Showing posts with label Batuan. Show all posts
Showing posts with label Batuan. Show all posts

Friday, April 20, 2018

√ Batuan Andesit Dan Proses Pembentukannya

Apa Itu Batu Andesit?

Andesit ialah nama salah satu batuan beku ekstrusif yang tersusun atas butiran mineral yang halus (fine-grained). Batuan beku ekstrusif ini biasanya ringan dan berwrna abu-abu gelap. Pada kondisi cuaca tertentu, Andesit sering terlihat berwarna coklat sehingga untuk mengidentifikasinya perlu dilakukan investigasi yang lebih detail. Andesit kaya akan mineral plagioklas feldspar dan biasanya mengandung biotit, piroksen, atau amphibole.

Nama Andesit berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Andesit di pegunungan Andes terbentuk sebagai lava "interbedded" bersamaan dengan deposit debu vulkanik (ash) dan tufa di bab sisi-sisi stratovolcano yang curam. Stratovolcano andesit ditemukan di atas zona subduksi di Amerika Tengah, Meksiko, Washington, Oregon, Jepang (lihat disini Peta Jepang), Indonesia, Filipina, Karibia, Selandia Baru, dan dibeberapa lokasi lainnya.

 Andesit ialah nama salah satu batuan beku ekstrusif yang tersusun atas butiran mineral y √ Batuan Andesit dan Proses Pembentukannya
Gambar macam-macam batuan andesit.

Bagaimana Proses Terbentuknya Batuan Andesit ?

Andesit ditemukan dalam aliran lava yang dihasilkan oleh stratovulkano. Lava yang naik ke ke permukaan akan mengalami proses pendinginan dengan cepat, hal inilah yang menyebabkan tekstur andesit menjadi lebih halus. Butir mineral dalam andesit biasanya sangat kecil sehingga tidak sanggup dilihat tanpa memakai alat pembesar. Beberapa jenis andesit mengandung sejumlah besar "glass", dan ada juga yang terlihat jejak lava gas vesikular dengan tekstur amigdaloidal.

Andesit ialah batuan umum kerak benua yang biasanya berada di atas zona subduksi. Andesit umumnya terbentuk sehabis "melting" (pelelehan/pencairan) lempeng samudera akhir subduksi. Subduksi yang menyebabkan "melting" pada zona ini merupakan sumber magma (lihat apa itu magma?) yang apabila naik ke permukaan akan membentuk Andesit.

Andesit juga sanggup terbentuk jauh dari lingkungan zona subduksi. Sebagai contoh, batuan ini sanggup terbentuk pada "ocean ridges" dan "oceanic hotspots" yang dihasilkan dari "pelelehan sebagian" (partial melting) batuan basaltik. Andesit juga sanggup terbentuk selama letusan pada struktur dalam lempeng benua dimana magma sumber meleleh dalam kerak benua atau bercampur dengan magma benua. Kesimpulannya, ada banyak lingkungan lain dimana andesit mungkin sanggup terbentuk.

Pengertian Andesit Porfiri ?

Kadang-kadang andesit terlihat mengandung kristal plagioklas, amphibole, atau piroksen yang berukuran besar. Kristal-kristal besar ini dikenal sebagai "fenokris". Mereka mulai terbentuk dikala magma yang mengalami pendinginan di bawah permukaan mendekati suhu kristalisasi dari mineral-mineral tersebut. Kristalisasi mineral pada suhu tinggi ini mulai terbentuk di bawah permukaan dan tumbuh menjadi kristal besar sebelum magma meletus.

Ketika magma meletus atau keluar ke permukaan bumi sisa lelehan magma yang belum sempat terkristal tadi akan mengkristal dengan cepat akhir suhu dipermukaan yang lebih dingin. Hasil akhirnya, ini akan menghasilkan batuan dengan dua ukuran kristal yang berbeda. Kristal besar yang terbentuk perlahan-lahan dibawah permukaan (dikenal sebagai "fenokris"), dan kristal kecil yang terbentuk dengan cepat di permukaan (dikenal sebagai "groundmass"). "Andesit porfiri" ialah nama yang dipakai untuk batuan dengan dua ukuran kristal yang berbeda.

Definisi Andesit Sering Makara Permasalahan

Banyak peneliti telah mengklasifikasikan batuan beku menurut kimia dan komposisi mineralogi. Namun, semua penjabaran tersebut belum dicapai satu komitmen untuk definisi baku dari Andesit. Untuk batuan bertekstur halus menyerupai andesit, penjabaran batuan beku yang ada mustahil dipakai secara sempurna di lapangan ataupun dalam pembelajaran mahasiswa/siswa. Batuan Andesit membutuhkan analisis kimia atau mineral yang lebih spesifik.

Jika Anda menyelidiki batuan yang tampak menyerupai andesit, tetapi Anda tidak yakin bahwa itu memenuhi penjabaran mineralogi atau kimia andesit, maka Anda sebaiknya menyebut batuan tersebut sebagai "Andesitoid". Itu berarti bahwa untuk sementara batuan tersebut tampak menyerupai andesit, investigasi atau pengujian kimia mikroskopis mungkin akan mengambarkan lain.
Sumber http://www.geologinesia.com

Thursday, April 19, 2018

√ Kerikil Pasir Dan Proses Pembentukannya

Pengertian Batu Pasir

Batu pasir yaitu batuan sedimen klastik yang terdiri dari butiran mineral berukuran pasir atau materi organik. Di dalam watu pasir terdapat semen yang mengikat butiran-butiran pasir dan biasanya terdiri dari partikel matriks (lanau atau lempung) yang menempati ruang antar butiran pasir. Batu pasir yaitu salah satu jenis batuan sedimen yang paling umum dan banyak ditemukan dalam cekungan sedimen di seluruh dunia. Batu pasir sering ditambang untuk dipakai sebagai materi konstruksi. Di bawah permukaan, watu pasir sering berfungsi sebagai akuifer air tanah untuk atau sebagai reservoir gas dan minyak.

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai watu pasir, sebaiknya perlu dipahami perbedaan istilah antara "Batu Pasir" dan "Pasir". Untuk spesialis geologi kata "pasir" pada watu pasir mengacu pada ukuran partikel butiran dalam batuan tersebut, dimana partikel atau butiran tersebut terdiri dari banyak sekali ukuran yaitu 1/16 mm - 2 mm. Sedangkan pengertian watu pasir adalah batuan yang tersusun atas butiran pasir.
Batu pasir yaitu batuan sedimen klastik √ Batu Pasir dan Proses Pembentukannya
Gambar watu pasir.

Pelapukan dan Transportasi Pasir

Pasir biasanya tersusun atas partikel atau butiran mineral, batuan atau materi organik yang telah bermetamorfosis ukuran "pasir" oleh proses pelapukan dan terangkut ke suatu lingkungan pengendapan oleh media transportasi berupa air, angin atau es. Waktu dan jarak transportasi mereka mungkin singkat atau signifikan. Selama perjalanan butiran ini, akan selalu ditindaklanjuti oleh pelapukan kimia dan fisika.

Jika pasir diendapkan bersahabat dengan sumber batuannya, komposisinya akan mirip batuan induknya. Namun, semakin usang waktu dan jarak yang memisahkan batuan sumber dari endapan pasirnya, komposisi tersebut akan signifikan berubah selama proses transportasi. Butiran yang terdiri dari materi gampang lapuk akan diubah dan mineral atau partikel yang secara fisik lemah akan hilang atau hancur.

Apabila batuan granit yaitu sumber materi orisinil dari pasir, maka watu pasir akan tersusun atas butiran-butiran mineral dari hornblende, biotit, ortoklas dan kuarsa. Hornblende dan biotit yang paling rentan mengalami perubahan kimia dan fisika sehingga mereka akan tersingkir di tahap awal transportasi. Ortoklas dan kuarsa akan bertahan usang alasannya yaitu ikatan kimia mereka lebih intens dan tidak rentan terhadap pembelahan (cleavege). Mineral kuarsa biasanya paling banyak membentuk butiran pasir, butiran-butiran kuarsa inilah yang akan membentuk watu pasir yang biasa kita sebut sebagai "batu pasir kuarsa".

Jenis Butiran, Deskripsi, dan Penamaan Batu Pasir

Butiran dalam watu pasir sanggup terdiri dari mineral, batuan atau materi organik. Besaran jumlah (persen) jenis butiran pasir tergantung pada sumber butirannya dan bagaimana mereka mengalami proses transportasi. Butiran mineral dalam batupasir biasanya tersusun atas kuarsa kadang kala sanggup sangat tinggi jumlahnya (>90% SiO2). Hal ini disebebabkan alasannya yaitu butiran pasirnya telah mengalami transportasi yang berulang-ulang oleh media angin atau air, atau biasa dikatakan sebagai "mature". Butiran Pasir lainnya sanggup mengandung sejumlah besar feldspar dan kalau mereka berasal dari batuan induk dengan kandungan kuarsa yang signifikan maka butiran pasir feldspar tersebut akan dikatakan "immature".

Pendeskripsian watu pasir secara umum (untuk orang awam) biasanya mengacu kepada jumlah persen materi penyusun watu pasir (butiran mineral atau batuan, ataupun materi organik). Sebagai pola apabila dalam suatu batupasir lebih banyak didominasi tersusun atas butiran mineral kuarsa maka biasa disebut batu pasir kuarsa atau pasir silika. Apabila butiran dari watu pasir ada mengandung emas biasa disebut batu pasir emas, kalau mengandung intan biasa disebut batu pasir intan. Sebenarnya istilah watu pasir emas dan watu pasir intan ini muncul alasannya yaitu keterdapatan mineral emas atau intan dalam sebuah watu pasir, atau sanggup saja hanya sebagai pasir lepas yang mengandung butiran emas ataupun intan. mirip yang kita ketahui bahwa emas mempunyai resistensi dan fleksibilitas yang tinggi, begitu juga intan. Inilah yang memungkinkan kedua mineral berharga ini tahan terhadap proses pelapukan kimia dan fisika selama proses transportasi berlangsung.

Secara spesifik deskripsi dan penamaan watu pasir akan mengacu atau menurut batuan asalnya, menurut kehadiran matriks lempungnya, dan menurut komposisi butiran dalam batupasir tersebut. Penamaan watu pasir menurut batuan asalnya sebagai pola batupasir silisiklastik (butiran terigen), batupasir epiklastik, dan batupasir volkaniklasitik. Penamaan watu pasir menurut kehadiran matriks lempungnya sebagai pola batupasir arenit dan batupasir wacke. Penamaan watu pasir menurut komposisi butiran penyusunnya sebagai pola batupasir arkose dan batupasir litik. Banyak klasifikasi watu pasir yang dibentuk oleh para ahli, sebagai pola penjabaran pettijhon (1987), penjabaran folk (1974), dan penjabaran gilbert (1982).

Sumber http://www.geologinesia.com

Sunday, April 15, 2018

√ Pengertian, Jenis, Dan Kegunaan Kerikil Gamping (Batu Kapur)

Pengertian Batu Gamping (Batu Kapur)

Batu gamping yakni batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit. Di Indonesia, watu gamping sering disebut juga dengan istilah watu kapur, sedangkan istilah luarnya biasa disebut "limestone". Batu gamping paling sering terbentuk di perairan maritim dangkal.

Batu gamping (batu kapur) kebanyakan merupakan batuan sedimen organik yang terbentuk dari akumulasi cangkang, karang, alga, dan pecahan-pecahan sisa organisme. Batu ini juga sanggup menjadi batuan sedimen kimia yang terbentuk oleh pengendapan kalsium karbonat dari air danau ataupun air laut.

Pada prinsipnya, definisi watu gamping mengacu pada batuan yang mengandung setidaknya 50% berat kalsium karbonat dalam bentuk mineral kalsit. Sisanya, watu gamping sanggup mengandung beberapa mineral ibarat kuarsa, feldspar, mineral lempung, pirit, siderit dan mineral-mineral lainnya. Bahkan watu gamping juga sanggup mengandung nodul besar rijang, nodul pirit ataupun nodul siderit.

Kandungan kalsium karbonat dari batugamping memperlihatkan sifat fisik yang sering dipakai untuk mengidentifikasi batuan ini. Biasanya identifikasi batugamping dilakukan dengan meneteskan 5% asam klorida (HCl), jikalau bereaksi maka sanggup dipastikan batuan tersebut yakni batugamping.

Baca juga tentang: Batuan Metamorf

Pembentukan Batugamping pada Lingkungan Laut

Kebanyakan batugamping terbentuk di maritim dangkal, tenang, dan pada perairan yang hangat. Lingkungan ini merupakan lingkungan ideal di mana organisme bisa membentuk cangkang kalsium karbonat dan skeleton sebagai sumber materi pembentuk batugamping. Ketika organisme tersebut mati, cangkang dan skeleton mereka akan menumpuk membentuk sedimen yang selanjutnya akan terlitifikasi menjadi batugamping.

Produk sisa organisme tersebut juga sanggup berkontribusi untuk pembentukan sebuah massa sedimen. Batugamping yang terbentuk dari sedimen sisa organisme dikelompokan sebagai batuan sedimen biologis. Asal biologis mereka sering terlihat oleh kehadiran fosil.

Beberapa batugamping sanggup terbentuk oleh pengendapan eksklusif kalsium karbonat dari air laut. Batugamping yang terbentuk dengan cara ini dikelompokan sebagai batuan sedimen kimia. Batugamping ini dianggap kurang melimpah dibandingkan batugamping biologis.

Pembentukan Batugamping pada Lingkungan Evaporasi

Batugamping juga sanggup terbentuk melalui penguapan. Stalaktit, stalakmit dan gugusan gua lainnya (sering disebut speleothems) yakni referensi dari batugamping yang terbentuk melalui penguapan. Di sebuah gua, tetesan air akan merembes dari atas memasuki gua melalui rekahan ataupun ruang pori di langit-langit gua, kemudian akan menguap sebelum jatuh ke lantai gua.

Ketika air menguap, setiap kalsium karbonat yang dilarutkan dalam air akan tersimpan di langit-langit gua. Seiring waktu, proses penguapan ini sanggup mengakibatkan akumulasi ibarat es kalsium karbonat di langit-langit gua, deposit ini dikenal sebagai stalaktit. Jika tetesan jatuh ke lantai dan menguap serta tumbuh/berkembang ke atas (dari lantai gua) depositnya disebut dengan stalakmit. Batu gamping yang membentuk gugusan gua ini dikenal sebagai "travertine" dan masuk dalam kelompok batuan sedimen kimia.

Lihat disini mengenai: Batuan Beku

Jenis-Jenis Batu Gamping (Batu Kapur)

Ada banyak nama berbeda dipakai untuk batugamping. Nama-nama ini didasarkan pada bagaimana batugamping terbentuk, penampilannya (tekstur), komposisi mineral penyusunnya, dan beberapa faktor lainnya. Berikut ini yakni beberapa jenis batugamping yang namanya lebih umum digunakan:
  1. Chalk: merupakan sebuah batugamping lembut dengan tekstur yang sangat halus, biasanya berwarna putih atau abu-abu. Batuan ini terbentuk terutama dari cangkang berkapur organisme maritim mikroskopis ibarat foraminifera atau dari aneka macam jenis ganggang laut.
  2. Coquina: merupakan sebuah batugamping berangasan yang tersemenkan, yang tersusun oleh sisa-sisa cangkang organisme. Batuan ini sering terbentuk pada tempat pantai dimana terjadi pemisahaan fragmen cangkang dengan ukuran yang sama oleh gelombang laut.
  3. Fossiliferous Limestone: merupakan sebuah batugamping yang mengandung banyak fosil. Batuan ini secara umum dikuasai tersusun atas cangkang dan skeleton fosil suatu organisme.
  4. Lithographic Limestone: merupakan sebuah batugamping padat dengan ukuran butir sangat halus dan sangat seragam, yang terjadi di dalam sebuah lapisan tipis membentuk permukaan sangat halus.
  5. Oolitic Limestone: merupakan sebuah batugamping yang terutama tersusun oleh kalsium karbonat "oolites", berbentuk bulatan kecil yang terbentuk oleh hasil presipitasi konsentris kalsium karbonat pada butir pasir atau cangkang fragmen.
  6. Travertine: merupakan sebuah batugamping yang terbentuk oleh presipitasi evaporasi, sering terbentuk di dalam gua, yang menghasilkan deposit ibarat stalaktit, stalakmit dan flowstone.

Batu gamping yakni batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat  √ Pengertian, Jenis, dan Kegunaan Batu Gamping (Batu Kapur)
Gambar macam-macam jenis batugamping dan lingkungan pembentukannya.

Kegunaan Batu Gamping (Batu Kapur)

Batugamping merupakan batuan dengan keragaman penggunaan yang sangat besar. Batuan ini menjadi salah satu batuan yang banyak dipakai dibandingkan jenis batuan-batuan lainnya. Sebagian besar batugamping dibentuk menjadi watu pecah yang sanggup dipakai sebagai material konstruksi seperti: landasan jalan dan kereta api serta agregat dalam beton. Nilai paling hemat dari sebuah deposit batugamping yaitu sebagai materi utama pembuatan semen portland.

Beberapa jenis batugamping banyak dipakai sebab sifat mereka yang berpengaruh dan padat dengan sejumlah ruang/pori. Sifat fisik ini memungkinkan batugamping sanggup bangun kokoh walaupun mengalami proses abrasi. Meskipun batugamping tidak sekeras batuan berkomposisi silikat, namun batugamping lebih gampang untuk ditambang dan tidak cepat mengakibatkan keausan pada peralatan tambang maupun crusher (alat pemecah batu).
Sumber http://www.geologinesia.com

Saturday, April 14, 2018

√ Jenis, Asal, Dan Kegunaan Kerikil Apung (Pumice)

Apa itu Batu Apung?

Batu apung (pumice) ialah batuan dengan ciri ciri utama berwarna jelas serta sangat berpori. Batu apung termasuk jenis batuan beku yang terbentuk dari hasil letusan eksplosif gunung berapi. Batuan ini biasanya disebut juga sebagai batuan gelas volkanik silikat alasannya ialah mengandung buih yang terbuat dari gelembung berdinding gelas.

Batu apung paling banyak dipakai sebagai agregat beton ringan dan sebagai materi abrasif pada aneka macam produk industri. Batu apun7g mempunyai porositas tinggi sehingga batu tersebut bisa mengapung di atas air.

Ciri-Ciri Batu Apung

Batu apung mempunyai sifat vesicular yang tinggi, mengandung jumlah sel yang banyak (berstruktur selular) akhir perluasan buih gas yang terkandung di dalamnya. Banyaknya ruang pori (Vesikel) pada kerikil apung yang dibatasi oleh dinding tipis menciptakan batuan ini mempunyai berat jenis yang sangat rendah. Batu apung biasanya mempunyai berat jenis kurang dari 1, sehingga menciptakan batuan ini bisa mengapung diatas air. Pada umumnya kerikil apung terdapat sebagai materi lepasan atau fragmen-fragmen dalam breksi gunungapi. Mineral-mineral yang terdapat dalam kerikil apung biasanya ialah feldspar, kuarsa, tridimit, dan kristobalit.

Batu apung mempunyai sifat kimia dan fisika antara lain: mengandung oksida SiO2, K2O, MgO, CaO, Al2O3, SO3, Fe2O3, Na2O, TiO2, dan Cl, LOI (Loss of Ignition) 6%, pH 5, berat jenis 0,8 gr/cm3, hantaran bunyi (sound transmission) rendah, water absorption (peresapan air) 16,67%, ketahanan terhadap api bisa hingga 6 jam, konduktifitas panas (thermal conductivity) rendah, dan rasio besar lengan berkuasa tekan terhadap beban cukup tinggi.

 ialah batuan dengan ciri ciri utama berwarna jelas serta sangat berpori √ Jenis, Asal, dan Kegunaan Batu Apung (Pumice)
Gambar kerikil apung (pumice) mengatakan banyaknya ruang pori (vesikel).

Macam-macam Jenis Batu Apung

Sebagian besar kerikil apung berasal dari magma yang mengandung gas yang mempunyai komposisi rhyolitik. Sangat jarang kerikil apung berasal dari magma yang berkomposisi basaltik ataupun andesitik. Letusan yang bersifat eksplosif akan mengeluarkan material gunungapi ke udara, kemudian material tersebut mengalami transportasi secara horizontal dan akan terakumulasi sebagai batuan piroklastik. Jenis batuan lainnya yang mempunyai struktur fisika dan asal terbentuknya sama dengan kerikil apung ialah pumicit, volkanik cinter, dan scoria.

Didasarkan pada material asalnya, cara pembentukan, dan distribusi ukuran partikelnya (fragmen), kerikil apung sanggup diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:
  1. Batu apung sub-areal
  2. Batu apung sub-aqueous
  3. Batu apung new ardante
  4. Batu apung hasil endapan ulang (redeposit)

Keterdapatan kerikil apung selalu berkaitan dengan rangkaian gunungapi berumur Kuarter hingga Tersier. Penyebaran kerikil apung di Indonesia pada umumnya melingkupi kawasan Pulau Lombok, Sukabumi, Serang, dan Pulau Ternate.

Asal Terbentuknya Batu Apung

Ruang pori (dikenal sebagai vesikel) pada kerikil apung merupakan petunjuk bagaimana batuan tersebut sanggup terbentuk. Vesikel bahwasanya merupakan gelembung gas yang terperangkap di batuan selama pendinginan cepat dari magma yang kaya akan gas. Material yang mengalami pendinginan sangat cepat tersebut menyebabkan atom-atom didalamnya tidak bisa mengatur diri untuk membentuk kristal. Inilah yang mendasari para andal mengkategorikan kerikil apung sebagai mineraloid alasannya ialah tersusun atas beling vulkanik amorf.

Lihat juga disini mengenai: Batuan Metamorf

Di bawah permukaan bumi, magma mengandung beberapa persen berat gas terlarut alasannya ialah mereka berada di bawah efek tekanan yang tinggi. Kondisi ini ibarat dengan karbon dioksida terlarut di dalam botol tertutup minuman berkarbonasi ibarat bir ataupun soda. Jika Anda mengguncang botol bir atupun soda tersebut, kemudian segera membuka botol, pelepasan tekanan secara tiba-tiba memungkinkan gas untuk keluar bercampur dengan buih/busa.

Gas yang bercampur dengan magma akan keluar melalui ventilasi vulkanik dalam bentuk buih cair. Selanjutnya, buih tersebut akan cepat mendingin saat di udara, dan jatuh kembali ke bumi sebagai potongan kerikil apung. Letusan gunung berapi terbesar sanggup mengeluarkan sangat banyak material vulkanik. Material tersebut sanggup terdiri atas aneka macam ukuran, mulai dari partikel debu yang halus hingga dengan blok besar batuan se-ukuran rumah.

Mafaat Batu Apung

Harga kerikil apung tidak semahal kerikil permata, tetapi kerikil apung sangat banyak kegunaannya. Dalam industri cat kerikil apung sanggup dimanfaatkan sebagai pelapis nonskid, cat sekat akustik, materi pengisi tekstur cat, dan sebagai flattening agents. Pada industri kimia kerikil apung sanggup dipakai sebagai media fitrasi, chemical carrier, dan pemicu korek api belerang.

Di industri logam dan plastik kerikil apung sanggup dipakai sebagai pembersih dan pemoles, vibr4t0ry and barrel finishing, pressure blasting, electro-plating, serta pembersih gelas dan kaca. Dalam industri kosmetik dan odol kerikil apung dipakai sebagai pemoles dan penambal gigi, serta untuk pemerata kulit. Di industri komponder, karet dan elektronika, kerikil apung sanggup dimanfaatkan sebagai bubuk sabun tangan, materi penghapus, dan pembersih papan sirkuit.
Sumber http://www.geologinesia.com

Thursday, March 29, 2018

√ Mengenal Batuan Ultramafik Dan Perbedaannya Dengan Utrabasa

Jika anda telah mengenal banyak sekali jenis materi tambang menyerupai nikel, kromit, intan, bijih besi, pasir besi, dan lain sebagainya, maka keberadaan batuan ultramafik sangatlah penting alasannya berperan menghasilkan bijih-bijih tersebut. Dalam hal ini, batuan ultramafik akan sering bertindak sebagai batuan sumber (source rocks) dari bijih-bijih tersebut. Selain itu, batuan ultramafik telah menerima banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir, alasannya beberapa darinya dianggap mewakili sampel mantel yang biasanya tidak sanggup diakses.

Batuan ultramafik dicirikan dengan kandungan olivin magnesian (Mg2SiO4) tinggi dan SiO2 yang rendah (kurang dari 45 wt.%) dan ditemukan di banyak sekali lingkungan batuan beku di seluruh dunia. Kebanyakan batuan ultramafik memiliki karakteristik baik sebagai batuan beku plutonik maupun batuan metamorf, dan batuan yang ditemukan di kerak meliputi jenis batuan beku dan metamorf, sedangkan yang dari mantel hanya meliputi batuan metamorf. Batuan ultramafik yang tersingkap di permukaan bumi bahwasanya hanya sedikit, dan sangat terekristalisasi/terserpentinisasi selama emplacement tektonik atau pengangkatan.


Istilah "ultramafik" dan "ultrabasa" masing-masing berafiliasi secara pembagian terstruktur mengenai mineralogi dan kimia batuan, tetapi keduanya dipakai agak longgar. Batuan ultramafik didefinisikan sebagai batuan dengan indeks warna lebih dari 70, dan batuan ultrabasa mengandung SiO2 kurang dari 45 persen (Williams et al. 1954).

Kebanyakan batuan ultramafik yakni batuan ultrabasa dan sebagian besar batuan ultrabasa juga ultramafik, tetapi ada pengecualian; bila ada magma ultrabasa (penggunaan komposisi), maka batuannya sanggup tidak ultramafik (penggunaan mineralogi). Oleh alasannya itu, kedua istilah ini berguna spesifik dan harus dipertahankan.

 Jika anda telah mengenal banyak sekali jenis materi tambang menyerupai nikel √ Mengenal Batuan Ultramafik dan Perbedaannya dengan Utrabasa
Komposisi kimia batuan ultramafik.

Sebagian besar batuan ultramafik awalnya peridotit, terbentuk di mantel atas, dan kemudian terubah menjadi serpentinit, secara tepat ataupun sebagian, oleh fluida kerak selama perjalanannya ke posisi tektoniknya dikala ini. Batuan ultramafik di bab kerak bumi yang tampak, khas terdapat dalam badan relatif kecil di jalur sempit orogen sedang hingga kuat. Singkapan batuan ultramafik sanggup menempati ratusan kilometer persegi atau kira-kira sekecil sampel setangan yang tergabung ke dalam zona sesar.


Contoh umum batuan ultramafik yakni peridotite dan pyroxenite dari kompleks alpine, berlapis; komatites dan basalt ultramafik dari sikuen Greenstone. Batuan ultramafik, mulai dari komposisi dunit hingga harzburgit hingga lherzolite, cenderung menawarkan cumulate, tectonite (Raymond, 2002) maupun penggantian tekstur (Kubo, 2002).

Batuan ultramafik (terutama peridotit dan serpentinit) terdistribusi di seluruh dunia (Goff & Lackner 1998), yang paling sangat besar dan tersebar luas yakni peridotites Alpine yang membentuk bantalan sikuen ofiolit, yaitu lempeng kerak samudera terangkat dan tererosi sepanjang zona subduksi kini dan masa lalu, dan batas lempeng (Coleman 1977). Peridotit bantalan mewakili keratan (slices) mantel atas Bumi yang terlepas yang tersingkap oleh proses tektonik (Dickinson dkk. 1996).

Karena peridotit bantalan terjadi sebagian besar di sepanjang lempeng atas zona subduksi kini dan masa lalu, ofiolit ditemukan sebagai jalur di sebagian besar dunia, memiliki dimensi singkapan terputus-putus maksimum 100 x 1000 km. Dilihat dalam skala singkapan ternyata batuan ultramafik bantalan di sabuk ofiolit ditemukan sebagai pita-pita memanjang dan fragmen-fragmen yang sejajar dengan struktur geologi regional.


Proses tektonik yang menyebabkan ofiolit dan singkapan fragmen-fargmen memanjang mantel peridotit atas sangatlah kompleks dan biasanya memerlukan waktu beberapa juta tahun untuk mencapainya (Coleman 1977). Dengan memakai teori tektonik lempeng, proses ini relatif gampang untuk memvisualisasikan secara umum, tetapi boleh jadi sulit untuk memvisualisasikan dikala menilik badan ultramafik di lapangan. Namun, fitur lain dari ultramafik menyerupai umur dan lokasi murninya di bab ofiolit (tectonites vs cumulates) bahwasanya belum terpahami dengan baik.

Sumber http://www.geologinesia.com

Tuesday, March 27, 2018

√ Kontroversi Asal Batuan Ultramafik Ciletuh

Batuan Ultramafik di Ciletuh merupakan fenomena yang sampai dikala ini masih sering menjadi perdebatan. Fitur Ciletuh dimana banyak juga terlihat batuan-batuan sedimen maritim dalam, mantel atas Bumi, batuan metamorf yang dibuat di palung subduksi lempeng, dan batuan lereng benua merupakan sumber data yang saling berkaitan erat untuk sanggup menjelaskan bagaimana batuan ultramafik di Ciletuh sanggup terbentuk. Sebelum kita membahas mengenai Ultramafik Ciletuh, ada baiknya kita merefresh kembali pengetahuan perihal pembentukan batuan ultramafik secara umum yang sudah banyak dijelaskan oleh para andal baik dalam bentuk buku, journal, paper, dan lain sebagainya.


Pembentukan Batuan Ultramafik

Batuan ultramafik umumnya dibagi menjadi tiga kelompok, yakni: (a) yang berafiliasi dengan intrusi berlapis menyerupai kompleks Bushveld dan Stillwater, (b) peridotites Alpine; dan (c) badan ultramafik zoned (ditandai dengan lingkaran) Alaska. Istilah peridotit Alpine atau serpentinit awalnya diterapkan untuk badan ultramafik yang dibatasi sesar yang terletak dalam geosynclinal terlipat, sedimen dalam jalur orogen.

Penggunaan istilah ini telah diperluas meliputi badan ultramafik selain dari jenis (a) dan (c) diatas. Dengan demikian kelompok ini termasuk dalam badan mulai dari keratan sesar serpentinit sampai massa besar peridotit tak terubah; sebagian besar terdapat di jalur orogen, tetapi tidak selalu terkait dengan sedimen geosynclinal terlipat, dan banyak yang berkaitan erat dengan gabro, diorit kuarsa, dan basalt. Peridotit Alpen meliputi jenis mantel primer (lherzolite alumina atau pyrolite) dan mantel refaktori (dunit-harzburgit).

Asal batuan mafik dan asosiasi ultramafik telah menjadi subyek banyak spekulasi. Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa batuan ini merupakan bab ofiolit, kompleks pluton, atau terranes melange (Misra dan Keller, 1978; McElhaney & McSween, 1983; Abbott dan Raymond, 1984; Hatcher, dkk., 1984; Misra dan McSween, 1984). Shaw & Wasserburg (1984), memakai data isotop, memperlihatkan bahwa beberapa badan dunit besar dan asosiasi kompleks mafik, menyerupai Young Harris thrust sheet, memiliki tanda mantel terdeplesi dan boleh jadi merupakan fragmen dari kerak samudera.

Terjadinya batuan ultramafik padat, peridotit, penyusun utama mantel bumi, di permukaan benua membutuhkan mobilitas vertikal yang signifikan. Hal demikian tidak mengherankan bahwa di jalur orogen dimana benua bertabrakan dan gerakan tektonik besar terjadi keterdapatan sebagian besar peridotites relatif jarang.

Batuan metamorf tekanan tinggi terbaik yang merekam gerakan vertikal yang terlibat dalam orogenesis ialah eklogit dan sekis biru yang sebagian besar terdiri dari batuan asal permukaan, sehingga menyiratkan siklus tektonik pembebanan dan ekshumasi. Segmen orogen dimana tekanan tinggi dan penyusun ultramafik terjadi berdekatan, maka merupakan kawasan kunci dalam menjawab pertanyaan fundamental mengenai "bagaimana batuan asal mantel menyatu dengan sikuen batuan permukaan subduksi-ekshumasil?".

Jawaban yang kurang lengkap untuk teka-teki perpindahan batuan ultramafik ke dalam kerak ditentukan oleh kerabat ofiolit yang adakala mewakili bab lempeng samudera yang terdestruksi lepas di zona subduksi, dan diangkut ke atas foreland benua yang berdekatan. Berdasarkan tatanan tektoniknya dua jenis utama ophiolites sanggup dibedakan (Moores 1982; Coleman 1984; Wakabayashi & Dilek 2003), yaitu:
  1. Ofiolit yang terdapat sebagai thrust sheets tebal yang ber-baring pada lapisan dasar/substrat pasif marjin dan umumnya terkait dengan aureoles metamorf suhu tinggi pada alasnya (misalnya ofiolit Semail, Oman, ofiolit Pindos, Yunani).
  2. Tubuh ofiolit yang terdapat sebagai blok-blok dalam tektonik melange blueschist sebagai bab prisma akresi (misalnya melange Fransiskan).

Perbedaan dalam cara terjadinya dan konteks tektonik dari kedua jenis tersebut diatas, mencerminkan asal dan cara alih-tempatnya, yaitu: ofiolit jenis Tethyan dibuat oleh thrusting lempeng litosfer samudera ke atas tepi benua pasif; sedangkan kenaikan bab kerak (upheaval) dari fragmen samudera dalam prisma akresi Margin aktif menghasilkan ofiolit jenis Cordilleran.


Kontroversi Batuan Ultramafik Ciletuh

Keterdapatan batuan ultramafik (peridotit dan serpentinit) di kawasan Ciletuh masih merupakan subjek perbedaan pendapat di antara peneliti-peneliti sebelumnya. Sukamto (1975) menafsirkannya sebagai batuan terobosan, sedangkan Thayyib dkk., (1977) memasukkannya sebagai Ophiolite group, atau dinamakan sebagai ophiolitic assemblage oleh Schiller, dkk., (1991) atau ophiolitic rocks berdasarkan Garrard dkk., (1990) yang berafiliasi dengan sedimen bancuh. Noeradi (1977), menafsirkan semua batuan ultramafik tersebut sebagai fragmen atau bongkah-bongkah eksotik dalam Formasi Ciletuh.

Batuan Ultramafik di Ciletuh merupakan fenomena yang sampai dikala ini masih sering menjadi  √ Kontroversi Asal Batuan Ultramafik Ciletuh
Model tektonik Ciletuh.

Massa batuan ultramafik di kawasan Ciletuh tersingkap dalam singkapan tersebar, serperti kantong-kantong (enclaves), dalam Formasi Ciletuh, dengan kecenderungan berarah timur maritim ± barat-daya, yang memperlihatkan kesan menyerupai badan intrusi (Sukamto, 1975), ataupun sebagai bongkah-bongkah eksotik dalam Formasi Ciletuh (Noeradi, 1997).

Batuannya terdiri dari peridotit dan serpentinit, yang berasosiasi dengan gabro, basalt berstruktur bantal. Asosiasi peridotit-serpentinit ini dengan gabro, basalt berstruktur bantal, memperlihatkan kesan yang memperlihatkan bahwa batuan tersebut sanggup mewakili bab himpunan ofiolit (Thayyib dkk., 1977; Schiller, dkk., 1991; Garrard dkk.,1990).


Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka diduga asal keberadaan badan batuan ultramafik dalam Komplek Ofiolit Ciletuh dispekulasikan merupakan relics sheet bersinambung kerak samudera yang emplaced di atas mikrokontinen. Bagian sheet menjadi tidak lengkap (dismembered) selama emplacement, dan selanjutnya tertimbun (brial) oleh kejadian geologi berikutnya (mungkin proses sedimentasi yang menghasilkan Formasi Ciletuh) yang sebagian besar menyembunyikan menutupi ofiolitik, dan hanya menyisakan badan ultramafik tersebar di sebagian besar kawasan Ciletuh Jawa Barat.

Spekulasi dugaan asal keberadaan badan batuan ultramafik dalam Komplek Ofiolit Ciletuh ini tidaklah baru, alasannya ialah sebelumnya Parkinson (1998); beranggapan bahwa Komples Ciletuh Pra-Tersier merupakan himpunan batuan mengandung interthrust slices ultramafik terserpentinisasi dengan sebagaian retas gabro teramfibolitkan, basalt berstruktur bantal, breksi volkanik, hialoklastit dan batupasir greywacke.

Sumber http://www.geologinesia.com

Wednesday, March 21, 2018

√ Mengenal Watu Gamping (Batu Kapur Atau Limestone)

Batu gamping merupakan batuan sedimen dengan komposisi utama mineral kalsit (CaCO3), dolomit CaMg (CO3)2 dan aragonit (CaCO3), terbentuk dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik dan kimia. Sebagian besar kerikil gamping di alam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari kumpulan endapan cangkang kerang, siput, foraminifera, ganggang, atau berasal dari kerangka hewan yang telah mati.


Batu gamping tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia dengan karakteristik yang berbeda-beda, hal ini terjadi alasannya dipengaruhi oleh kondisi geologi masing-masing daerah. Neraca sumberdaya mineral tahun 2013 menawarkan sumberdaya kerikil gamping di Pulau Jawa 12.288,95 juta ton; Pulau Sumatera 103.198,08 juta ton; Pulau Kalimantan 36.076,83 juta ton; Pulau Sulawesi 95.518,85 juta ton; Pulau Papua 244.082,73 juta ton; Pulau Bali 7.191,79 juta ton; Kepulauan Maluku dan Halmahera 93.345,22 juta ton; Kepulauan Nusa Tenggara 55.393,04 juta ton.

 merupakan batuan sedimen dengan komposisi utama mineral kalsit  √ Mengenal Batu Gamping (Batu Kapur atau Limestone)
Gambar macam-macam kenampakan kerikil gamping.

Batu gamping yang telah diolah sanggup dipakai sebagai materi baku utama atau penyerta pada banyak sekali macam industri dengan persyaratan diantaranya harus memiliki:
  1. Derajat kemurnian (Kadar CaO)
  2. Kandungan unsur pengotor (Mg, Al, Fe, P, S, Na, K, dan F).
  3. Kandungan Mineral Pengotor (kuarsa, pirit, dan markasit)
  4. Sifat fisik tertentu (kecerahan, ukuran butir, luas permukaan, dan kelembapan).


Batu gamping sanggup dipakai antara lain untuk pembuatan kapur tohor dan kapur padam, semen, karbid, peleburan dan pemurnian baja, materi penggosok, materi keramik, kaca, bata silika, kertas, karet, pembuatan soda abu, penjernih air, proses pengendapan bijih logam bukan besi, pembuatan gula, dan untuk pertanian.

Catatan: Penulisan yang benar terhadap nama batuan ini bekerjsama ialah "batugamping" (tanpa spasi). Penulis menuliskan nama "batu gamping" (dengan spasi) dalam postingan diatas hanya untuk memudahkan pencarian atas artikel ini.

Sumber http://www.geologinesia.com