Sunday, January 21, 2018

√ Kecerdasan Insan Vs Kecerdasan Buatan

Kecerdasan Manusia Vs Kecerdasan buatan (Gambar Sputniknews.com)

Dunia pada ketika ini seolah-olah tidak punya batas lagi (Borderless World). Saat ini, inovasi mesin pencari yang lengkap dengan kecerdasan buatan menciptakan semuanya menjadi mudah. Teringat pada zaman 80-90-an dimana banyak bermunculan jasa penerjemah, jasa pengetikan, dan rental komputer pada ketika itu menjamur. 

Namun ketika ini, semuanya tersingkirkan oleh satu sumber yang berjulukan Google. Lewat teknologi kecerdasan buatannya ketika ini rasanya tidak diharapkan jasa penerjemah lantaran sudah ada google translate yang bisa menerjemah dengan keakuratan yang tinggi.

Saat ini pun tidak lagi diharapkan jasa pengetikan lantaran Google sudah menyediakan alat yang bisa mengetik apa yang kita katakan. Rental komputer yang dahulu berjaya ketika ini sudah tersingkirkan oleh satu benda yang berjulukan telepon genggam yang bisa mengerjakan semua pekerjaan. 

Menjadi penduduk di zaman 4.0 (masyarakat informasi) memang serba mudah, pekerjaan semakin mudah. Namun, hal ini juga akan menjadi sumber problem bagi manusia. Pekerjaan insan kini banyak tergantikan oleh perangkat lunak (software), alat komunikasi, dan gawai cendekia lainnya. Ilmu pengetahuan yang tadinya sulit kini menjadi terasa lebih mudah. Pencarian sumber ilmu pengetahuan semakin gampang dengan adanya mesin pencari. 

Jepang malah sudah menjadi pendahulu dengan memulai memasuki kurun 5.0 (Internet of Things). Masyarakat Jepang sudah memulai menciptakan segala sesuatu dengan memakai kecerdasan buatan yang dihubungkan dengan big data di Internet. Segala sesuatu menjadi mudah, bahkan untuk mengerjakan pekerjaan yang sederhana pun dikerjakan oleh internet. 

Membuka pintu rumah atau bahkan menyiram flora bukan merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, kini yang mengerjakannya ialah sistem dan internet dan dikendalikan oleh telepon genggam. 

Tantangannya di masa kini apakah nantinya insan akan malas untuk bergerak, malas untuk bekerja, atau akankan seluruh pekerjaan insan akan tergantikan. Kalau saya merefleksikan film bertema sains fiksi (Sci-Fi) berjudul “Terminator” yang mengisahkan perang antara insan dengan robot, saya jadi berangan-angan mungkinkah itu akan terjadi di masa depan. 

Saya rasa hal tersebut juga tidak akan terjadi dalam skala menyerupai “Terminator” (perang fisik), tetapi skala “pertempuran yang lebih kecil akan terjadi yaitu tidak ada lagi pekerjaan bagi manusia. Tidak adanya pekerjaan manusi aakan berdampak pada perekonomian manusia. Manusia akan semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya lantaran tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai persaingan lantaran kalah bersaing dengan robot yang mempunyai kecerdasan diatas kecerdasan manusia. 

Upaya untuk mengatasi tantangan tersebut ialah para siswa perlu mencar ilmu membuatkan karakter-karakter yang positif, mencar ilmu seni budaya, estetika sehingga insan punya daya saing kreatif dalam mengantisipasi tantangan di masa depan. 

Hal yang menjadi refleksi saya ialah kiprah saya sebagai guru dan kita sebagai salah satu kesatuan pendidik ialah kita perlu menyiapkan siswa yang punya aksara yang beriman, tangguh, dan kreatif dalam menghadapi tantangan. 

Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial tantangan kita ialah tetap mengingatkan bahwa insan ialah makhluk sosial yang membutuhkan sesama tidak hanya membutuhkan gawai cendekia sebagai “pegangan”. 

Tulisan dari Bapak Renol Darmawan Guru Sekolah Menengah Pertama Santo Yusuf Bandung.

Sumber http://www.didno76.com