Showing posts with label Emas. Show all posts
Showing posts with label Emas. Show all posts

Wednesday, April 18, 2018

√ Daerah Akumulasi Emas Aluvial (Placer)

Daerah-daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah merupakan tempat yang favorit bagi akumulasi emas aluvial (placer), demikian juga dengan kawasan hulu sungai. Hal ini alasannya di tempat-tempat tersebut suplai material sumber terbatas. Daerah yang paling anggun yaitu kawasan pertengahan antara hulu dan hilir sungai.

Ketika ajaran air sungai melintasi “lantai” lembah yang licin, maka butiran-butiran emas serta gravel-gravelnya akan melintas dengan cepat tanpa atau hanya sedikit sekali mempunyai kesempatan untuk terendapkan. Tetapi kalau suatu sungai atau belum dewasa sungainya mencapai lembah dengan gradien yang agak landai, maka tercapai kondisi yang ideal untuk terjadinya pengendapan dan pengkonsentrasian emas sehingga sanggup membentuk deposit yang bernilai ekonomis.


Di kawasan sungai bermeander dengan kecepatan ajaran yang tinggi, ajaran tercepat berada pada bab luar meander. Sedangkan ajaran yang lambat berada di sisi sebaliknya. Perpotongan keduanya, di mana endapan gravel terbentuk, merupakan tempat yang favorit bagi pengendapan butiran emas. Dengan terjadinya migrasi lateral dari meander tersebut, maka "pay streak" akan tertutupi dan kesudahannya “berpindah” jauh dari "stream channel" asalnya. "Pay streak" adalah area akumulasi mineral-mineral berat akhir pertemuan ajaran yang deras dengan ajaran yang lambat.
daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah merupakan  √ Tempat Akumulasi Emas Aluvial (Placer)
Gambar beberapa model akumulasi emas aluvial pada sungai.

Sebenarnya, emas aluvial (placer) tidak terbentuk di meander-meander hilir dari suatu sungai tua, alasannya kecepatan alirannya tidak memungkinkan untuk bisa mentransport mineral-mineral berat ibarat emas. Ketika sungai memotong batuan berlapis yang sangat miring atau vertikal, ibarat watu slate, sekis, atau perselingan lapisan yang garang dan halus, maka lapisan yang garang cenderung akan menonjol ke atas, sedangkan yang halus akan terpotong.

Proses tersebut diatas akan membentuk “riffles”. Bentuk "riffles" ini ibarat dengan potongan-potongan kayu yang dipaku di bab dasar sluice box untuk memisahkan emas pada proses "sluicing". Riffle-riffle alami ini merupakan perangkap yang sangat anggun untuk menjebak butiran emas, dan bisa membentuk “bonanza” (endapan plaser yang sangat besar dan kaya).

Pada ketika material-material dibawa oleh anak sungai yang beraliran cepat masuk ke sungai induk yang beraliran lambat, maka material-material tersebut akan terakumulasi dengan kecepatan yang menurun, dalam bentuk "pay streak" di sisi sungai yang terdekat. Jika sungai memotong lode (tubuh batuan yang termineralisasi), dan melewati bab lode yang sudah terkorosi (lapuk), maka "pay streak" akan menyebar sepanjang channel sungai di sisi hilir dari lode tersebut.


Butiran emas akan cenderung mengambil posisi di jalur "pay streak". Proses ini bisa dijadikan indikasi untuk memilih hulu di mana emas berasal, dan kemudian akan mencirikan “lode induk” di kawasan sekitarnya. Dari sinilah para geologi juga bisa menemukan emas primer yang bernilai tinggi.

Akumulasi emas aluvial menuntut adanya kondisi kesetimbangan yang kontinyu antara kecepatan sungai dengan akumulasi gravel. Gravel-gravel dihentikan terlalu tebal, harus bergerak secara lamban ke arah hilir, dan harus betul-betul terendam secara keseluruhan dalam air. Ada ataupun tidaknya kondisi ibarat ini di suatu sungai sangat memilih nilai irit suatu "pay streak" dan jarang-tidaknya disseminasi emas.

Sumber http://www.geologinesia.com

Saturday, March 24, 2018

√ Mengenal Emas, Logam Mulia Dengan Simbol Unsur Au

Mungkin inilah kata yang sempurna untuk menggambarkan logam mulia ini: Berwarna kuning, sering dipuja-puja oleh kaum hawa, salah satu syarat untuk menikah, banyak diincar oleh perampok, bahkan sanggup digunakan untuk mengunyah makanan (klau gigi palsunya terbuat dari logam ini cieciecie..).

Tanpa berbasa-basi lagi, pada kesempatan ini Geologinesia.com akan mencoba membahas mengenai emas, tapi bukan mas eko, mas parto, mas sugeng, dan mas-mas lainnya ya.. Mari kita mulai.

Pengertian Emas

Emas adalah unsur kimia yang dalam tabel periodik merupakan bab kelompok B dari famili I dengan simbol Au (Bahasa Latin: 'aurum') dan nomor 79 bersama dengan perak dan tembaga. Emas merupakan logam transisi (trivalen dan univalen) yang kuning, mengkilap, lunak, lentur, berat, dan gampang ditempa hingga dengan ketebalan 0,00001 mm.


Emas tidak bereaksi dengan kebanyakan zat kimia lainnya, tetapi permukaannya sanggup menjadi kusam oleh klorin dan fluorin. Logam ini banyak terdapat sebagai bungkal (nugget) emas atau serbuk dalam batuan dan pada endapan aluvial, serta merupakan salah satu logam yang sanggup dijadikan mata uang (coinage). Kode ISO untuk emas ialah XAu. Emas sanggup melebur pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius.

Jenis-jenis Emas, Sifat Fisik, dan Asosiasi Mineralnya

Kekerasan emas berkisar antara 2,5 - 3 dalam skala Mohs sebanding dengan mineral kalsit. Emas biasanya berasosiasi dengan mineral pengotor (gangue minerals) antara lain kuarsa, karbonat, turmalin, dan fluorit. Secara alamiah, emas terdapat dalam bentuk emas native, emas telurida, elektrum yang merupakan jenis lain dari emas native dengan kandungan perak lebih besar dari 20% dan sejumlah paduan emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Selain itu, mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Emas umumnya terikat di dalam sulfida-sulfida logam dan hasil pelapukannya antara lain pirit, kalkopirit, galenit, stibnit, tetrahedrit, sfalerit, arsenopirit, dan molibdenit.

Berat jenis emas bergantung pada perlakuannya, jenisnya, dan kandungan logam lain yang terpadu dengannya. Sebagai pola emas tuang memiliki BJ 19,3, emas suling (distilled gold) 19,26, drawn gold 19,25, cold rolled sheet 19,296 dan precipitated gold oleh CH2O 19,29. Titik leburnya ialah 1.045 derajat celcius dan titik didihnya sekitar 2.500 derajat celcius (McGraw Hill Encyclopedia of Science and Technology).

Baca juga: Mineral Pirit Sebagai Petunjuk Adanya Emas

Emas terbentuk dalam beraneka ragam adonan yang terutama mengandung logam-logam perak (Ag), tembaga (Cu) dan timbal (pb). Beberapa telurida Au dan Au-Ag biasanya terbentuk sebagai silvanit, calaverit, petzit, krennerit dan nagyagit. Antimonida, aurostibit dan AuSb2 dalam cebakan-cebakan mengandung emas; bersama dengan selenida emas mengandung Ag, fischesserit, Ag3AuSe2, sulfida emas mengandung Ag, uytenbogaardit, bismuthid, maldonit, dan Au2Bi. Mineral-mineral bijih Au yang utama berupa logam murni, aurostibit dan beraneka ragam telurida.

 Mungkin inilah kata yang sempurna untuk menggambarkan logam mulia ini √ Mengenal Emas, Logam Mulia dengan Simbol Unsur Au
Karakteristik atau sifat-sifat fisik emas.

Warna emas secara alami bervariasi tergantung ukuran partikelnya. Emas precipitated biasanya berwarna coklat, tetapi ada juga yang memiliki bayangan hitam, ungu, biru, dan merah muda (pink). Dalam lembaran tipis, biasanya tembus cahaya dan memancarkan cahaya kehijauan. Sebagai paduan, warna kuningnya bervariasi tergantung jenis logam paduannya. Paduan emas-perak misalnya, menciptakan warna kuning emas menjadi lebih muda, sedangkan dengan tembaga warna kuning tersebut akan menjadi lebih renta atau agak kemerahan. Para andal pemanis menyebut emas putih (monel) jikalau emas dipadukan dengan platinium sejumlah 25% atau 12% paladium.

 Mungkin inilah kata yang sempurna untuk menggambarkan logam mulia ini √ Mengenal Emas, Logam Mulia dengan Simbol Unsur Au
Emas sekunder, butiran emas aluvial, dan tabel kelompok mineral bijih emas.

Kandungan Emas dalam Batuan

Kandungan emas dalam kerak bumi rata-rata 0,005 ppm, perbandingan Au dan Ag 0,07. Rata-rata kandungan Au dalam batuan beku: 0,004 ppm dalam ultramafik; 0,007 ppm dalam gabro-basalt; 0,005 ppm dalam diorit-andesit; dan 0,003 ppm pada granit-riolit. Sementara kandungan Au dalam batuan sedimen: 0,03 ppm dalam batupasir dan konglomerat; 0,04 ppm dalam serpih; dan 0,003 ppm dalam batugamping.


Apa itu Kadar Emas?

Kemurnian emas diukur dengan karat, mengatakan seberapa murni emas yang terkandung dalam suatu paduan. Istilah karat ini sering digunakan orang untuk merujuk kepada kadar emas. Satu karat sama dengan 1/24 bab emas atau 4,1667%. Emas 24 karat berarti emas murni, sedangkan emas 18 karat mengandung 18 bab emas dan 6 bab paduan.

Bergantung pada daerahnya, emas pemanis di Indonesia bervariasi dalam ukuran karat, tetapi umumnya berkisar antara 22 hingga dengan 24 karat. Inggris memakai standar 22 karat koin emas setara dengan 91,67% Au dan 8,33% Cu dengan warna agak kemerahan. Sedangkan Amerika, Jerman, dan Italia menciptakan koin emas dengan perbandingan 77,78% Au dan 22,22% Cu.

Sumber http://www.geologinesia.com

Saturday, March 17, 2018

√ Sejarah Penambangan Emas Di Indonesia

Penambangan emas di Indonesia telah dimulai semenjak lebih dari seribu tahun kemudian dengan kedatangan imigran dari Cina yang menambang emas di beberapa wilayah, dilanjutkan pada Jaman Hindu, pendudukan Belanda dan Jepang. Selama zaman kolonial Belanda (1600-1942) perkembangan penambangan emas sangat terbatas. Beberapa cadangan bijih emas yang ditemukan pada periode ini di tempat Lebong, yaitu Lebong Donok dan Lebong Tandai, Provinsi Bengkulu. Penemuan cebakan emas lainnya yaitu di tempat Banten Selatan yang dikenal sebagai tambang emas Cikotok milik PT Aneka Tambang. Disamping itu pula terdapat penemuan-penemuan cebakan emas lainnya dalam jumlah yang relatif kecil.

Baca juga: Apa itu Emas ?

Pada tahun 1939, produksi logam emas total tercatat sebesar 2,5 ton, yang setengahnya berasal dari Lebong Tandai. Selama Perang Dunia II, semua tambang emas tersebut ditutup dan sehabis perang hanya beberapa tambang yang dibuka kembali termasuk Tambang Emas Cikotok. Produksi emas semenjak berakhirnya Perang Dunia II hingga pertengahan tahun 1980-an tidak mengatakan peningkatan yang berarti. Produksi total yang tercatat pada tahun 1985 berjumlah sekitar 2,6 ton, dengan lebih dari 90% dari jumlah tersebut merupakan produk sampingan konsentrat tembaga yang dihasilkan PT Freeport Indonesia di Papua (dahulu Irian Jaya), sedangkan sisanya berasal dari produksi PT Aneka Tambang di Cikotok.

Di Pulau Sumatera, emas sudah lama diusahakan oleh rakyat. Kegiatan penambangan emas modern ditandai dengan dibukanya tambang Lebong Donok, Bengkulu pada tahun 1899. Jenis cebakan yang dikerjakan yaitu cebakan emas primer. Usaha itu disusul oleh pembukaan tambang-tambang lain menyerupai Simau (1910), Salida (1914), Lebong Simpang (1921) dan Tambang Sawah (1923). Tambang Mangani di Sumatera Barat mulai berproduksi pada tahun 1913, tambang yang diusahakan oleh perusahaan Equator ini bertahan hingga tahun 1931, kemudian beralih kepemilikan dan dibuka kembali pada tahun 1939 oleh Marsman's Algemeen Exploratie Maatschappij atau lebih dikenal MAEM.

 telah dimulai semenjak lebih dari seribu tahun kemudian dengan kedatangan imigran dari Cina yang √ Sejarah Penambangan Emas di Indonesia
Data produksi emas 1996-2011 dan foto sejarah penemuannya di Indonesia.

Tambang-tambang lain yang dibuka sehabis kurun 1930-an yaitu tempat Belimbing, Gunung Arum pada tahun 1935 dan dikelola olehh perusahaan Barisan, tempat Bulangsi dikelola oleh Sumatra Goldmijn Ltd dan Muara Sipongi pada 1936. Selain menambang bijih emas primer, MAEM juga mengusahakan emas yang berasal dari endapan aluvial (sekunder) di Meulaboh Aceh yang dibuka pada tahun 1941 dan berlangsung hingga pecahnya Perang Dunia II. Tambang emas aluvial lain terdapat di Logas Riau dan diusahakan oleh perusahaan Bengkalis.


Di Kalimantan Barat, orang-orang Cina semenjak dulu sudah melaksanakan penambangan emas, akan tetapi hasilnya kurang memadai dibandingkan dengan hasil tambang emas di Sumatera. Tambang-tambang emas yang berkembang merupakan tambang-tambang berskala kecil yang diusahakan oleh rakyat. Hal yang sama juga berlangsung di Sulawesi Utara.

Cebakan bijih emas primer yang ditemukan di tempat Cikotok mulai diproduksi pada 1940 dan diusahakan oleh perusahaan Zuid Bantam (Anonim, 1998). Pembangunan tambang emas Cikotok dilakukan oleh N.V Mynbouw Maatschappy Zuid Bantam (NV.MMZB) pada tahun 1936 hingga 1939, pada dikala itu pabrik di Pasirgombong untuk pertama kalinya berproduksi. Cadangan bijih emas pada waktu itu yaitu sebesar 569.041 ton dengan kadar Au 8,4 g/ton dan Ag 481 g/ton. Tambang emas Cikotok dan Cikondang dan sejumlah tambang emas di Sumatera (Simau, Lebong, Simpang, Mangani, Logas, dan Meulaboh) serta tambang emas di Sulawesi Utara (Tapaibekin) tetap berjalan walaupun pecah Perang Dunia II.

Di zaman Jepang, tambang-tambang tersebut tetap beroperasi dan dikelola oleh perusahan Jepang berjulukan Mitsui Kosha Kabunshiki Kaisha dengan tujuan utamanya mengambil timah hitam dari tambang Cirotan untuk kebutuhan militer. Antara tahun 1945-1948, yang merupakan tahun usaha kemerdekaan, tambang emas Cikotok dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia dibawah pengawasan Jawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia.


Selama masa agresi militer Belanda ke-2 pada tanggal 23 Desember 1948, Tambang Cikotok kembali dikuasai oleh Belanda hingga legalisasi kedaulatan pada selesai tahun 1949. Sementara itu NV.MMZB telah kembali untuk meneruskan usahanya, tetapi tambang dan pabrik mengalami kerusakan berat selama pendudukan Jepang dan selama tahun-tahun revolusi selanjutnya. Setelah mengetahui bahwa untuk merehabilitasi dan membangun kembali tambang tersebut membutuhkan biaya besar sekali, maka perusahaan tadi memutuskan untuk menjual tambang tersebut kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (NV.PPP).

NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan kemudian melaksanakan rehabilitasi tambang pada tahun 1954 dan mulai berproduksi pada tahun 1957. Pengelola terakhir tambang ini yaitu Unit Pertambangan Emas Cikotok, namun dengan semakin menipisnya cadangan sehingga tidak hemat untuk di eksploitasi maka pada selesai tahun 1994 produksinya dilarang dan pada Januari 1995 statusnya berkembang menjadi Proyek Eksplorasi dan Pengembangan Emas dan Perak Cikotok yang dikelola oleh PT Aneka Tambang.

Umumnya dari tahun 1950 hingga dengan tahun 1970-an usaha pertambangan emas hanya melaksanakan atau merehabilitasi sisa perusahaan tembang emas sebelum perang dunia ke-2. Kegiatan pencarian emas pada waktu itu belum optimal alasannya yaitu undang-undang/peraturan, kebijakan pemerintah wacana emas, harga dan lain-lain kurang mendukung pembukaan tambang emas baru.


Tambang emas sebelum perang dunia ke-2 yang direhabilitasi kembali oleh NV PPP anak perusahaan Bank Industri Negara yaitu Tambang Cikotok dan Logas di Riau. Beberapa bekas tambang sebelum perang diusahakan oleh rakyat dalam bentuk pertambangan rakyat, menyerupai di Bengkulu, Kalimantan, dan Sulawesi Utara. Minat swasta gres meningkat sehabis tahun 1970-an dengan membaiknya harga emas antara tahun 1974-1975. Hampir semua tempat yang mengandung potensi emas, Kuasa Pertambangan-nya (KP) telah dipegang oleh swasta nasional atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dari 369 KP Eksplorasi yang tercatat di tahun 1980, terdapat 56 KP Eksplorasi emas yang terdiri atas 22 KP dimiliki oleh BUMN dan 34 KP dimiliki oleh swasta nasional. Sedangkan KP Eksplorasi waktu itu gres berjumlah 2 buah yang dimiliki PT Aneka Tambang. Tahun 1982 terdapat 8 KP Eksploitasi, diantaranya 3 KP milik swasta nasional dan sisanya milik BUMN. Umumnya KP emas yang ditangani Swasta Nasional berjalan kurang lancar kerena kekurangan modal, ketrampilan, dan teknologi. Penemuan mineral emas yang penting di Indonesia antara tahun 1967 hingga 2005 terekam dalam tabel di bawah ini.

 telah dimulai semenjak lebih dari seribu tahun kemudian dengan kedatangan imigran dari Cina yang √ Sejarah Penambangan Emas di Indonesia
Penemuan emas di Indonesia antara tahun 1967-2005.

Hasil acara eksplorasi yang dilakukan pada periode 1980-an, pada dikala ini sebagian perusahaan tambang emas masih berproduksi tetapi beberapa telah ditutup alasannya yaitu cadangan bijihnya sudah habis. Pada tahun 1990 produksi emas dan perak dihasilkan oleh PT Aneka Tambang, PT Lusang Mining, PT Ampalit Mas Perdana, PT Monterado Mas Mining, PT Aratutut, PT Bakri Hadis Perdana, PT Tambang Timah Perkasa, dan tambang rakyat.


Selain dari perusahaan-perusahaan tersebut, emas dan perak juga dihasilkan sebagai produk samping dalam konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PT FI) dan mulai tahun 2000, PT Newmont Nusa Tenggara juga menghasilkan emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang diolahnya. Hingga dikala ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai cadangan emas terbesar di dunia, dengan produksi maksimal emas di Indonesia pada tahun-tahun tertentu.

Sumber Data dan Foto:
Data Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Koleksi Foto Pusat Sumberdaya Geologi.

Sumber http://www.geologinesia.com

Wednesday, March 14, 2018

√ Kegunaan (Pemanfaatan) Emas

Sejak dulu emas dikenal sebagai materi perhiasan, lambang kemakmuran, atau disimpan untuk dana moneter. Keinginan orang untuk mempunyai emas telah mengakibatkan terjadinya barter, invasi, penguasaan kolonisasi dan eksplorasi di beberapa tempat di dunia menyerupai di India, Asia, Afrika, dan Liberia (lihat disini daerah penghasil emas). Kegunaan emas yang begitu multi lini dan presisi membuatnya menjadi idola untuk diperebutkan.

Pemanfaatan emas yang bernilai tinggi juga menjadi salah satu pendorong ditemukannya benua Amerika. Keserakahan para Conguistadore terhadap emas sering menjadikan terjadinya penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Disamping itu, "demam" emas juga menimbulkan terjadinya komunitas masyarakat gres yang disertai dengan hadirnya industri-industri penunjang lainnya.

Pada zaman modern, kegunaan emas yang utama yaitu untuk dana moneter yang diwujudkan dalam bentuk bulion sebagai cadangan untuk setiap uang kertas yang dikeluarkan. Karena sifatnya yang lunak sehingga gampang ditempa, emas digunakan sebagai perhiasan.

Paduan emas dengan logam lain menyerupai tembaga (lihat juga kegunaan tembaga), perak, nikel, atau paladium menjadikan adanya istilah emas putih, hijau, dan kuning dalam dunia perhiasan. Emas juga digunakan sebagai materi pelapis, dekorasi pada gelas dan keramik, materi penyepuh, book binding, aksara, dan dekorasi lainnya. Selain itu, emas juga diharapkan sebagai materi dalam industri kimia, pembuatan gelas dan kedokteran gigi (Wahyudi, 1995).

Sejarah Penggunaan Emas

Sejarah penggunaan emas merupakan hal yang penting dikaji: mulai dari awal sejarah umat insan hingga sekitar 1000 SM, penggunaan emas terutama hanya terbatas sebagai ornamen (hiasan), dekorasi, dan simbol kekuasaan para raja. Hal ini sering disebut masa ornamentatif dalam sejarah logam mulia.

Setelah tahun 1000 SM, emas memasuki masa barunya sebagai alat tukar (uang) dan sirkulasi secara bebas hingga sekitar tahun 1916 M. Tahap ini disebut masa moneter dalam sejarah logam ini, walaupun dalam jumlah tertentu penggunaannya sebagai hiasan masih berlanjut.

Setelah Perang Dunia I pemanfaatan emas sebagai alat tukar dikurangi dan pada kesannya dibatasi dibanyak negara, kecuali untuk kebutuhan tambahan dan periode ini berlanjut hingga sekarang. Walaupun demikian, disejumlah negara warga negara diizinkan mempunyai emas dalam perdagangan logam.

Sejak tahun 1950 terjadi peningkatan penggunaan emas dalam industri, hal itu menjadi tanda bahwa emas memasuki tahap berikutnya yakni masa industri dalam sejarah logam. Secara khusus, penggunaan emas sangat tergantung pada fungsi tradisionalnya yaitu :
  1. Sebagai ukuran keuangan (monetary measure) oleh pemerintah dan bank sentral dalam pembayaran internasional
  2. Nilai intrinsiknya sebagai logam yang paling cantik/indah
  3. Sifat kimianya yang inert (tidak bereaksi)
  4. Sifat bisa dibuat (malleability, serta sifat menghantarkan listrik dan panas yang sangat baik)

Pemanfaatan Emas di Era Modern

Pada dunia moneter internasional, emas digunakan dalam bentuk batangan emas murni, tablet, dan koin dengan spesifikasi kandungan emas tertentu. Untuk fungsi lain, emas digunakan dalam bentuk murni atau berupa gabungan dengan logam lain menyerupai perak, platina, dan tembaga (temukan disini daerah penghasil tembaga).

Sulit bagi kita memilih secara sempurna komposisi penggunaan emas tahunan diantara begitu banyak jenis penggunaan emas. Terdapat banyak alasan untuk ini, diantaranya yaitu kecenderungan forum keuangan tertentu dan individu untuk menjadikan logam ini sebagai simpanan. Kelangkaannya juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penimbunan logam ini, sehingga menurunkan pemakaian untuk bidang lain.

Jual-beli emas, selain untuk perhiasan, tujuan industri dan sebagainya yaitu dihentikan secara aturan di banyak negara. Walaupun demikian, penimbunan emas secara tradisional terjadi di negara-negara Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Sejak dulu emas dikenal sebagai materi tambahan √ Kegunaan (Pemanfaatan) Emas
Gambar penggunaan emas untuk tambahan dan investasi.

Diperkirakan sekitar 20% produksi emas tahunan dunia masuk ke pemerintah-pemerintah dan bank sentral sebagai cadangan moneter, sekitar 5% masuk ke tangan perseorangan atau perusahaan, dan sisanya 75% atau sekitar 36 juta oz digunakan dalam pembuatan (pabrikasi) barang-barang tertentu. Dari potongan terakhir itu, sekitar 60% dikomsumsi oleh industri pembuatan gigi palsu, tambahan dan koin; sisanya digunakan dalam sejumlah besar alat-alat elektronik dan industri lain.

Penggunaan Emas di Zaman Kuno

Emas yaitu logam ornamen/hiasan para raja dan kaum darah biru dengan warna alami yang menggoda, berkilau, dan bertekstur menyerupai sutra. Sejak zaman kuno (lihat wacana zaman neozoikum) logam manis ini secara tradisi telah dinikmati sebagai tambahan pribadi, khususnya dalam bentuk cincin dan majemuk tambahan lainnya. Sejumlah emas digunakan dalam mata pena, medali, jam tangan, dan gigi palsu.

Emas juga telah digunakan semenjak zaman permulaan sejarah dalam pembuatan piala, cangkir, vas bunga, petih jenazah, dan barang-barang lainnya. Dari semua penggunaan tersebut, emas umumnya dipadukan dengan tembaga atau perak, kemurnian emas paduan dinyatakan dalam "karat". Emas murni disebut "emas 24 karat".

Emas murni atau emas dengan kandungan perak dan tembaga yang kecil sanggup ditempa hingga membentuk lembaran sangat tipis dengan ketebalan 0,000005 inchi. Dalam bentuk lembaran tipis ini, emas telah digunakan untuk banyak tujuan dekorasi bangunan, patung, dan benda lain semenjak zaman pra-Injil.

Sifat Emas Menentukan Jenis Pemanfaatannya

Lapisan tipis emas di "las" ke logam-logam dasar menyerupai nikel (lihat juga kegunaan nikel), tembaga, ataupun perunggu serta sanggup dibalutkan untuk menciptakan bentuk-bentuk yang rumit tanpa memecahkan lapisan tipis emas tersebut. Material menyerupai itu disebut piringan berisi emas (gold-filled plate) dan digunakan secara luas dalam aneka macam jenis perhiasan, rangka jam, rangka kacamata, dan lain-lain. Penggunaan emas di bidang industri intinya bergantung pada karakteristik emas seperti:
  1. Sifat lunaknya
  2. Sifat gampang membentuk paduan dengan logam lainnya (perak, tembaga, dan platina)
  3. Sifat ductility dan malleability yang sangat baik
  4. Sifat menghantarkan listrik dan panas yang sangat baik
  5. Sifat kimianya yang inert sehingga tahan terhadap korosi oleh oksigen, belerang dan senyawa-senyawa kimia, termasuk hampir semua asam tunggal

Hampir semua emas di bidang industri dikomsumsi oleh industri elektronik dan industri rekayasa listrik dimana produk-produknya mempunyai cakupan yang luas mulai dari pelapis pipa vakum, material khusus kontak listrik, kawat listrik, konduktor kualitas tinggi, untuk mencetak sirkuit komputer, radio, dan televisi.

Dalam jumlah banyak, unsur emas juga digunakan oleh industri dalam pembuatan paduan logam tungku temperatur tinggi, materi pelapis khusus alat kimia dan nuklir, inframerah dan reflaktor panas pada pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa serta sebagai pelindung panas untuk pesawat jet dan mesin roket. Kaca jendela berlapis emas untuk bangunan pada iklim panas, beling kendaraan beroda empat dipanaskan listrik (windscreens heated electrically) mempunyai lapisan tipis emas transparan dan konduktif (bersifat menghantarkan panas), pesawat terbang, kapal laut, dan lokomotif.

Emas juga dikomsumsi oleh industri pencetakan (printing) dan furnitur dalam bentuk cat emas dan industri keramik dalam bentuk "emas cair" organik untuk aplikasi tanah liat (pottery) dan barang-barang gelas (glassware). Pada liring dan proses perlakuan lain, gabungan emas organik direduksi meninggalkan suatu film tipis emas yang terkait secara berpengaruh pada perangkat keramik atau gelas. Sejumlah kecil emas juga digunakan untuk mewarnai gelas, sedikit garam emas digunakan pada proses fotografi tertentu dan persiapan medis.

Dampak Perkembangan Penggunaan Emas

Apabila kita tinjau ke belakang, setidaknya 5000 tahun terakhir sejarah emas, kita melihat bahwa logam (lihat sifat logam) yang paling berharga dan paling cantik/indah ini telah memainkan tugas yang luar biasa, bahkan adakala lebih banyak didominasi dalam pengalaman/sejarah insan dan kemajuannya, pertama sebagai perhiasan, lalu sebagai alat tukar (uang logam), selanjutnya sebagai media/alat tukar internasional dan kini sebagai unsur yang harus ada dalam industri.

Kita juga melihat bahwa emas telah memancing insan melaksanakan pekerjaan baik dan buruk. Pada sisi pertama, impian mempunyai logam ini menawarkan kita banyak sekali inovasi baik pada bidang kimia maupun geografi; pada sisi kedua demam emas (auri sacra fames) telah memicu penaklukan, penjajahan, dan perbudakan aneka macam bangsa, pertengkaran penduduk dan perlakuan keji manusia.

Prospek emas di masa depan, kita melihat sebuah industri dimana emas akan memainkan tugas yang meningkat dalam produksi komputer kecepatan tinggi, telekomunikasi, wahana ruang angkasa, farmasi, dan ribuan barang-barang hasil kecerdasan insan pada peradaban masa depan. Kita juga memahami bahwa insan tidak akan kehilangan pesonanya terhadap logam yang telah usang dikaguminya alasannya yaitu kecantikan alamiah dan kualitasnya yang tahan lama.
Sumber http://www.geologinesia.com

Monday, March 5, 2018

√ Pembentukan Emas : Kristalisasi Magma, Sublimasi, Metasomatisme, Dan Hidrotermal

Hai sahabat geologinesia, sehabis sebelumnya kita membahas mengenai apa itu emas, sejarah penambangan emas, dan manfaat emas maka pada kesempatan ini geologinesia akan membahas mengenai genesa atau pembentukan emas ditinjau dari sudut pandang ilmu geologi. Pembahasan mengenai genesa atau proses terbentuknya emas yang disajikan dalam artikel ini lebih mengacu kepada pembentukan emas secara primer, sedangkan untuk emas sekunder (aluvial/placer) akan kita bahas pada kesempatan berikutnya.


Secara umum, emas terbentuk menurut 4 konsep yaitu: kristalisasi magma, sublimasi, metasomatisme kontak, dan proses hidrotermal. Dari ke-4 konsep di atas terang terlihat bahwa asal mula pembentukan emas sangat akrab hubungannya dengan tingkah laris magma. Simak penjelasannya dibawah ini.

Kristalisasi Magma

Magma memiliki sifat selalu bergerak ke segala arah (mobile). Salah satu pergerakannya yaitu intrusi, yaitu penerobosan magma pada lapisan batuan/kulit bumi menuju ke permukaan bumi dan mengisi retakan-retakan atau celah-celah batuan yang ada di kulit bumi. Dalam perjalan ini, intrusi magma akan mengalami penurunan suhu dan tekanan yang mengakibatkan terjadinya kristalisasi mineral-mineral silikat. Proses kristalisasi berakibat pada terbentuknya mineral-mineral silikat dan mineral-mineral sisa cairan magma, termasuk terbentuknya emas porfiri (kasar) yang mengkristal akhir pembekuan magma.

Sublimasi

Sublimasi merupakan proses pengendapan pribadi mineral dari uap atau gas. Pembentukan mineral merupakan proses kecil bila dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Prinsip proses tersebut terletak pada penurunan suhu maupun tekanan. Endapan mineral biasanya terbentuk akhir dua atau lebih gas yang bereaksi. Cebakan emas sublimasi terbentuk alasannya terbawa oleh uap atau gas yang bereaksi.

Metasomatisme Kontak

Proses intrusi magma menyisakan larutan dan gas bersuhu tinggi dan apabila bersentuhan dengan dinding batuan bercelah sanggup mengakibatkan reaksi yang menghasilkan mineral-mineral baru. Pembentukan bijih emas pada proses ini diakibatkan oleh magma kaya bijih bersentuhan dengan batuan samping yang reaktif (metasomatisme kontak), sehingga terbentuk emas yang biasanya memiliki tekstur kasar.

Baca juga: Amalgamasi Emas

Proses Hidrotermal

Hasil final proses pembekuan magma yang mengintrusi yaitu cairan sisa magma yang mengandung konsentrasi logam-logam termasuk emas. Cairan ini disebut larutan hidrotermal yang membawa logam-logam ke kawasan pengendapan baru. Endapan hidrotermal pada umumnya berkaitan dengan alterasi atau proses ubahan.

 sehabis sebelumnya kita membahas mengenai  √ Pembentukan Emas : Kristalisasi Magma, Sublimasi, Metasomatisme, dan Hidrotermal
Gambar konsep sistem hidrotermal (sumber: Nature.com).

Dari alterasi inilah dihasilkan perubahan susunan baik mineral maupun kimia batuan akhir imbas cairan hidrotermal. Perubahan yang terjadi sanggup berupa rekristalisasi, pembentukan mineral baru, penyusunan kembali komponen kimia, atau sanggup menghasilkan perubahan sifat fisik ibarat permeabilitas dan porositas batuan.

Sumber http://www.geologinesia.com

Saturday, March 3, 2018

√ Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri Dan Skarn

Emas-tembaga pada porfiri umumnya terletak di lingkungan busur kepulauan (island arc). Daerah tersebut mengalami penunjaman (subduction) yang berpengaruh sehingga terjadi pengendapan mineralisasi porfiri (kasar), sebagai pola contohnya busur magmatik PNG-Papua. Asosiasi emas dengan tembaga porfiri secara umum dibuat oleh batuan kalk-alkalin hingga alkalin pada busur volkanik dan pada umumnya busur tersebut berasosiasi dengan penunjaman.


Sedangkan cebakan skarn terbentuk pada tempat magmatisme yang mengintrusi batugamping. Intrusi pada umumnya bekerjasama dengan deposit-deposit porfiri dari batuan diorit, granit, tonalit, monzonit, dan granodiorit. Intrusi ini umumnya menjadi batuan beku dalam (stock) vertikal (1 - 2 km).

Kebanyakan deposit emas-tembaga porfiri dan skarn terjadi pada sekitar 2 juta tahun yang kemudian (Tersier - Miosen). Tatanan tektonik skarn banyak bekerjasama dengan sistem porfiri pada batas pemekaran lempeng (convergent plate margin), terutama pada batas benua yang aktif bergerak (active continental margin). Pada busur kepulauan, magma berkomposisi menengah - basa yang berasosiasi dengan batugamping terumbu sering menghasilkan cebakan skarn yang kaya magnetit.

tembaga pada porfiri umumnya terletak di lingkungan busur kepulauan  √ Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri dan Skarn
Gambar aneka macam model pembentukan endapan tipe porfiri.

Jenis cebakan emas yang terbentuk pada tipe mineralisasi menyerupai ini yaitu biasanya dalam bentuk lode emas kuarsa, tersebar (disseminated), dan mineral ikutannya. Lode emas kuarsa terdiri dari aneka macam jenis endapan. Walaupun demikian, semua endapan lode yaitu urat-urat kuarsa-emas yang berasal dari pengendapan larutan hidrotermal, baik itu berupa penggantian (replacement) unsur-unsur pada dinding batuan maupun berupa pengisian rongga-rongga terbuka (cavity filling) di sepanjang zona rekahan.

Pada endapan emas tersebar (disseminated) terdiri dari butiran-butiran halus emas yang tersebar di dalam batugamping lempungan dan batugamping dolomitan. Bijih ini terbentuk sebab proses penggantian oleh larutan hidrotermal terhadap unsur-unsur pada batuan induk, sedangkan endapan emas ikutan terbentuk sebagai unsur ikutan dalam bijih logam dasar dan hanya dapat diperoleh jika konsentrat logam dasar tersebut dilebur atau dimurnikan.


Contoh cebakan emas yang berasosiasi dengan tembaga pada porfiri dan skarn yaitu Ertzberg dan Grasberg (Papua), Batu Hijau (NTB), Tombalilato (Sulawesi Utara), Pulau Bacan, Kailaka, Sayoang, Raroang, Raiau, Pigaraja (Maluku), dan Tapanuli Selatan (Sumatera Utara).

Sumber http://www.geologinesia.com

Monday, February 26, 2018

√ Mengenal Mineralisasi Emas-Tembaga (Au-Cu) Sulfidasi Tinggi

Jumpa lagi bersama emas atau sahabat sanggup melihat daftar isi dan label pada laman blog ini semoga mempermudah pencarian atas postingan sebelumnya.

Baca juga: Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri dan Skarn

Perlu diketahui bahwa model endapan emas-tembaga (Au-Cu) sulfidasi tinggi sama dengan model endapan tipe porfiri yaitu terdapat di jalur gunungapi dan hanya sedikit ditemukan di busur belakang. Jenis deposit ini pada awalnya terbentuk dari larutan asam panas yang didominasi oleh gas reaktif yang berasal dari magma, uap, dan gas (H2O, CO2, SO, HCl, HF).

Selanjutnya, magma, uap, dan gas-gas tersebut akan naik dan berpindah secara vertikal dan lateral melalui patahan/struktur serta melalui permeabilitas batuan untuk selanjutnya akan bereaksi dengan batuan samping dan mengalami proses pencampuran larutan. Tipe endapan emas-tembaga sulfida tinggi ini lebih sering bereaksi dengan batuan volkanik yang bersifat alkali (kalk-alkali).

Jenis cebakan dari tipe yang menyerupai ini biasanya ialah lode emas kuarsa dan epitermal. Endapan emas epitermal sulfidasi tinggi sanggup berupa urat-urat hidrotermal kuarsa, karbonat, barit, dan fluorit yang mengandung emas native atau emas telurida serta sejumlah perak.

Baca juga: Inilah Pemanfaatan Emas yang Paling Utama

Gambar model endapan emas epitermal sulfidasi tinggi.

Secara umum, endapan sulfidasi tinggi ini terbentuk sebagai akhir pengisian rongga-rongga oleh larutan hidrotermal dan sering terjadi pada batuan-batuan volkanik Tersier yang mengalami proses alterasi kuat. Kenampakan di lapangan umumnya terbentuk pada batuan andesit dan riodasit yang memperlihatkan tempat ubahan yang luas, umumnya beberapa km persegi.

Baca juga: Dimanakah Bisa Kita Jumpai Emas Aluvial (Placer) ?

Daerah yang prospek untuk model cebakan mineralisasi logam ini terdapat di Miwah bab Kepala Burung dan Bomberai (Papua), serta di Rinca dan Watuasa (NTT). Dengan semakin gencarnya eksplorasi emas di wilayah indonesia, diperlukan akan bermunculan tipe-tipe mineralisasi logam yang lebih bervariatif, sehingga sanggup menambah wawasan kita mengenai model depositnya.
Sumber http://www.geologinesia.com