wacana tumbuhan, contoh teks laporan observasi wacana hewan, contoh teks laporan singkat, contoh teks laporan hasil observasi wacana alam, contoh teks laporan observasi beserta strukturnya. Semoga bermanfaat. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Thursday, May 17, 2018

√ Resensi Dalam Bahasa Indonesia – Jenis, Unsur, Dan Struktur

Resensi atau ulasan buku berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah pertimbangan atau pembicaraan perihal buku. Sementara itu, berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017), resensi ialah ulasan atau penilaian atau pembicaraan mengenai suatu karya baik itu buku, film, atau karya lain. Adapun tujuan utama resensi buku ialah memperlihatkan balasan terhadap isi buku yang diresensi sebagai upaya untuk memperlihatkan isu kepada calon pembaca buku apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak. Selain itu, tujuan resensi lainnya ialah memperlihatkan semacam umpan balik kepada pengarang untuk menyempurnakan isi buku pada edisi terbitan selanjutnya. Biasanya, resensi sanggup ditemui di media cetak ibarat surat kabar atau majalah serta media daring.


Agar resensi yang dibentuk benar-benar menyuguhkan isu yang diharapkan oleh pembaca, seorang peresensi harus memenuhi beberapa persyaratan. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang peresensi ialah sebagai berikut.



  • Peresensi harus mempunyai pengetahuan di bidangnya. Misalnya, dikala akan meresensi sebuah cerpen, maka peresensi harus mempunyai pengetahuan perihal cerpen dan perkembangannya.

  • Peresensi harus mempunyai kemampuan menganalisis. Dalam arti, peresensi harus bisa menggali banyak sekali unsur yang terdapat di dalam sebuah cerpen yang akan dianalisis.

  • Peresensi harus mempunyai pengetahuan dalam pola yang sebanding. Dalam arti, peresensi membandingkan dengan karya lain yang sejenis. Sehingga peresensi sanggup menemukan kelebihan dan kekurangan dari karya yang dianalisis.


Jenis


Terdapat banyak sekali macam jenis resensi yang didasarkan pada kriteria tertentu ibarat sudut pandang dan isi resensi (Saryono, 1997) dan jenis buku (Samad, 1997). Jenis resensi berdasarkan sudut pandang ialah resensi ilmiah dan resensi ilmiah popular. Jenis resensi berdasarkan isi ialah resensi informatif, resensi evaluatif, dan resensi informatif-evaluatif. Dan, jenis resensi berdasarkan jenis buku ialah resensi buku sastra dan resensi buku non-sastra.


Dari ulasan di atas, jenis-jenis resensi ialah sebagai berikut.



  1. Resensi ilmiah – Resensi ilmiah ialah resensi yang mengupas bidang keilmuan tertentu. Biasanya, bahasa yang dipakai ialah bahasa resmi atau bahasa baku, banyak memakai rujukan atau acuan, dan dipaparkan secara lengkap.

  2. Resensi ilmiah popular – Berbeda dengan resensi ilmiah, resensi ilmiah popular merupakan resensi ilmiah yang tidak memakai rujukan atau pola tertentu, bahasa yang dipakai ialah bahasa tidak baku, dan hanya bagian-bagian yang menarik saja yang dipaparkan oleh peresensi.

  3. Resensi informatif – Resensi informatif ialah resensi yang berisi hal-hal yang sifatnya informative dari sebuah buku. Biasanya, resensi informatif hanya menyajikan ringkasan perihal isi buku atau hal-hal lain yang berkaitan dengan buku yang diresensi.

  4. Resensi evaluatif – Resensi evaluative ialah resensi yang berisi penilaian peresensi terhadap buku atau hal-hal yang berkaitan dengan buku yang diresensi.

  5. Resensi informatif-evaluatif – Resensi informatif-evaluatif ialah resensi yang merupakan perpaduan dari resensi informatif dan resensi evaluatif. Resensi informatif-evaluatif menyajikan ringkasan buku atau hal-hal penting yang terdapat dalam buku yang diresensi sekaligus berisi penilaian peresensi terhadap isi buku.

  6. Resensi buku sastra –Resensi sastra ialah resensi yang mengupas, memaparkan, dan menilai buku-buku sastra. Biasanya, resensi buku sastra disajikan secara informatif, evaluatif, atau perpaduan keduanya.

  7. Resensi buku nonsastra – Resensi nonsastra ialah resensi yang mengupas, memaparkan, dan menilai buku-buku nonsastra ibarat buku-buku pengetahuan dan lain sebagainya.


Unsur


Resensi terdiri dari beberapa unsur yaitu judul, identitas buku, isi resensi buku, dan epilog resensi buku.



  • Judul resensi 


Resensi yang dibentuk hendaknya memuat judul resensi. Judul resensi berperan sebagai pengantar sebelum masuk ke isi resensi. Karena itu, judul harus dibentuk semenarik mungkin biar sanggup menarik perhatian pembaca dan mempunyai keterkaitan dengan isi resensi.



  • Identitas buku yang diresensi


Resensi harus memuat identitas buku yang merupakan data buku. Biasanya identitas buku berisi   judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit beserta cetakannya, dimensi atau ukuran buku, dan harga buku.



  • Isi resensi buku


Unsur berikutnya ialah isi resensi. Biasanya, isi resensi buku berisi perihal ulasan singkat buku dan disertai dengan kutipan singkat. Selain itu, isi resensi buku juga berisi keunggulan dan kelemahan buku, rumusan kerangka buku, dan bahasa yang digunakan.



  • Penutup resensi


Terakhir, epilog resensi berisi alasan-alasan mengapa buku itu ditulis dan kepada siapa buku itu ditujukan.


Struktur


Sebagaimana halnya struktur teks ulasan dalam bahasa Indonesia, struktur teks resensi meliputi identitas, orientasi, sinopsis, analisis, dan evaluasi.



  1. Identitas dalam resensi meliputi judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, tebal halaman, dan ukuran buku. Terkadang, bab ini tidak dinyatakan secara pribadi oleh peresensi dikala meresensi film atau lagu.

  2. Orientasi berisi klarifikasi mengenai kelebihan buku yang diresensi, contohnya penghargaan yang pernah diraih oleh buku yang diresensi. Biasanya, hal ini diletakkan di paragraf pertama oleh peresensi sebagai pemantik perhatian pembaca.

  3. Sinopsis dalam resensi ialah ringkasan yang menggambarkan pemahaman penulis terhadap isi buku.

  4. Analisis berupa paparan perihal keberadaan unsur-unsur cerita, ibarat tema, penokohan, dan alur.

  5. Evaluasi berupa paparan perihal kelebihan dan kekurangan suatu karya.


Contoh


Pada kesempatan yang kemudian kita telah memahami beberapa contoh resensi dalam bahasa Indonesia ibarat cara menulis resensi film, cara menulis resensi buku, contoh resensi buku novel, contoh resensi buku cerpen, contoh resensi buku pelajaran, dan contoh resensi non fiksi. Berikut disajikan contoh resensi singkat dalam bahasa Indonesia yang dikutip dari laman kompas.com tanggal 17 Juni 2013 bertajuk Pasung Jiwa, Menguak Ketakutan.



Pasung Jiwa, Menguak Ketakutan

Judul Buku : Pasung Jiwa

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2013

Tebal : 328 halaman


Membaca buku terbaru dari Okky Madasari ini ibarat menelusuri kisah hidup orang-orang yang terjebak dalam diri mereka sendiri. Yang laki-laki membenci dunia macho yang sudah terbentuk di sekitarnya, sementara yang perempuan menolak untuk selalu menerima. Pasung Jiwa kemudian ibarat cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Ada empat tokoh utama dalam novel ini; Sasana, Jaka Wani, Elis, dan Kalina. Kempatnya punya pertalian dan benang merah yang saling mempertemukan.


Cerita dibuka dengan Sasana dari masa kecilnya, remaja, hingga dewasa. Bagaimana ia terbentuk menjadi sosok yang sudah merasa terperangkap alasannya ialah terlahir sebagai laki-laki. Dipaksa bermain piano dan music klasik, sementara ia jatuh cinta dengan music dangdut. Diperas dan dikeroyok sewaktu masih duduk di kursi Sekolah Dasar. “Seluruh hidupku ialah perangkap. Tubuh ialah prangkap pertamaku. Lalu orang tua, dan semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui serta segala sesuatu yang kulakukan.” Sasana (hal.9).


Lompat ke masa kuliah, Sasana menemukan dirinya sendiri dengan melahirkan sosok Sasa. Memakai daster, berbedak, dan bergincu, bebas menyanyikan lagu dangdut yang ia suka. Tapi itu tak berlangsung usang hingga ia dan Jaka Wani yang menjadi temannya mengamen ditangkap polisi. Jaka Wani, sosok lain yang terjebak dalam kemiskinan. Menjadi buruh pabrik yang hidup teratur dari Senin hingga Jumat, bekerja dari pagi hingga sore dengan upah yang hanya Rp 90.000 seminggu. Hidup ibarat robot, sementara harapan terdalamnya sebagai seniman tertimbun dalam-dalam.


Perjalanan dengan Sasa berakhir, dan mempertemukannya dengan Elis, kemudian Kalina. Elis ialah sosok pelacur yang melayani para buruh pabrik dengan bayaran rendah. Menjadi pelacur katanya bukan alasannya ialah paksaan, melainkan suatu pilihan, daripada hidup dengan suami yang bajingan. Jika orang arif bekerja dengan otaknya, dan buruh bekerja dengan tenaganya, maka ia menentukan bekerja dengan organ kewanitaan yang ia punya. Sementara Kalina, ditemukan Jaka Wani dikala sedang berontak dan meronta di hadapan buruh pabrik. Ia protes dipecat alasannya ialah ia hamil, sementara yang menghamilinya ialah mandor sendiri. Nasibnya hampir sama dengan buruh perempuan lain yang dipaksa melayani ajakan para mandor tanpa bisa mengelak.


Menyoal keberanian


Di antara masalah konflik batin dan personal yang diusung masing-masing karakter, Okky menyelipkan sedikit perihal nasib buruh perempuan Marsinah yang alasannya ialah keberaniannya kemudian hilang tanpa tahu kelanjutan nasibnya. Sosok Sasana, Jaka Wani, Elis, dan Kalina kemudian juga dihadapkan pada perangkap di luar diri mereka ibarat agama, aturan, dan pandangan masyarakat. Sasana tidak bisa menjadi dirinya sendiri, alasannya ialah laki-laki harulah laki-laki, dihentikan tidak. Jaka Wani sebagai buruh mesti manut saja pada apa pun yang sudah digariskan, walau tertindas. Elis mesti mendapatkan nasib sebagai perempuan yang tidak punya ha katas tubuhnya, kemudian Kalina tak bisa memperjuangkan nasibnya alasannya ialah keterbatasan yang ada.


Novel ini, ibarat tiga novel Okky sebelumnya, sangat kental dengan nuansa protes dan memberi bunyi pada mereka yang selama ini tidak pernah terdengar. Protes terhadap polisi yang dengan gambling digambarkan sebagai pelaku kekerasan dan sekaligus dalang di balik kekerasan yang timbul. Lewat keempat tokohnya, Okky menyiratkan keberanian untuk menguak rasa takut. Melawan, itulah kata-kata yang tepat. Tapi sejauh-jauhnya mereka melawan dari diri sendiri dan juga apa yang ada di sekitar, lagi-lagi mereka terperangkap. Mereka tidak sepenuhnya bebas. Atau memang bekerjsama tidak ada kebebasan yang mutlak?


Jika dibawa ke kehidupan nyata, maka keempat sosok ini bekerjsama ada. Karena itu juga novel ini terasa bersahabat tanpa fantasi dan tanpa bumbu fiksi yang kental. Semua terasa dekat. Tak usah jauh-jauh, di sekeliling kita mereka ada, bahkan bekerjsama ada kita di dalamnya. Jika kita bukan mereka, berarti kita orang yang membisu menyaksikan nasib mereka. Okky ibarat membuka mata dan hati pembacanya dengan lebar. Mencoba memahami nasib orang-orang yang selama ini ada tapi tidak terdengar. Moncoba memahami bahwa pemimpin atau mereka yang mengatasnamakan pegawapemerintah belum tentu benar. Setiap kita mestinya berani menguak rasa takut. Kira-kira begitulah maksud novel Pasung Jiwa.



Demikianlah ulasan singkat perihal resensi terkait dengan jenis, unsur, dan struktur resensi. Artikel lain yang sanggup dibaca di antaranya ialah contoh esai singkat, contoh kritik singkat, contoh esai sastra, contoh cerpen beserta sinopsisnya, contoh novel beserta sinopsisnya, dan contoh novel singkat.   Semoga bermanfaat.



Sumber https://dosenbahasa.com