Showing posts with label Silogisme. Show all posts
Showing posts with label Silogisme. Show all posts

Friday, November 2, 2018

√ Pengertian Paragraf Silogisme Beserta Jenis Dan Contohnya

Paragraf silogisme merupakan salah satu di antara jenis-jenis paragraf, selain paragraf deduktif, paragraf induktif, paragraf ineratif, paragraf campuran, paragraf deskripsi, dan juga paragraf argumentasi. Bisa dibilang, paragraf ini merupakan paragraf yang unik dibanding dengan paragraf lainnya. Sebab, paragraf ini memiliki pola khusus, yakni PU + PK = K. Pada artikel kali ini, kita akan membahas khusus pengertian dari paragraf ini, disertai dengan jenis dan juga contoh-contohnya. Adapun pembahasan tersebut yakni sebagai berikut!


Pengertian Paragraf Silogisme


Secara sederhana, paragraf silogisme yakni paragraf yang mengandung unsur silogisme. Silogisme sendiri merupakan proses penarikan kesimpulan dari dua pernyataan. Paragraf silogisme merupakan suatu paragraf yang berisi penggabungan dua pernyataan yang disimpulkan oleh dua kesimpulan. Adapun dua pernyataan tersebut biasa disebuat dengan sebutan premis. Dalam silogisme, premis terbagi menjadi dua, yaitu premis umum dan premis khusus. Premis umum merupakan pernyataan umum ihwal suatu hal. Sementara itu, premis khusus yakni pernyataan khusus yang masih bekerjasama dengan premis umum. Kedua premis inilah yang kelak  disimpulkan sebagai suatu kesimpulan.


Kehadiran dua premis tersebut membuahkan rumus bagi terciptanya paragraf ini, yaitu PU + PK = K, di mana:


PU = Premis Umum.

PK = Premis Khusus.

K = Kesimpulan.


Jenis-Jenis Paragraf Silogisme beserta Contohnya


Menurut laman id.wikipedia, silogisme terbagi menjadi lima, yaitu: kategorial, alternatif, entinem, disjungtif, dan hipotektik. Jenis-jenis silogisme inilah yang kemduian membentuk jenis-jenis paragraf silogisme, di mana jenis-jenis paragraf ini terdiri atas:


1. Paragraf Silogisme Kategorial


Paragraf ini merupakan paragraf silogisme yang PK-nya menjadi subjek K, dan PU-nya berperan sebagai predikat K. Misalnya:


Polanya:


PU: Semua binatang perlu makan.

PK: Kucing yakni hewan.

K: Kucing perlu makan.


Bentuk Paragrafnya:


Semua binatang perlu makan, termasuk seekor kucing. Kucing sendiri merupakan salah satu binatang yang ada di dunia. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa seekor kucing sangat perlu makan laiknya binatang lainnya.


2. Paragraf Silogisme Alternatif


Paragraf ini merupakan paragraf yang PU-nya berupa kalimat pilihan, dan PK-nya menentukan salah satu pilihan tersebut. Misalnya:


Polanya:


PU: Rafli akan berlibur ke Yogyakarta atau Bandung.

PK: Rafli akan berlibur ke Bandung.

K: Rafli tidak akan berlibur ke Yogya


Bentuk paragrafnya:


Pada libur semester nanti, Rafli masih gundah ingin berlibur ke mana. Dia masih belum dapat menentukan apakah beliau akan berlibur ke Yogyakarta atau berlibur ke Bandung. Sebetulnya, Rafli sudah mantap ingin berlibur ke Yogyakarta sebab belum pernah ke sana. Namun, entah apa pasalnya, beliau justru malah memutuskan akan berlibur ke Bandung. Dengan dipilihnya keputusan itu, maka kesempatan Rafli berlibur ke Yogakarta untuk pertama alinya pun sirna.


3. Paragraf Silogisme Entimen


Paragraf silogisme ini merupakan paragraf yang terdiri atas PK dan K saja. Contoh:


Polanya:


PK: setiap orang berhak melindungi harga dirinya.

K: kau berhak melindungi harga dirimu.


Paragrafnya:


Setiap orang berhak melindungi harga dirinya, apalagi ketika diancam. Oleh sebab itulah, kau juga berhak melindungi harga dirimu dari setiap bahaya yang akan merusak dan merendahkan harga dirimu.


4. Paragraf Silogisme Disjungtif


Merupakan paragraf silogisme yang terbentuk dari PK yang berupa pilihan, dan PU yang merupakan sangkalan atau pembenaran dari pilihan tersebut. Contoh:


Polanya:


PU: Andri jujur atau tidak

PK: ternyata Andri jujur

K: beliau tidak berbohong


Paragrafnya:


Kami masih belum dapat menyimpulkan apakah perkataan Andri itu jujur atau tidak. Setelah kami telusuri, ternyata apa yang dikatakan Andri itu yakni perkataan yang jujur. Akhirnya, kau pun mempercayai perkataannya, sekaligus percaya bahwa beliau tidaklah berbohong kepada kami.


5. Paragraf Silogisme Hipotektik


Merupakan paragraf yang PU-nya mengandung perrnyataan pengandaian yang diawali dengan kata jika. Misalnya:


Pola:


PU: kalau libur semester tiba, saya akan berlibur ke Kuta.

PK: Sekarang libur semester.

K: Aku berlibur ke Kuta


Paragraf:


Sebelum libur semseter tiba, saya telah berniat akan berlibur ke Kuta kalau libur semester datang nanti. Kebetulan, hari ini sudah masuk libur semester. Jadi, hari ini saya akan berlibur ke Kuta.


Demikianlah pembahasan mengenai pengertian paragraf silogisme beserta dengan jenis dan contohnya. Semoga bermanfaat.



Sumber https://dosenbahasa.com

Thursday, November 1, 2018

√ 5 Teladan Paragraf Silogisme Dalam Bahasa Indonesia

Sebelumnya, kita telah mengetahui sperti apa pengertian paragraf silogisme. Adapun pengertian dari paragraf silogisme sendiri merupakan paragraf yang berisi penarikan kesimpulan dari dua buah premis atau pernyataan. Paragraf ini biasanya isusun dengan rumus PU + PK = K, di mana PU ialah Premis Utama; PK ialah Premis Khusus,; dan K ialah kesimpulan. Untuk mengetahui speerti apa bentuk paragraf ini, maka di artikel kali ini akan ditampilkan beberapa pola dari jenis paragraf ini. Adapun contoh-contoh tersebut ialah sebagai berikut!


Contoh 1:


Polanya:


PU: Semua binatang perlu makan

PK: kucing merupakan hewan

K: kucing perlu makan


Paragrafnya:


Semua binatang perlu makan. Sebab, tanpa makan, maka binatang tidak akan punya tenaga dan mati. Kucing ialah salah satu binatang yang ada di muka bumi. Kucing memerlukan makan untuk menambah tenaga mereka, sehingga kucing sangat memerlukan makan.


Contoh 2:


Polanya:


PU: Laras akan membeli gaun atau batik.

PK: Laras membeli batik.

K: Laras tidak jadi membeli gaun.


Paragrafnya:


Suatu hari, Laras berjalan-jalan ke mal untuk berbelanja. Rencananya, Laras akan membeli gaun atau batik yang diincarnya semenjak lama. Saat hingga di toko baju yang ada di mal, Laras melihat sebuah gaun yang menarik hatinya. Sempat ingin membeli gaun tersebut, namun hal itu beliau urungkan. Sebab, harga gaun itu terlalu mahal baginya. Akhirnya, beliau pun memutuskan untuk membeli batik saja. Dengan demikian, niat Laras untuk membeli gaun pun telah beliau urungkan.


Contoh 3:


Polanya:


PU: beliau orang baik atau jahat

PK: ternyata beliau baik

K: beliau bukan orang jahat


Paragrafnya:


Aku masih belum sanggup menyimpulkan apakah beliau orang baik atau jahat. Dibilang baik, tetapi kelakukannya terkadang membuatku nyaris celaka. Dibilang jahat, tapi beliau sudah menolongku berkali-kali. Akhirnya, saya pun mencoba menyidik siapa dari dari orang-orang terdekatnya. dari semua orangorang terdekatnya itu, mereka semua berkata bahwa beliau bekerjsama ialah orang yang baik, hanya saja adakala beliau suka bertindak ceroboh yang menciptakan orang-orang di sekitarnya celaka. Dari situ saya pun memutuskan bahwa beliau bukan orang jahat, melainkan hanya orang baik yang suka bertindak ceroboh.


Contoh 4:


Polanya:


PU: bila saya rangking satu, ibu akan memberiku hadiah.

PK: saya rangking satu.

K: saya menerima hadiah dari ibu.


Paragrafnya:


Sebelum rapor kenaikan kelas dibagikan, ibu pernah berjanji bahwa bila saya rangking satu, maka ibu akan memberikanku hadiah. Saat pembagian rapor kemarin, saya ternyata menerima rangking satu. Itu artinya, sebentar lagi saya akan menerima hadiah dari ibuku.


Contoh 5:


Polanya:


PU: bila saya bertemu dengannya, saya akan memberikan salammu padanya.

PK: saya tak bertemu dengannya.

K: salammu tak kusampaikan.


Paragrafnya:


Aku masih ingat janjiku kepadamu waktu itu, yaitu: bila saya bertemu dengannya, saya akan memberikan salammu padanya. Sayangnya, saya tak bertemu dengannya beberapa hari terakhir. Karena itulah, salammu tak sanggup kusampaikan padanya.


Demikianlah beberap pola paragraf silogisme dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin menambah rujukan soal pola paragraf lainnya, maka pembaca sanggup membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh paragraf induktif perihal sekolah; contoh paragraf deskripsi perihal ekonomi; contoh paragraf deduktif perihal lingkungan; contoh paragraf induktif dan deduktif; contoh paragraf ineratif dan campuran; serta contoh paragraf analogi perihal cinta. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 6 Teladan Paragraf Silogisme Kategorial Dalam Bahasa Indonesia

Paragraf silogisme kategorial yakni paragraf yang mengandung unsur silogisme kategorial. Silogisme ini merupakan final dari pernyataan khusus dan pernyataan umu, di mana pernyataan khusus menjadi subjek simpulan, dan pernyataan umum merupakan predikat simpulannya. Seperti halnya paragraf silogisme pada umumnya, paragraf silogisme kategorial juga memakai PU + PK = K sebagai pola penulisannya.


Pada artikel kali ini, kita akan mengetahui ibarat apa contoh-contoh dari paragraf silogisme ini. Adapun beberapa teladan tersebut yakni sebagai berikut ini!


Contoh 1: 


Polanya:


PU: Semua siswa SMPN 77 berkumpul di depan lapangan sekolah

PK: Andi siswa SMPN 77.

K: Andi berkumpul di depan lapangan sekolah


Paragrafnya:


Hari ini, semua siswa SMPN 77 berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Kebetulan, Andi merupakan salah satu siswa dari SMPN tersebut. Dengan begitu, Andi juga ikut berkumpul di depan lapangan sekolah.


Contoh 2:


Pola:


PU: Seluruh karyawan PT. Dayaguna menerima parsel lebaran.

PK: Pak Untara merupakan karyawan PT. Daya Guna

K: Pak Untara menerima parsel lebaran.


Paragrafnya:


Pada hari lebaran nanti, seluruh karyawan PT. Dayagina menerima parsel lebaran dari perusahaan. Kebetulan, tetangga kami yang berjulukan Pak Untara merupakan karyawan dari perusahaan tersebut. Dengan begitu, beliau berhak untuk menerima parsel lebaran.


Contoh 3: 


Pola:


PU: korupsi dibenci oleh rakyat

PK: sebagian pejabat korupsi

K: sebagian pejabat dibenci oleh rakyat


Paragraf:


Korupsi merupakan tindak kriminal yang paling dibenci oleh rakyat. Sayangnya, tindakan kriminal ini dilakukan oleh sebagian pejabat kita. Hal ini menciptakan sebagian pejabat tersebut jadi dibenci oleh rakyat yang sudah menentukan dan mempercayakan mereka.


Contoh 4: 


Pola:


PU: karyawan perusahaan ini tidak kunjung digaji.

PK: Pak Didi karyawan di perusahaan ini.

K: Pak Didi tidak kunjung digaji.


Paragrafnya:


Perusahaan ini terbilang zalim sebab karyawannya tidak kunjung digaji juga. Pak Didi merupakan salah satu karyawan di perusahaan ini. Maka, sanggup disimpulkan bahwa Pak Didi juga tak kunjung digaji slaiknya karyawan lain di perusahaan ini.


Contoh 5: 


Pola:


PU: siswa kelas X-E SMAN 91 tidak mengikuti karya wisata hari ini.

PK: Sandi merupakan siswa kelas X-E.

K: Sandi tidak mengikuti karya wisata hari ini.


Paragrafnya:


Semua siswa kelas X-E SMAN 91 tidak mengikuti karya wisata. Hal ini dikarenakan mereka akan melaksanakan kegiatan tersebut pada hari Rabu yang akan datang. Sandi merupakan siswa kelas X-E. Maka, sanggup disimpulkan bahwa Sandi tidak mengikuti karya wisata hari ini.


Contoh 6: 


Pola:


PU: Semua siswa yang hadir hari ini akan mengikuti investigasi gigi secara gratis

PK: Rudi tidak hadir hari ini.

K: Rudi tidak akan mengikuti investigasi gigi secara gratis.


Paragraf:


Semua siswa yang hadir hari ini akan investigasi gigi secara gratis. Pemeriksaan gigi ini dilakukan sekaligus untuk memberi edukasi kepada para siswa akan pentingnya menjaga kesehatan gigi. Sayangnya, dari semua siswa tersebut, hanya Rudi yang tidak hadir hari ini. Hal tersebut menciptakan beliau tidak akan mengikuti investigasi gugu secara gratis pada hari ini.


Demikianlah beberapa contoh paragraf silogisme kategorial dalam bahasa Indonesia. JIka pembaca ingin menambah rujukan soal paragraf silogisme dan paragraf lain, maka pembaca sanggup membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh paragraf induktif dan deduktif, pengertian paragraf silogisme, paragraf induktif, paragraf deduktif, paragraf ineratif, dan paragraf argumentasi. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Wednesday, October 31, 2018

√ 6 Referensi Paragraf Silogisme Hipotektik Dalam Bahasa Indonesia

Salah satu diantara jenis-jenis paragraf yaitu paragraf silogisme. Paragraf silogisme merupakan paragraf yang berisi kesimpulan (K) dari premis umum (PU) dan juga premis khusus (PK). Paragraf ini sendiri terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, di mana salah satu jenisnya yaitu paragraf silogisme hipotektik. Paragraf ini merupakan paragraf silogisme yang premis umumnya berupa kalimat pengandaian yang didepannya sering diawali dengan kata jika atau bila.


Untuk mengetahui menyerupai apa bentuk dari paragraf ini, berikut akan ditampilkan beberapa pola di antaranya. Adapun beberapa contoh paragraf silogisme hipotektik tersebut dapat disimak di bawah ini!


Contoh 1: 


Polanya:


PU: jikalau saya kaya nanti, maka akan kusumbangkan separuh hartaku ke panti asuhan.

PK: saya kini sudah kaya.

K: saya akan menyumbangkan separuh hartaku ke panti asuhan.


Paragrafnya:


Suatu hari, saya pernah berjanji bahwa jikalau saya kaya nanti, maka akan kusumbangkan separuh hartaku ke panti asuhan. Kini, saya sudah terbilang orang yang kaya. Jadi, hari ini saya akan menyumbangkan separuh hartaku ke panti asuhan.


Contoh 2: 


Polanya


PU: bila sore nanti tidak hujan, saya akan pergi ke toko buku.

PK: sore ini tidak hujan.

K: saya akan pergi ke toko buku.


Kalimatnya:


Sebelumnya, saya berniat pada diriku, bahwa bila sore nanti tidak hujan, saya akan pergi ke toko buku. Kebetulan, sore ini sedang tidak hujan. Jadi, sore ini saya akan eksklusif pergi ke toko buku.


Contoh 3:


Polanya:


PU: jikalau saya bertemu dengannya, saya akan mengembalikan buku ini padanya.

PK: saya tak kunjung bertemu dengannya.

K: saya tidak jadi mengembalikan buku ini.


Paragrafnya:


Hari ini saya akan mengembalikan buku ini padanya jikalau saya bertemu dengannya. Sayangnya, saya tak kunjung bertemu dengannya. Aku pun hasilnya tidak jadi mengembalikan buku ini padanya.


Contoh 4:


Polanya:


PU: jikalau saya memenangi lomba ini, maka saya akan mentraktir teman-temanku.

PK: saya tidak memenangi lomba ini.

K: saya tidak jadi mentraktir teman-temanku.


Paragrafnya:


Sebelum mengikuti lomba, saya sempat bernazar kepada teman-temanku bahwa saya akan mentraktir mereka jikalau saya memenangi lomba ini. Sayangnya, saya malah tidak memenangi lomba ini. Akhirnya, saya pun tak jadi mentraktir teman-temanku.


Contoh 5:


Polanya:


PU: Bila hari ini hujan, maka awan akan mendung.

PK: awan tidak mendung.

K: hari ini tidak hujan.


Paragrafnya:


Bila hari ini hujan, maka awan niscaya akan menjadi mendung. Namun, sejauh yang saya lihat, awan hari ini tidak mendung juga. Itu berarti hari ini niscaya tidak akan terjadi hujan.


Contoh 6:


Polanya:


PU: jikalau piknik kita hari ini jadi, niscaya Ale akan menghubungi kita.

PK: Ale tidak menghubungi kita.

K: piknik kita hari ini tidak jadi.


Paragrafnya:


Kemarin, Ale berpesan kepadaku, jikalau piknik kita hari ini jadi, Ale niscaya akan menghubungi kita. Tetapi, hari ini Ale tidak menghubungi kita sama sekali. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa piknik kita hari ini tidak jadi.


Demikianlah beberapa pola paragraf hipotektik dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa acuan soal paragraf silogisme dan paragraf lainnya, maka pembaca dapat membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh paragraf silogisme kategorial; perbedaan paragraf induktif dan deduktif; contoh paragraf induktif dan deduktif; perbedaan paragraf adonan dan ineratif; serta artikel contoh paragraf ineratif dan campuran. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 4 Teladan Paragraf Silogisme Alternatif Dalam Bahasa Indonesia

Sebelumnya, kita telah mengetahui apa itu pengertian paragraf silogisme, di mana paragraf ini didefinisikan sebagai paragraf yang mengandung silogisme. Selain pengertian, kita juga sudah mengetahui beberapa contoh paragraf silogisme dari tiap jenisnya, mulai dari pola paragraf silogisme kategorial, hingga contoh paragraf silogisme hipotektik.


Khusus untuk artikel kali ini, kita akan mengetahui beberapa pola paragraf silogsme jenis lain, yaitu pararaf silogisme alternatif. Paragraf silogisme ini merupakan paragraf silogisme yang PU-nya berupa pilihan-pilihan tertentu. Adapun beberapa pola dari paragraf ini sendiri ialah sebagai berikut ini!


Contoh 1:


Polanya:


PU: Ade ada di Garut atau di Bogor

PK: Ade ada di Bogor

K: Ade tidak ada di Garut


Paragrafnya:


Banyak spekulasi yang menyampaikan bahwa Ade ketika ini ada di kota Garut ataupun Bogor. Dari semua spekulasi tersebut, spekulasi bahwa Ade ada di Garut ialah spekulasi yang paling kuat. Bermodalkan spekulasi tersebut, kami pun memutuskan untuk mencari Ade ke sana. Setelah dicari, ternyata Ade tidak ada di kota Garut. Mengetahui hal itu, kami pun kemudian memutuskan pergi ke Bogor untuk mencarinya dengan cita-cita ia ada di sana. Sesampainya di sana, ternyata cita-cita kami terwujudkan. Ade ternyata ada di Bogor. Keberadaan Ade di Bogor menjadi bukti bahwa spekulasi wacana Ade yang ada di Garut itu salah. Sebab, Ade itu tidak ada di Garut, tapi di Bogor.


Contoh 2:


Polanya:


PU: Laras akan menggunakan gaun atau batik.

PK: Laras akan menggunakan batik.

K: Laras tidak akan menggunakan gaun.


Paragrafnya:


Suatu hari, Laras diberi pilihan oleh ibunya; apakah di pesta nanti ia akan menggunakan gaun atau menggunakan batik. Dengan mantap, Laras memutuskan akan menggunakan batik. Karena menentukan untuk menggunakan batik, maka pada pesta nanti Laras tidak akan menggunakan gaun ibarat pesta-pesta sebelumnya.


Contoh 3:


Polanya:


PU: Dedi akan berkuliah di dalam nageri atau luar negeri.

PK: Dedi akan berkuliah di luar negeri.

K: Dedi tak akan berkuliah di dalam negeri.


Paragrafnya:


Semalam, Dedi ditanyai tentanng perkuliahannya; apakah ia nanti akan berkuliah di dalam negeri, atau berkuliah di luar negeri. Dengan hening ia menjawab bahwa ia akan berkuliah di luar negeri. Dari keputusannya tersebut, bisa kita simpulkan bahwa kita nanti tidak akan melihat Dedi berkuliah di dalam negeri.


Contoh 4:


Polanya:


PU: saya akan menjadi pekerja lepas atau mendapatkan proposal kerja dari sebuah perusahaan multinasional

PK: saya akan menjadi pekerja lepas.

K: saya tidak akan menerima proposal dari sebuah perusahaan multinasional


Paragrafnya:


Semalam, ibu bertanya padaku, apakah tahun depan saya akan tetap menjadi pekerja lepas atau mendapatkan proposal kerja dari sebuah perusahaan multinasional. Dengan penuh keyakinan, saya pun memutuskan akan tetap menjadi seorang pekerja lepas. Keputusan itu saya ambil dengan penuh kesadaran. Dengan dipilihnya keputusan itu, maka saya harus yakin untuk tidak mendapatkan proposal kerja dari sebuah perusahaan multiasional yang tentunya sangat menggiurkan.


Demikianlah beberapa pola paragraf silogisme alternatif dalam bahasa Indonesia. JIka pembaca ingin menambah tumpuan soal paragraf, maka pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut, yaitu: jenis-jenis paragraf menurut isinya, jenis-jenis paragraf menurut fungsinya, serta artikel jenis-jenis paragraf menurut posisi kalimatnya. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan gres para pembaca sekalian. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Tuesday, October 30, 2018

√ 5 Pola Paragraf Silogisme Entimen Dalam Bahasa Indonesia

Salah satu dari beberapa jenis paragraf silogisme ialah paragraf silogisme entimen. Adapun pengertian paragraf silogisme ini ialah sebuah paragraf silogisme yang hanya terdiri dari premis atau pernyataan khusus (PK) dan juga kesimpulan (K). Karena hanya terdiri atas dua unsur itu, maka paragraf silogisme ini merupakan satu-satunya paragraf silogisme yang memiliki dua unsur di dalamnya. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa pada umumnya, setiap jenis paragraf silogisme memiliki tiga unsur, yaitu premis umum (PU), premis khusus (PK), dan kesimpulan (K).


Pada artikel kali ini, kita akan mengetahui menyerupai apa beberapa contoh paragraf silogisme yang satu ini. Contoh-contoh tersebut bisa disimak sebagai berikut ini!


Contoh 1:


Polanya:


PK: setiap orang berhak mendapat piala itu kalau memenangkan lomba tersebut.

K: Jovi berhak mendapat piala itu kalau dia memenangkan lomba tersebut.


Paragrafnya:


Setiap orang berhak mendapat piala itu kalau memenangi lomba tersebut. Maka dari itu, Jovi juga berhak mendapat piala itu kalau dia berhasil memenangkan lomba tersebut.


Contoh 2:


Polanya:


PK: setiap orang berhak diterima oleh lingkungannya, terlepas dari apa kekurangan yang dimilikinya.

K: saya berhak diterima oleh lingkunganku, terlepas dari apa kekurangan yang saya miliki.


Paragrafnya:


Setiap orang berhak diterima oleh lingkungannya, terlepas dari apa kekurangan yang dimilikinya. Oleh alasannya ialah itu, saya juga berhak diterima oleh lingkungan sekitarku, terlepas dari apa kekurangan yang saya miliki ini.


Contoh 3:


Polanya:


PK: Setiap karyawan berhak memberikan kritiknya kepada pemimpin perusahaan, terlepas apakah pemimpin perusahaan mau mendapatkan atau tidak kritik tersebut

K: Kami selaku karyawan di perusahaan ini berhak memberikan kritiknya kepada atasan kami, terlepas dia mau menerimanya atau tidak.


Paragrafnya:


Setiap karyawan berhak memberikan kritiknya kepada pemimpin perusahaan, terlepas apakah pemimpin perusahaan mau mendapatkan atau tidak kritik tersebut. Maka dari itu, kami selaku karyawan di perusahaan ini berhak memberikan kritiknya kepada atasan kami, terlepas apakah dia selaku pemimpin mau menerimanya atau tidak.


Contoh 4:


Polanya:


PK: setiap orang berhak menonton pertandingan sepak bola dengan kemudahan stadion yang layak biar sanggup menonton sepakbola dengan nyaman, termasuk kaum difabel.

K: kami meminta pihak kemudahan stadion yang layak untuk kaum difabel biar mereka bisa menonton pertandingan sepak bola dengan nyaman.


Paragrafnya:


Setiap orang berhak menonton pertandingan sepak bola dengan kemudahan stadion yang layak biar sanggup menonton sepakbola dengan nyaman, termasuk kaum difabel. Untuk itu, kami meminta dibuatkan kemudahan stadion yang layak untuk kaum difabel biar mereka bisa menonton pertandingan sepak bola dengan nyaman.


Contoh 5:


Polanya:


PK: setiap orang berhak melindungi harga dirinya dikala terancam.

K: saya berhak melindungi harga diriku bila saya terancam.


Paragrafnya:


Setiap orang berhak melindungi harga dirinya dikala terancam. Oleh karenanya, saya juga berhak melindungi harga diriku bila saya tengah terancam.


Demikianlah beberapa referensi paragraf silogisme entimen dalam bahasa Indonesia. JIka pembaca ingin menambah wawasan soal paragraf silogisme dan jenis paragraf lainnya, maka pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh paragraf silogisme kategorial, contoh paragraf silogisme hipotaktik, contoh paragraf silogisme alternatif, jenis-jenis paragraf menurut fungsinya, serta artikel contoh paragraf ineratif dan campuran.


Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan para pembaca sekalian, baik mengenai paragraf maupun bahasa Indonesia. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 5 Teladan Paragraf Silogisme Disjungtif Dalam Bahasa Indonesia

Salah satu jenis-jenis paragraf yang ada yakni paragaf silogisme. Adapun pengertian paragraf silogisme sendiri yakni paragraf yang berisi kesimpulan dari dua premis atau pernyataan yang ada. Unsur paragraf ini lazimnya terdiri atas premis/pernyataan umum (PU), premis khusus (PK) dan juga kesimpulan (K). Beberapa contoh paragraf silogisme dari beberapa jenisnya sendiri sudah pernah ditampilkan sebelumnya, mulai dari contoh paragraf silogisme kategorial; contoh paragraf silogisme hipotektik; contoh paragraf silogisme alternatif; hingga contoh paragraf silogisme entimen.


Artikel kali ini pun juga akan menampilkan beberapa teladan dari salah satu jenis paragraf silogisme, yaitu paragraf silogisme disjungtif. Paragraf ini merupakan paragraf silogisme yang PU-nya berupa pilihan dan PK-nya berupa pembenaran atau sangkalan PU yang lazim diawali dengan kata ternyata.


Contoh-contoh dari paragraf ini sendiri yakni sebagai berikut!


Contoh 1:


Polanya:


PU: Sitor mudik atau tetap di daerah perantauan.

PK: ternyata Sitor tidak akan pulang kampung.

K: Sitor masih akan menetap di tenpat perantauan.


Paragrafnya:


Sehari sebelum lebaran, kami memastikan kepada Sitor, apakah ia akan mudik atau tetap menetap di daerah perantauannya. Sitor pun menjawab bahwa pada lebaran tahun ini, ternyata ia tidak akan pulang kampung. Itu berarti Sitor masih akan menetap di daerah perantauannya tersebut.


Contoh 2:


Polanya:


PU: ia suka makan nasi goreng atau mi goreng.

PK: ternyata ia tidak suka makan mi goreng.

K: ia suka makan nasi goreng.


Paragrafnya:


Aku sempat bertanya kepadanya, apakah ia suka makan nasi goreng atau mi goreng. Sebelum ia menjawabnya, saya masih menerka bahwa ia menyukai nasi goreng. Tapi, sesudah mendengar jawabannya, saya pun gres mengetahui bahwa ia tidak suka makan mi goreng. Itu berarti ia suka menyantap nasi goreng.


Contoh 3:


Polanya:


PU: ayah Irfan seorang pelaut atau petani.

PK: ternyata ayah Irfan seorang petani.

K: ayah Irfan bukan seorang pelaut.


Paragrafnya:


Banyak yang menyangka bahwa ayah Irfan yakni seorang pelaut, termasuk kami. Untuk memastikan perikiraan kami, jadinya kami pun memberanikan diri bertanya kepada Irfan. Kami menanyakan kepadanya, apakah ayahnya seorang pelaut atau justru seorang petani. Irfan pun menjawab pertanyaan tersebut. Dari tanggapan tersebut, kami mengetahui bahwa ayah Irfan ternyata yakni seorang pelaut. Berarti, bisa disimpulkan bahwa ayah Irfan bukanlah seorang pelaut, melainkan petani.


Contoh 4:


Polanya:


PU: pemalak itu masih di pasar atau sudah pergi.

PK: ternyata pemalak itu tidak ada di pasar

K: pemalak itu sudah pergi.


Predikatnya:


Aku ingin memastikan apakah pemalak itu masih di pasar atau malah sudah pergi. Aku pun lantas pergi ke pasar. Saat hingga di sana, ternyata pemalak itu sudah tidak ada di pasar lagi. Itu berarti pemalak itu sudah pergi dari sana.


Contoh 5:


Polanya:


PU: pedagang itu berdagang dengan jujur atau curang.

PK: pedagang itu berdagang dengan curang.

K: pedagang itu tidak jujur.


Paragrafnya:


Aku tengah memeriksa apakah pedagang itu berdagang dengan jujur atau curang. Setelah diselidiki, ternyata pedagang itu berdagang dengan cara curang. Itu berarti, selama ini ia berdagang dengan cara yang tidak jujur.


Demikianlah beberapa paragraf silogisme disjungtif dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan para pembaca sekalian, baik itu mengenai paragraf maupun bahasa Indoenesia. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com