Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, July 1, 2019

√ 5 Pola Puisi Terzina Dalam Bahasa Indonesia

Berdasarkan bentuknya, puisi gres terdiri atas beberapa macam. Adapun bentuk yang dimaksud yakni jumlah baris di setiap baitnya. Salah satu diantara macam-macam puisi gres menurut bentuknya tersebut yakni terzina. Puisi ini merupakan puisi gres yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris. Untuk mengetahui ibarat apa bentuk puisi ini, berikut ditampilkan beberapa pola puisi terzina dalam bahasa Indonesia!


Contoh 1:


Aku Ingin*

Karya: Sapardi Djoko Damono


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan aba-aba yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


(1989)


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 105.


Contoh 2:


Dongeng Kucing*

Karya: Sapardi Djoko Damono


Lengking klakson dan rem kendaraan beroda empat itu

meninggalkan jejak asap knalpot, debu,

dan seekor kucing yang sekarat.


Di dalam rumah, tangis seorang gadis kecil,

lalu bunyi menghibur seorang ibu

menyelundupkan final hidup ke negeri dongeng.


Jalan memang dibangun untuk mobil,

manusia, dan juga–tentu saja–kucing;

tak boleh kita meragukan campur-tangan-Mu, bukan?


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Melipat Jarak, hlm 29.


Contoh 3:


Pokok Kayu*

Karya: Sapardi Djoko Damono


“suara angin di rumpun bambu

dan bunyi kapak di pokok kayu,

adakah bedanya, Saudaraku?”


“jangan mengganggu,” bentak seekor tempua

yang sedang mengerami telur-telurnya

di kusut rambut Nuh yang sangat purba


*Sumber: ibid, hlm 38.


Contoh 4:


Hanya*

Karya: Sapardi Djoko Damono


hanya bunyi burung yang kaudengar

dan tak pernah kau lihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana


hanya desir yangin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu


hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin saya ada dalam dirimu


*Sumber: ibid, hlm 124.


Contoh 5:


Masih Pagi*

Karya: Sapardi Djoko Damono


Masih pagi begini kau mau ke mana?

Kemarin kau bilang sakit,

sekarang pagi-pagi malah sudah bangun.


dan siap-siap pergi.

Wajahmu tampak pucat,

coba saja lihat di cermin.


Kamu tak takut lagi lihat cermin, bukan?

Cermin tidak pernah bermaksud

menakut-nakuti,


sekadar memberi tahu

bahwa kita sudah sampai

di ruas tertentu.


Ya, saat galur-galur di wajah kita

tampak tambah tegas.

Apa kau bilang? Tanda sudah tua?


Tentu saja, tapi apa

hubungannya dengan makam?

Siapa yang berhenti?


Maksudku, siapa yang menyuruhmu

berhenti lekas-lekas?

Dan kini kau malah mau pergi.


Ini kan masih pagi. Benar,

katamu cermin semakin menyakitkan,

suka bawel dan memeri tahu kita


macam-macam yang sebenarnya

tidak kita pahami benar

tetapi yang menciptakan kita jengkel


sehingga tidak begitu suka lagi bercermin.

Tapi, apa pula urusannya?

Ini masih pagi, kau mau ke mana?


*Sumber: Ibid, hlm 133-134.


Demikianlah beberapa pola puisi terzina dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa pola puisi lainnya, maka pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut, yaitu: contoh puisi 3 bait perihal alam, contoh puisi 3 bait perihal pahlawan, contoh puisi 3 bait perihal guru, contoh puisi romance, contoh puisi elegi, contoh puisi himne, dan contoh puisi balada. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun mengenai bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 9 Teladan Puisi Distikon Dalam Bahasa Indonesia

Distikon merupakan salah satu diantara macam-macam puisi gres menurut bentuknya. Distikon sendiri merupakan puisi yang tiap bainya terdiri atas dua baris. Di artikel kali ini, akan ditampilkan beberapa pola puisi distikon dari para penyair Indonesia yang diambil dari beberapa sumber terpercaya. Adapun beberapa pola puisi distikon dalam bahasa Indonesia tersebut ialah sebagai berikut!


Contoh 1:


Hutan Karet*

Karya: Joko Pinurbo


in memoriam: Sukabumi


Daun-daun karet berserakan.

Berserakan di hamparan waktu.


Suara kera di dahan-dahan.

Suara kalong menghalau petang.


Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.

Berloncatan di semak-semak rindu.


Dan sebuah jalan melingkar-lingkar

membelit kenangan terjal.


Sesaat sebelum surya berlalu

masih kudengat bunyi beduk bertalu-talu.


(1990)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 2.


Contoh 2:


Kurcaci*

Karya: Joko Pinurbo


Kata-kata ialah kurcaci yang muncul tengah malam

dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.


Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah,

sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.


(1998)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 31.


Contoh 3:


Bunga*

Karya: Sitor Situmorang


Bunga di atas batu

Dibakar sepi


Mengatas indera

Ia menanti


Bunga di atas batu

Dibakar sepi


*Sumber: Sitor Situmorang, Dalam Sajak, hlm 54.


Contoh 4:


Catatan Tahun 53*

Karya: Sitor Situmorang


Dalam gua berseru

Hanya gema bertalu-talu


Batu termangu

(menitik air satu-satu)


Mari membisu duduk lelap

Berkisah dalam gelap


Tentang hidup dan ia yang lupa

(Cahaya di luar lebih sendiri darii kita)


*Sumber: Sitor Situmorang, Dalam Sajak, hlm 55.


Contoh 5:


Mimpinya*

Karya: Sitor Situmorang


I

Pada segala surat menanti nama

Pada segala surat dinanti nama


II

Pada segala air terpasang layar

Pada segala air terkulai layar


III

Pada segala mata menanti cahaya

Pada segala mata dinanti cahaya


*Sumber: Sitor Situmorang. Dalam Sajak, hlm 59.


Contoh 6:


Mata Arjuna*

Karya: Chandra Malik


Panah mengasah arah,

busur menyusur kesiur.


Sekelebat syahwat terjerat,

daku bidik dada dikau.


Jakarta, 2006


*Sumber: Chandra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 12.


Contoh 7:


Ingin Dicinta*

Karya: Chandra Malik


Ketika sendiri, siapa yang bersamamu?

Apakah sepi, ataukah Rindu?


Ketika kita bersama, apa yang kamu rasa?

Apakah bahagia, ataukah derita?


Siapa di antara kita yang berbohong?

Siapa memelihara omong kosong?


Tidakkah insan memang seharusnya mempunyai cita-cita?

Tidakkah insan memang selayaknya ingin dicinta?


Salatiga, 5 Desember 2015


*Sumber: Chandra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 13.


Contoh 8:


Tanda Mata*

Karya: Chandra Malik


Bagiku, engkaulah tanda mata.

Sejak bertemu, konkret selamanya.


Bagiku, engkau ialah cahaya.

Dari binarmu, tatapanku bermula.


Bagiku, engkaulah penglihatan.

Di setiap waktu, di setiap ingatan.


Bagiku, engkau arah memandang.

Pada matamu, mataku berpulang.


Denpasar, 22 Desember 2015


*Sumber: Chandra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 17.


Contoh 9:


Misykat*

Karya: Chandra Malik


Jarak hatiku ke hatimu lebih dekat

dari jauh hatimu ke hatiku, Misykat.


Lebih dulu saya hingga ke alamat,

bahkan sebelum engkau berangkat.


Solo, 13 Januari 2016.


*Sumber: Chandra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 18.


Demikianlah beberapa pola puisi distikon dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa pola puisi lainnya, maka pembaca bisa membuka artikel contoh puisi himne, contoh puisi balada, contoh puisi romance, contoh puisi didaktif, contoh puisi ode, dan contoh puisi elegi. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Thursday, June 27, 2019

√ 4 Pola Puisi Quatrain Dalam Bahasa Indonesia

Puisi quatrain merupakan puisi yang tiap barisnya terdiri atas empat baris. Puisi ini tergolong ke dalam macam-macam puisi gres menurut bentuknya, selain puisi distikon, terzina, quint, sonet, stanza, dan septima. Untuk mengetahui menyerupai apa bentuk puisi ini, maka di artikel ini akan ditampilka beberapa pola puisi quatrain yang diambil dari banyak sekali sumber. Adapun contoh-contoh tersebut ialah sebagai berikut!


Contoh 1:


Hujan Bulan Juni*

Karya: Sapardi Djoko Damono


tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu


(1989)


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 104.


Contoh 2:


Pada Suatu Hari Nanti*

Karya: Sapardi Djoko Damono


pada suatu hari nanti

jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau takkan kurelakan sendiri


pada suatu hari nanti

suaraku tal terdengar lagi

tapi diantara larik-larik sajak ini

kau akan tetap kusiasati


pada suatu hari nanti

impianku pun tak dikenal lagi

namun di sela-sela karakter sajak ini

kau takkan letih-letihnya kucari


(1991)


*Sumber: Ibid, hlm 111.


Contoh 3:


Lagu Gadis Itali*

Karya: Sitor Situmorang


Buat Silviana Maccari


Kerling dana di pagi hari

Lonceng gereja bukit Itali

Jika musimmu datang nanti

Jemputlah kakak di teluk Napoli


Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit Itali

Sedari kakak kemudian pergi

Adik rindu setiap hari


Kerling danau bukit di pagi hari

Lonceng gereja bukit Itali

Andai kakak tak kembali

Adik menunggu hingga mati


Batu tandus di kebun anggur

Pasir teduh di bawah nyiur

Abang lenyap hatiku hancur

Mengejar bayang di salju gugur


*Sumber: Sitor Situmorang, Dalam Sajak, hlm 16.


Contoh 4:


Asal Muasal Pelukan*

Karya: Candra Malik


Tuhan membuat manusia

dari kawasan persembunyian-Nya

di mana tidak ada siapa pun

melihat-Nya meramu lamun


Dari segenggam sunyi,

dijadikan-Nya segumpal hati.

Dari ramai cuma sekepal,

dicipta-Nya sebongkah akal.


Tetapi Tuhan menyerupai sengaja

membuat hati tidak sempurna.

Dari dada yang menyimpan kalbu,

direnggut-Nya tulang rusuk satu.


Tuhan menyebut manusia

yang terluka itu sebagai laki-laki

Lalu dari luka itulah wanita

dicipta bagai permata sanubari.


Digegar oleh detak jantung

laki-laki tak besar lengan berkuasa menanggung.

Dari sinilah awal mula doa:

“Tuhan, kami ingin bahagia.”


Di mana letak kesabaran,

jika bukan di dalam dada?

Di mana syukur diletakkan,

jika bukan di dalam dada?


Tetapi, dada tak sempurna

sejak satu tulang rusuknya pergi.

Segala yang dilihat dari fana,

hanya kerinduanlah yang abadi.


Tanpa permpuan di sisinya,

laki-laki hanya memeluk udara.

Padahal pun bagi perempuan,

lelaki itu asal muasal pelukan.


Jakarta, Maret 2016


*Sumber: Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 8-9.


Demikianlah beberapa pola puisi quatrain dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingi mengetahui pola dari jenis-jenis puisi baru lainnya, maka pembaca bisa membuka artikel contoh puisi balada, contoh puisi himne, contoh puisi romance, contoh puisi epik, dan contoh puisi elegi. Semga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun mengenai bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 4 Teladan Puisi Quint Dalam Bahasa Indonesia

Beberapa pola dari beberapa macam-macam puisi gres menurut bentuknya sudah pernah ditampilkan di artikel-artikel sebelumnya. Adapun artikel-artikel tersebut antara lain contoh puisi distikon dan contoh puisi terzina. Artikel ini pun juga akan menampilkan pola dari salah satu jenis-jenis puisi baru tersebut, di mana puisi yang dimaksud yakni puisi quint. Puisi ini merupakan puisi yang setiap baitnya terdiri atas lima baris atau larik. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada beberapa pola puisi quint dalam bahasa Indonesia yang ada di bawah ini!


Contoh 1:


Mampir*

Karya: Joko Pinurbo


Tadi saya mampir ke tubuhmu

tapi tubuhmu sedang sepi

dan saya tidak berani mengetuk pintunya.

Jendela di luka lambungmu masih terbuka

dan saya tidak berani melongoknya


(2002)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 75


Contoh 2:


Embun Hutan Jati*

Karya: Candra Malik


Hutan jati menunggu janji,

sepanjang hari yang sepi,

ketika ulat-ulat melingkari.

Jari-jemarinya yang tinggi

memekarkan matahari.


Pekarangan luas semesta

adalah telapak tangannya.

Menengadahlah angkasa raya,

minta embun dan air mata

membasahi kelopak bunga.


terlalu usang dalam gelap,

sepi beramai-ramai menetap,

angin mengepung senyap,

dan terik menolak lenyap,

tunas-tunas bersedekap.


Lidah ular tedung menjulur

sakat pandan telah berumur,

bertandan-tanda intan sanur,

merah dan kuning membaur,

mengalungi hutan leluhur.


Kutulis di tanah kemarau,

guguran daun berderau-derau,

patahan teranting masa lalu:

di sini, kamu akan kutunggu

sampai ujung waktuku.


Malang, 2016


*Sumber: Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 143-144.


Contoh 3:


Tukang Foto Keliling*

Karya: Joko Pinurbo


Cita-citanya tinggal satu: memotret

seorang pujangga yang ia tahu tak pernah suka

diambil gambarnya. Ia ingat bual

seorang peramal: “Kembaranmu akan

berakhir pada paras seorang penyair.”


Demikianlah, dengan tangan gemetar,

ia berhasil mencuri wajah penyair pendiam itu

dengan tustelnya. Ia bahagia, sementara

sang pujangga terpana: “Ini wajahku,

wajahmu, atau wajah kita?”


Tak usang kemudian tukang potert keliling itu

mati. Tubuhnya yang sementara terbujur

di sebuah ruangan yang dindingnya

penuh dengan foto karyanya.

Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.


Kerabatnya bingung. Mereka tidak menemukan

potretnya untuk dipajang di erat peti matinya.

“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus seorang

dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.

“Lihat, seolah-olah sekali, nyaris serupa. Ha-Ha-Ha….”


…………………………………………..


(2007)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 157.


Contoh 4:


Ranjang Bulan, Ranjang Pengantin

Karya: WS. Rendra


Ranjang bulan, ranjang pengantin

langit biru lazuardi

ditumpu tangan-tangan leluhur.

Anjing tanah menggelepar

memekikkan birahi kepayang.


Ranjang bulan, ranjang pengantin

perahu jung seratus layar

dipangku lautan tertidur.

Gugur bintang satu-satu

mengantuk kena bekhayal.


Ranjang bulan, ranjang pengantin

kerajaan mambang dan siluman

diasapi dupa memabukkan.

Terkapar mimpi satu-satu

terbanting di atas watu hujan.


Rajang bulan, ranjang pengantin

bumi keras kehidupan

diwarnai semangat dan harapan.

Ladang digarap dikerjakan

bibit ditanam disuburkan.


………………………..


*Sumber: WS Rendra, Empat Kumpulan Sajak, hlm 42.


Demikianlah beberapa pola puisi quint dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa pola puisi gres lainnya, maka pembaca bisa membuka artikel contoh puisi romance, contoh puisi epik, contoh puisi dramatik, dan contoh puisi himne. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun mengenai bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Wednesday, June 26, 2019

√ 5 Teladan Puisi Sektet Dalam Bahasa Indonesia

Puisi merupakan suatu karya sastra yang mengandung pikiran dan perasaan yang disampaikan dengan penulisan dan iraa tertentu. Puisi memiliki sejumlah jenis, di mana salah satunya yaitu sektet. Sektet merupakan salah satu diantara macam-macam puisi gres menurut bentuknya, selain contoh puisi distikon dan contoh puisi terzina. Sektet sendiri merupakan puisi gres yang tiap baitnya terdiri atas 6 baris. Supaya pembaca lebih paham jenis puisi ini, berikut ditampilkan beberapa referensi puisi sektet dalam bahasa Indonesia yang bisa dilihat di bawah ini.


Contoh 1:


Kanjeng Nabi*

Karya: Candra Malik


Duh, kanjeng Muhammad.


Pagi ini saya murung sekali.

Muhammad yang kucintai

sedemikian dibenci

sampai ditelanjangi

dengan gambar hewani

dan disumpahserapahi.


Pagi ini saya murung luar biasa.

Muhammad yang kucinta

dibela membabi buta

sampai membunuhi manusia

dengan angkara murka

menyebut nama Tuhannya.


Entah hati, akal, atau apa.

Manusia tapi tidak manusiawi.

Entah Benci entah cinta.

Najis bercampur dengan suci.

Benar dan salah sekarang serupa.

Akal jadi brutal, hati jadi nyali.


Muhammad tak ibarat itu.

Tidak gambarmu, tidak gambarku.

Dia hidup tenang dalam kalbu

meski dihina dari segala penjuru.

Dialah Muhammad yang kurindu

dan kubela tanpa membencimu.


8 Januari 2015


*Sumber: Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 63-64.


Contoh 2:


Pendaratan Malam*

Karya: Sitor Situmorang


Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar

(Bila fajar bawa berita

Kayu apung istirahat mereka)

Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar


*Sumber: Sitor Situmorang, Dalam Sajak, hlm 42.


Contoh 3:


Ranjang Ibu*

Karya: Joko Pinurbo


Ia gemetar naik ke ranjang

sebab menginjak ranjang serasa menginjak

rangka badan ibunya yang sedang sembahyang.

Dan kalau sesekali ranjang berderak atau berderit,

serasa terdengar gemeretak tulang

ibunya yang sedang terbaring sakit.


(2004)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 124.


Contoh 4:


Puasa*

Karya: Joko Pinurbo


– untuk Hasan Aspahani


Saya sedang mencuci celana yang pernah

saya pakain untuk mencekik leher saya sendiri.

Saa sedang mencuci kata-kata

dengan keringat yang saya tabung setiap hari.

Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi

saya ucapkan selamat menunaikan Ibadah Puisi.


(2007)


*Sumber: ibid, hlm 152.


Contoh 5:


Bunda dan Anak*

Karya: Rustam Effendi


Masak Jambak,

buah sebuah

diperam alam di ujung dahan.

Merah darah

beruris-uris

bendera masak bagi selera.


Lembut umbut,

disantap sayap.

Keroak pipi pengobat haus.

Harum baun

sumarak jambak.

Di bawah pohon terjatuh raum


Lalu ibu

di pokok pohon.

Tersarung hidung, terjatuh mata

pada pala,

tinggal sepenggal.

Terpecik liur di bawah lidah.


Belum jambu

masuk direguk,

terkenang anak, terkalang dirangkung.

Dalam talam,

bunda bersimpan

menanti putra si bungsu sulung.


Anak lasak

tersera-sera.

Budan berlari mengambil jambu.

Ibu sungguh

buah sebuah,

sedapnya sama dirasa ibu.


Renguk sunut,

merajut… rajuk.

Bakhil disangka cintanya bunda.

Keluar pagar

jambu dilempar.

Ibu berdiam, mengurut dada.


*Sumber: Kepada Puisi, http://kepadapuisi.blogspot.co.id/2017/01/roestam-effendi-percikan-permenungan.html. (diakses pada 8 Februari 2018, pukul 15.18)


Demikianlah beberapa referensi puisi sektet dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa referensi dari jenis-jenis puisi gres lainnya, maka pembaca bisa membuka artikel contoh puisi balada, contoh puisi himne, contoh puisi romance, contoh puisi epik, contoh puisi dramatik, serta contoh puisi subjektif dan objektif. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

√ 4 Pola Puisi Septima Dalam Bahasa Indonesia

Puisi gres merupakan puisi yang muncul sehabis adanya imbas sastra barat ke Indonesia. Salah satu diantara jenis-jenis puisi baru tersebut ialah septima. Puisi ini merupakan puisi yang tiap baitnya berisi 7 buah baris atau larik. Puisi ini tergolong ke dalam macam-macam puisi gres menurut bentuknya, selain contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi quint, dan juga contoh puisi sektet. Untuk mengetahui menyerupai apa bentuk puisi ini, berikut ditampilkan beberapa pola puisi septima dalam bahasa Indonesia yang diambil dari banyak sekali sumber!


Contoh 1:


Indonesia Tumpah Darahku*

Karya: M. Yamin


Bersatu kita teguh

Bercerai kita jatuh


Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gunung manis rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumoah darahku Indonesia namanya


Lihatlah kelapa melambai-lambai

Berdesir bunyinya sesayup sampai

Tumbuh di pantai bercerai-cerai

Memagar daratan kondusif kelihatan

Dengarlah ombak tiba berlagu

Mengejar bumi ayah dan ibu

Indonesia namanya, tanah airku


Tanahku bercerai seberang-menyeberang

Merapung di air, malam dan siang

Sebagai telaga dihiasi kiambang

Sejak malam diberi kelam

Sampai bulan terang-benderang

Di sanalah gerangan bangsaku gerangan menopang

Selama berteduh di alam nan lapang


Tumpah darah nusa India

Dalam hatiku selalu mulia

Dijunjung tinggi atas kepala

Semenjak diri lahir ke bumi

Sampai bercerai tubuh dan nyawa

Karena kita sedarah sebangsa

Bertanah air di Indonesia


*Sumber: Dan Riris Istanti, Puisi: Indonesia, Tumpah Darahku, https://danririsbastind.wordpress.com/2010/03/16/puisi-indonesia-tumpah-darahku-m-yamin/ (diakses pada 8 Februari 2018 pukul 17.13)


Contoh 2:


Bayi di Dalam Kulkas*

Karya: Joko Pinurbo


Bayi di dalam kulkas bisa

mendengarkan pasang-surutnya angin,

bisu-kelunya malam, dan kuncup layunya

bunga-bunga di dalam taman.

Dan setiap orang yang mendengar tangisnya

mengatakan, “Akulah Ibumu. Aku ingin

menggigil dan membeku bersamamu.”


“Bayi, nyenyakkah tidurmu?”

“Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang

ke langit, ke bintang-bintang, ke cakrawala,

ke detik penciptaan berssama angin

dan awan dan hujan dan kenangan.”

“Aku ikut. Jemputlah aku. Bayi.

Aku ingin terbang dan melayang bersamamu.”


……………………………………


(1995)


*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 12


Contoh 3:


Sudah Saatnya*

Karya: Joko Pinurbo


Sudah saatnya jam yang rusak diperbaiki.

Kita pergi ke bengkel jam dan kepada pak tua

yang jago menyembuhkan jam kita meminta,

“Tolong ya betulkan jam pikun ini. Jarumnya

sering maju mundur, bunyinya suka ngawur.”

Semoga tukang bikin betul jam tahu bahwa ia

sedang berurusan dengan penggemar waktu


*


Sudah saatnya kita periksakan mata.

Kepada doter mata kita bertanya,

“Ada apa ya dengan mata saya, kok sering

terbalik: tidak melihat yang kelihatan,

malah melihat yang tak kelihatan?”

Mudah-mudahan dokter mata paham, ya,

memang begitulah jikalau mata dipejamkan.


………………………………….


(2003)


*Sumber: Ibid, hlm 102.


Contoh 4:


Pasien*

Karya: Joko Pinurbo


Seperti pasien keluar masuk rumah sakit jiwa,

kau rajin keluar masuk telepon genggam,

melacak jejak bunyi tak dikenal yang mengajakmu

kencan di kuburan pada malam purnama:

Aku pakai celana merah. Lekas datang, ya.

Kutengok ranjangmu: tubuhmu sedang membeku

menjadi telepon genggam raksasa.


(2006)


*Sumber: Ibid, hlm 141.


Demikianlah beberapa pola puisi septima dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Tuesday, June 25, 2019

√ 7 Teladan Puisi Oktaf Atau Stanza Dalam Bahasa Indonesia

Beberapa pola dari macam-macam puisi gres menurut bentuknya sudah ditampilkan di artikel-artikel sebelumnya. Adapun artikel-artikel tersebut antara lain contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi quint, dan contoh puisi sektet. Artikel kali ini pun juga akan menampilkan pola dari jenis-jenis puisi baru menurut bentuknya, di mana puisi gres yang dimaksud yakni puisi oktaf atau stanza. Oktaf atau stanza sendiri merupakan sebuah puisi yang satu baitnya terdiri atas 8 baris. Supaya pembaca lebih paham, berikut ditampilkan beberapa pola puisi oktaf atau stanza dalam bahasa Indonesia.


Contoh 1:


Mata Hitam*

Karya: WS Rendra


Dua mata hitam yakni matahari yang biru

dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.

Rindu bukanlah milik wanita melulu

dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi

kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.

Dua mata hitam yakni rumah yang temaram

secangkir kopi seore hari dan kenangan yang terpendam


*Sumber: WS Rendra, Empat Kumpulan Sajak, hlm 55.


Contoh 2:


Burung Hitam*

Karya: WS Rendra


Burung hitam manis dari hatiku

betapa cekatan dan rindu sepi syahdu.

Burung hitam yakni buah pohonan.

Burung hitam di dada yakni bebungaan.

Ia minum pada kali yang disayang

ia tidur di daunan bergoyang.

Ia bukanlah dari sedih meski ia burung hitam.

Burung hitam yakni cintaku padamu yang terpendam.


*Sumber: Ibid, hlm 56.


Contoh 3:


Lagu Duka*

Karya: WS Rendra


Ia tiba tanpa mengetuk kemudian merangkulku

adapun ia yang licik berjulukan duka.

Ia bulan jingga neraka langit dadaku

adapun ia yang laknat berjulukan duka.

Ia keranda cendana dan bunga-bunga sutra ungu

adapun ia yang manis berjulukan duka.

Ia tinggal lawakan sesudah ciuman panjang

adapun ia uang malang berjulukan duka.


*Sumber: Ibid, hlm 57.


Contoh 4:


Lagu Angin*

Karya: WS Rendra


Jika saya pergi ke timur

arahku jauh, ya, ke timur.

Jika saya masuk ke hutan

aku disayang, ya, di hutan.

Aku pergi dan kakiku yakni hatiku.

Sekali pergi menolak rindu.

Ada duka, pedih dan airmata biru

tapi saya menolak rindu.


*Sumber: Ibid, hlm 59.


Contoh 5:


Stanza*

Karya: WS Rendra


Ada burung dua, jantan dan betina

hinggap di dahan.

Ada daun dua, tidak jantan dan tidak betina

gugur di dahan.

Ada angin dan kapuk gugur, dua-dua sudah tua

pergi ke selatan.

Ada burung, daun, kapuk, angin, dan mungkin juga debu

mengendap dalam nyanyiku.


*Sumber: Ibid, hlm 64.


Contoh 6:


Ia Telah Pergi*

Karya: WS Rendra


Ia telah pergi

lewat jalannya kali.

Ia telah pergi

searah dengan mentari.

Semua lelaki ninggalkan ibu

dan ia masuk serdadu.

Kemudian ia kembang di perang;

dan tertelentang. Bagi lain orang.


*Sumber: Ibid, hlm 68.


Contoh 7:


Dalam Diriku*

Karya: Sapardi Djoko Damono


Because the sky is blue

It makes me cry

(The Beatles)


 


dalam diriku mengalir sungai panjang,

darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma,

hidup namanya!

dan alasannya yakni hidup itu indah

aku menangis sepuas-puasnya


(1980)


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 90.


Demikianlah beberapa pola puisi oktaf atau stanza dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian. Sekian dan juga terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Monday, June 24, 2019

√ 4 Pola Puisi Soneta Dalam Bahasa Indonesia

Soneta merupakan salah satu diantara macam-macam puisi gres menurut bentuknya yang berasal dari luar Indonesia. Puisi ini gotong royong merupakan puisi dari Eropa yang dibawa oleh sejumlah penyair Indonesia ke negara kita. Umumnya, soneta mempunyai jumlah baris sebanyak 14 yang dibagi ke dalam 4 bait dengan pola 4-4-3-3 (bait 1 dan 2 harus mempunyai 4 baris, sedangkan dua bait terakhir harus mempunyai 3 baris). Namun, dalam perkembangannya, puisi soneta di Indonesia dapat berpola 4-4-4-2 atau bahkan hanya 1 bait namun di dalamnya mempunyai 14 baris sekaligus. Supaya pembaca lebih paham, berikut ditampilkan beberapa pola puisi soneta dalam bahasa Indonesia yang ditampilkan di bawah ini!


Contoh 1 (pola 4-4-3-3):


Pagi-Pagi*

Karya: M. Yamin


Teja dan cerawat masih gemilang,

Memuramkan bintang mulia raya;

Menjadi pudar padam cahaya,

Timbul karam berulang-ulang.


Fajar di timur tiba menjelang,

Membawa permata ke atas dunia;

Seri-berseri sepantun mulia,

Berbagai warna, bersilang-silang.


Lambatlaun serta berdandan,

Timbul matahari dengan pelahaan;

Menyinari bumi dengan keindahan.


Segala bunga harumkan pandan,

Kembang terbuka, cantik gubahan;

Dibasahi embun, titik di dahan.


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Bilang Begini Maksudnya Begitu, hlm 12.


Contoh 2 (Pola 4-4-4-2):


Sonet: Entah Sampai Kapan*

Karya: Sapardi Djoko Damono


entah semenjak kapan kita gugup

di antara frasa-frasa pongah

di kain rentang yang berlubang-lubang

sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan


di antara kata-kata bernafsu yang desak-mendesak

di kain rentang yang ditiup angin,

yang diikat di antara batang pohon

dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela


huruf-huruf kaku yang tindih menindih

di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan

yang tanpa lampu kemudian lintas itu. Telah semenjak lama

rupanya kita suka membayangkan diri kita


menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya

bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin.


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Melipat Jarak, hlm 31.


Contoh Puisi 3 (Pola 4-4-4-2):


Sonet: Kau Bertanya Apa*

Karya: Sapardi Djoko Damono


untuk Wing Kardjo


 


Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih,

di luar kata. Di dalam kata terdengar, tak putus-putusnya

suara orang berkhotbah, berceramah, dan berselisih.

Sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah,


menjarah, atau menjadi gila; sementara kita menyaksikan

rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus,

pohon-pohon tumbang–di dalam kata masih saja

setiap huruf dipertanyakan asal-usulnya, setiap desis


diusut keterlibatan maknanya. Kono, dulu,

di dalam kata pernah terdengar desau gerimis kecil,

cericit bawah umur burung, siut daun jatuh,

dan langkah kabut pagi. Konon, dulu, pernah terdengar kata


saling berbisik. Kau bertanya apa masih ada harapan.

Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.


*Sumber: Ibid, hlm 35.


Contoh 4 (pola 1 bait berisi 14 baris sekaligus):


Sonet: X*

Karya: Sapardi Djoko Damono


siapa menggores di langit biru

siapa meretas di awan lalu

siapa mengkristal di kabut itu

siapa mengertap di bunga layu

siapa cerna di warna ungu

siapa bernafas di detak waktu

siapa berkelebat setiap kubuka pintu

siapa mencair di bawah pandangku

siapa terucap di celah kata-kataku

siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku

siapa tiba menjemputku berburu

siapa tiba-tiba menyibak cadarku

siapa meledak dalam diriku

: siapa Aku


(1968)


*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 33.


Demikianlah beberapa pola puisi soneta dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui pola jenis-jenis puisi baru menurut bentuk lainnya, maka pembaca dapat membuka artikel contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi quint, dan contoh puisi sektet. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Terima kasih.



Sumber https://dosenbahasa.com

Sunday, May 26, 2019

√ 12 Referensi Seloka Nasehat Dalam Bahasa Indonesia

Sastra melayu klasik hingga ketika ini telah tercatat lebih dari tujuh bentuk, diantaranya ibarat seloka, gurindam, pantun, hikayat, karmina, talibun dan syair. Beberapa sastra melayu klasik tersebut dibentuk dalam bentuk puisi. Tidak banyak orang yang mengetahui jenis-jenis puisi. Pada umumnya, orang hanya mengetahui jenis puisi usang dan puisi baru. Salah satu jenis puisi usang dalam sastra melayu klasik ialah seloka. Seloka di buat kedalam empat baris atau lebih dan saling berafiliasi ibarat pantun. Didalamnya terdapat pepatah ataupun perumpamaan yang mengandung nasehat, sindiran, senda gurau dan ada pula ejekan.


Contoh seloka nasehat dalam bahasa Indonesia ibarat berikut ini :


(1) Ke pasar mencari sayur

Beli bayam cukup seikat

Niat menjadi insan jujur

Kepercayaan gampang didapat


(2) Beli bayam cukup seikat

Masak jangan pakai merica

Kepercayaan gampang didapat

Ketika berkata hindari dusta


(3) Masak jangan pakai merica

Merica tumbuh tiada di taman

Ketika berkata hindari dusta

Pikir hening jiwa pun nyaman


(4) Mawar mekar dihampiri lebah

Disengat lebah menjadi kuat

Belajar ulet ilmu bertambah

Supaya jadi insan bermanfaat


(5) Disengat lebah menjadi kuat

Orang besar lengan berkuasa sebab berolahraga

Supaya jadi insan bermanfaat

Banyak syukur dengan apa yang ada


(6) Orang besar lengan berkuasa sebab berolahraga

Jiwa sehat raga subur

Banyak syukur dengan apa yang ada

Terhindar diri dari kufur dan takabur


(7) Sinar mentari hangatkan bumi

Pagi disambut kicauan burung

Acuhkan nasihat hati tak mati

Ceria tampak wajah tak murung


(8) Pagi disambut kicauan burung

Langit dihias arakan mega

Ceria tampak wajah tak murung

Semangat bekerja terus berkarya


(9) Langit dihias arakan mega

Angin bertiup membelai ilalang

Semangat bekerja terus berkarya

Menjadi Insfirasi banyak petualang


(10) Tape ketan dibungkus daun jambu

Buah tangan dari kota kuningan

Berlomba-lomba menjadi nomor satu

Jangan hingga sikut kiri kanan


(11) Buah tangan dari kota kuningan

Kota kuda daerah pertama bersua

Jangan hanya jadi angan-angan

Wujudkan mimpi dengan perjuangan nyata


(12) Kota kuda daerah pertama bersua

Bertukar dongeng melepas rindu

Wujudkan mimpi dengan perjuangan nyata

Saling membantu pundak membahu


Pada pola seloka di atas, sanggup dilihat ciri dari seloka yaitu baris kedua pada bait pertama, menjadi baris ke satu pada bait kedua. Sedangkan baris ke empat pada bait pertama menjadi baris ke tiga pada bait kedua. Begitu pula yang terjadi pada bait kedua dan ketiga. Selain pola seloka dalam bahasa indonesia di atas, anda sanggup melihat juga contoh puisi usang seloka sebagai rujukan lainnya.



Sumber https://dosenbahasa.com

Saturday, March 2, 2019

√ Pahlawanku -Puisi

siapa yang menyentuhku dengan belaian halus √ PAHLAWANKU -PUISI

gelap.....

mengapa gelap ?

tak ada jawaban

entah kapan ku lihat ruang penuh warna

cahaya dan sentuhan kutrima

apa ? siapa ?

siapa yang menyentuhku dengan belaian halus

siapa

tak ada jawaban

kulihat senyum pada wajah mereka

seolah jauh lebih kenal kepadaku

aku tertawa mereka tersenyum

aku menangis mereka tersenyum

mencoba menenangkan

kenapa ?

langkah pertama ku injakan dunia penuh warna

terjatuh

mereka menghampiri dan terus memberi harapan

kenpa ?

sepedulikah mereka ?

tahun ku lalui

mereka slalu ada di sampingku

memakaikan ku sehelai kain

putih merah menjadi biru

biru menjadi abu

aku lihat tetesan usaha mengalir setiap hari

sungguh tak rela

rupiah bukan beban

mereka ingin saya bahagia

walau nyawa menjadi taruhan

dulu mereka tersenyum

sekarang pun begitu

tetapi mereka berussaha menutupi keriput dengan senyuman

aku tak sanggup

air mata tercucur dari mereka

saat menggunakan topi segi lima hitam

tangis haru menderu hati

aku tahu

aku tahu siapa mereka

mereka yaitu pahlawan

pahlawan hidupku

pahlawanku.

Karya, Hendri


Sumber http://www.hendrisetiawan.com

Friday, March 1, 2019

√ Berakhir - Puisi

kusatukan berharap seuntai cerita kembali berlanjut √ BERAKHIR - PUISI
pernah terucap janji
kan menjadi suntai kisah
tali kokoh takkan terputus
itulah komitmen kita
              rindu menyelimuti rasa
              itulah cinta
              kita lalui bersama angka demi angka
              sampai semua berakhir
              jenjang merapuhkan tali yang kokoh
             hancur kurasa
             ku harap begitu engkau
kenangan anggun tersusun sudah
dalam album cinta kita
kuambil kepingan hati yang hancur
kusatukan berharap seuntai cerita kembali berlanjut
namun itu kesia siaan
tersapu sudah kepingan hati bersama kelam
ku etrus mencari kepingan teka peduli waktu
ku sadar, ku terbawa pilu amat dalam
karna kita tlah berakhir
Karya, Hendri

Sumber http://www.hendrisetiawan.com

√ Saya - Puisi

wBDAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB √ AKU - PUISI
aku yakni aku
engkau tak tahu aku
tak tahu saya yang menyimpan sedih
engkau tidak mungkin siapa aku
             gesekan luka tak terobati
             luka kutetesi dengan air mata
             perih tak tertahan
             siapa engkau tak tahu aku
             teriris pisau kurun lalu
             kamu tega
            kamu tega melihat saya tersimpuh lumpuh
ini takdirku
tak dapat menjadi engkau
coba rasakan
rasakan perih tak terujung
jika menjadi aku
tak ada satupun menjadi penawar
aku ingin menyerupai engkau
engkau yang bebas tanpa goresan
sayang,
sungguh sayang saya bukan engkau
karna saya yakni aku
Karya, Hendri

Sumber http://www.hendrisetiawan.com

Thursday, February 28, 2019

√ Hanya Engkau - Puisi


termenung ku sendiri
tak ada seorang menghangatkan hati ini
hanya sepi menyelimuti raga ku
hanya sunyi menemani diriku
               kulihat manusia terhempas di mata
               rasa apa ini ?
               getar dan decak kagum sangat terasa
               mungki n panah asmara menusuk relung hati
               bukan raga ini
ini memang sukar
sukar menjangkau luluh hatimu
dihati kecilku tersimpan engkau
engkaulah manusia yang memberi warna dihidup
mengalahkan sunyi
membuang sepi dalam hati.

Sumber http://www.hendrisetiawan.com

√ Sobat Yang Hilang - Puisi


termenung ku sendiri
tak ada seorang menghangatkan hati ini
hanya sepi menyelimuti raga ku
hanya sunyi menemani diriku
               kulihat manusia terhempas di mata
               rasa apa ini ?
               getar dan decak kagum sangat terasa
               mungki n panah asmara menusuk relung hati
               bukan raga ini
ini memang sukar
sukar menjangkau luluh hatimu
dihati kecilku tersimpan engkau
engkaulah manusia yang memberi warna dihidup
mengalahkan sunyi
membuang sepi dalam hati.

Sumber http://www.hendrisetiawan.com

Wednesday, February 27, 2019

√ Penyesalan - Puisi

 
nafsu membara memperabukan akal
Sungguh tak kuasa menahan rasa
kupikir akan menjadi manis
kuacuhkan sesal nanti
                     waktu tlah bergulir
                      Sungguh tak terasa apa yang terjadi
                      Sesal, takut, amarah menjadi satu
                      arti sesal tlah ku rasa 
semua tlah terjadi
akal sudah terbakar nafsu
takkan mengulang waktu
bagai arang menjadi abu
                    saya menyesal
                    matapun tak anggup membendung air sesal
                   saya tak tahu bagaimana
                   karna nalar tlah menjadi abu
                   amarah terelakkan penyesalan
                   hanya kesedihan yang ku bawa
                   apakah tanda penyesalan ????

Sumber http://www.hendrisetiawan.com

Tuesday, November 27, 2018

√ 4 Teladan Puisi Beserta Sinopsisnya Dalam Bahasa Indonesia

Sebelumnya, kita telah mengetahui beberapa referensi puisi dari beberapa artikel yang lalu. Adapun artikel-artikel tersebut antara lain: contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi soneta, contoh puisi romance, contoh puisi balada, dan contoh puisi elegi. Kali ini, kita juga akan mengetahui menyerupai apa referensi puisi yang disertai dengan sinopsisnya. Beberapa referensi puisi di artikel ini sendiri merupakan puisi-puisi yang ada di dalam suatu antologi puisi. Dikarenakan berasal dari buku puisi, maka puisi-puisi tersebut juga akan disertai dengan referensi sinopsisnya.


Contoh-contoh puisi beserta sinopsisnya tersebut sanggup dilihat di bawah ini!


A. Contoh Puisi*


Contoh 1:


Dengan Kata Lain

Karya: Joko Pinurbo


Tiba di stasiun kereta, saya langsung

cari ojek. Entah nasib baik, entah nasib buruk,

aku menerima tukang ojek yang, astagar,

guru Sejarah-ku dulu. “Wah, juragan

dari Jakarta pulang kampung,” dia menyapa.

Aku jadi aib dan salah tingkah. “Bapak

tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”


Nyaman sekali rasanya diantar pulang

Pak Guru hingga tak terasa ojek sudah

berhenti di depan rumah. Ah, saya ingin kasih

bayaran yang mengejutkan. Dasar sial,

belum sempat kubuka dompet, dia sudah

lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.


Di teras rumah Ayah sedang tekun

membaca koran. Koran tampak capek

dibaca Ayah hingga huruf-hurunya berguguran

ke lantai, berhamburan ke halaman.


Tak ada angin, tak ada hujan, Ayah tiba-tiba

bangkit berdiri dan berseru, ” Denbgan kata lain,

kamu tak akan pernah sanggup membiayai gurumu.”


(2004)


Contoh 2:


Selamat Ulang Tahun, Buku

Karya: Joko Pinurbo


Selamat ulang tahun, buku. MAkin lama

kau makin keren saja. Tambah cerdas pula.

Aku saja yang tambah payah

dan kini mulai pelupa.


Maaf, saya tak sanggup kasih hadiah apa-apa

selain sejumlah ralat dan catatan

yang saya tak tahu akan kutaruh di mana

sebab kau sudah berakal meralat

dan menceritakan dirimu sendiri.


Kau bahkan sudah tak menyerupai dulu

ketika saya berdarah-darah menulismu.

Jangan-jangan kau pangling denganku.


Selamat ulang tahun, buku. Anggap saja

aku kekasih atau pacar malangmu.

Selamat panjang umur, cetang ulang selalu.


(2003)


Contoh 3:


Mei

Karya: Joko Pinurbo


: Jakarta, 1998


Tubuhmu yang cantik, Mei

telau kaupersembahkan kepada api.

Kau pamit mandi sore itu.

Kau mandi api.


Api sangat mencintaimu, Mei.

Api mengucup tubuhmu

sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Aou sangat menyayangi tubuhmu

sampai dilumatnya yang cuma warna,

yang cuma kulit, yang cuma ilusi.


Tubuh yang meronta dan meleleh

alam api, Mei

adalah juga badan kami.

Api ingin membersihkan badan maya

dari badan dusta kami

tubuhmu yang cantik, Mei


Kau sudah akibat mandi, Mei.

Kau sudah mandi api.

Api telah mengungkapkan diam-diam cintanya

ketikau tubuhmu hancur dan lebur

dengan badan bumi.

Ketika tak ada lagi yang mempertanyakan

nama dan warna kulitmu, Mei.


(2000)


B. Contoh Sinopsis (Buku) Puisi**


Dari kamar

mandi yang jauh

dan sunyi

saya ucapkan

Selamat

Menunaikan

Ibadah Puisi.

*

Sabda sudah menjadi

saya.

Saya akan

dipecah-pecah

menjadi ribuan

kata dan suara.

*

Tubuhku kenangan

yang sedang

menyembuhkan

lukanya sendiri.

*

Menggigil adalah

menghafal rute

menuju ibu kota tubuhmu.

*

Lupa: mata waktu yang tidur sementara.

*

Tuhan yang merdu, terimalah

kicau burung dalam kepalaku.

*

Kita ialah cinta yang berjihad melawan trauma.


Demikianlah beberapa referensi puisis beserta sinopsisinya dalam bahasa Indonesia. Sekian dan terima kasih.


*Semua referensi puisi tersebut disadur dari buku kumpulan puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko Pinurbo.


**Disadur dari halaman belakang buku puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.”



Sumber https://dosenbahasa.com

Monday, November 26, 2018

√ 4 Cara Menulis Sinopsis Antologi Puisi Dalam Bahasa Indonesia

Antologi puisi merupakan sebuah buku yang berisi kumpulan puisi di dalamnya. Puisi-puisi yang dikumpulkan itu bisa berupa kumpulan puisi hasil karya sendiri, penyair lain, atau dari beberapa penyair. Seperti halnya buku pada umumnya, buku antologi puisi juga mengandung sinopsis di bab belakangnya. Secara fungsi, sinopsis pada antologi puisi juga sama dengan sinopsis buku lainnya, yaitu sebagai pemberi citra umum sebuah karangan.


Seperti sinopsis lainnya pula, sinopsis pada antologi puisi juga mesti ditulis dengan sejumlah cara. Adapun beberapa cara tersebut akan dibahas khusus pada artikel ini, di mana pembahasn tersebut bisa disimak di bawah ini!


1. Membaca Naskah Antologi Puisi


Cara pertama menulis sinopsis antologi puisi ialah tentu saja membaca naskahnya terlebih dahulu. Cara ini dilakukan semoga kita sanggup mengetahui suasana, gagasan, serta benang merah yang ada di tiap puisinya. Selain itu, kita juga akan mengetahui puisi mana saja yang memiliki nilai lebih di buku antologi tersebut, yang kemudian bisa kita kutip sebagai bab dari sinopsis. Dengan begitu, kita bisa menerima bayangan mengenai apa yang hendak kita sampaikan dalam sinopsis antologi puisi kita.


2. Menulis dan Mengembangkan Poin-Poin yang Kita Dapat


Setelah naskah puisi selesai kita baca dan poin-poinnya telah kita ambil, maka langkah selanjutnya yang perlu diambil ialah menulis serta membuatkan poin-poin yang kita peroleh dari naskah yang kita baca. Cara ini patut diambil jikalau pembaca hendak menampilkan sinopsis berupa ringkasan dari isi antologi puisi. Adapun pola atau hasil dari cara ini bisa dilihat di artikel pola sinopsis buku puisi.


3. Menulis Salah Satu Puisi di Buku Tersebut


Cara ini dilakukan jikalau pembaca ingin menampilkan sinopsis berupa kutipan salah satu puisi saja. Cara ini juga lazim digunakan di beberapa buku antologi puisi yang ada, salah satunya pada buku antologi “Melipat Jarak” karya Sapardi Djoko Damono.


Selain cara ini, pembaca juga bisa mengambil beberapa bait dari puisi-puisi yang ada di dalam buku puisi tersebut, kemudian digabungkan menjadi suatu kesatuan yang padu. Cara ini digunakan pada buku “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko Pinurbo yang bisa dilihat di artikel pola puisi beserta sinopsisnya.


4. Menulis Salah Satu Puisi Beserta Poin-Poin yang Hendak Kita Sampaikan


Cara terakhir ini tentu merupakan adonan dari cara nomor dua dan tiga. Cara ini dilakukan dengan menulis salah satu puisi di buku tersebut, kemudian di bab bawahnya kita tuliskan poin-poin yang berkaitan dengan buku antologi puisi tersebut. Cara ini juga digunakan dalam beberapa buku puisi yang ada. Salah satu pola buku puisi yang sinopsisnya ditulis dengan cara ini ialah buku puisi W.S. Rendra yang bertajuk “Puisi-Puisi Cinta.”


Demikianlah pembahasan mengenai cara menulis sinopsis antologi puisi dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin menambah rujukan soal puisi, pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut ini, yaitu: jenis-jenis puisi, jenis-jenis puisi lama, jenis-jenis puisi baru, jenis-jenis puisi kontemporer, contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi soneta, dan artikel contoh puisi balada. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan gres bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun bahan pempelajaran bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan juga terima kasih kepada para pembaca sekalian.



Sumber https://dosenbahasa.com

Friday, November 16, 2018

√ 7 Pola Puisi Gres Distikon Dan Terzina Dalam Bahasa Indonesia

Berdasarkan bentuknya, terdiri dari beberapa macam, di mana macam-macam puisi menurut bentuknya tersebut adlaah puisis distikon dan terzina. Secara sederhana, distikon merupakan puisi yang tiap baitnya mengandung dua baris atau larik. Sementara itu, terzina merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris atau larik. Untuk mengetahui ibarat apa teladan dari kedua jenis puisi ini, maka pada artikel kali ini keduanya akan ditampilkan beberapa contohnya. Adapun teladan tersebut bisa dilihat sebagaimana berikut ini!


A. Contoh Puisi Baru Distikon


Contoh 1:


Hutan Karet*

Karya: Joko Pinurbo


-in memoriam, Sukabumi


Daun-daun karet berserakan.

Berserakan di hamparan waktu.


Suara kera di dahan-dahan.

Suara kalong menghalau petang.


Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.

Berloncatan di semak-semak rindu.


Dan sebuah jalan melingkar-lingkar

membelit kenangan terjal.


Sesaat sebelum surya berlalu

masih kudengar bunyi beduk bertalu-talu.


(1990)


Contoh 2:


Ingin Dicinta**

Karya: Candra Malik


Ketika sendiri, siapa yang bersamamu?

Apakah sepi, ataukah Rindu?


Ketika kita bersama, apa yang kau rasa?

Apakah bahagia, ataukah derita?


Siapa di antara kita yang berbohong?

Siapa memelihara omong kosong?


Tidakkah insan memang seharusnya mempunyai cita-cita?

Tidakkah insan selayaknya ingin dicinta?


Salatiga, 5 Desember 2015


Contoh 3:


Tanda Mata***

Karya: Candra Malik


Bagiku, engkaulah tanda mata.

Sejak bertemu, kasatmata selamanya.


Bagiku, engkau yaitu cahaya.

Dari binarmu, tatapanku bermula.


Bagiku, engkaulah penglihatan.

Di setiap waktu, di setiap ingatan.


Bagiku, engkau arah memandang.

Pada matamu, mataku berpulang.


Denpasar, 22 Desember 2015


B. Contoh Puisi Baru Terzina****


Contoh 1:


Di Atas Meja

Karya: Joko Pinurbo


Di atas meja kecil ini

masih tercium harum darahmu

di halaman-halaman buku.


Sabda sudah menjadi saya.

Saya akan dipecah-pecah

menjadi ribuan kata dan suara.


(1990)


Contoh 2


Tengah Malam

Karya: Joko Pinurbo


Badai menggemuruh di ruang tidurmu.

Hujan menderas, kemudian kilat, petir,

dan ledakan-ledakan waktu dari dadamu.


Sesudah itu semuanya reda.

Musim mengendap di kacajendela.

Tinggal ranting dan dedaunan kering

berserakan di atas ranjang.


Wajtu itu tengah malam.

Kau menangis. Tapi ranjang

mendengarkan suaramu sebagai nyanyian.


(1989)


Contoh 3:


Di Kulkas, Namamu

Karya: Joko Pinurbo


Di kulkas masih ada

gumpalan-gumpalan batukmu

mengendap pada kaleng-kaleg susu.


Di kulkas masih ada

engahan-engahan nafasmu

meresap dalam anggur-anggur beku.


Di kulkas masih ada

sisa-sisa sakitmu

membekas pada daging-daging layu.


Di kulkas masih ada

bisikan-bisikan rahasiamu

terseimpan dalam botol-botol waktu.


(1991)


Contoh 4:


Gambar Hati Versi Penyair

Karya: Joko PInurbo


Seperti dua koma bertangkupan.

Dua koma dari dua kamus yang berbeda

dan tanpa kesepakatan bertemu di sebuah puisi.


(2007)


*Disadur dari buku puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko PInurbo.


**Disadur dari buku puisi “Asal Muasal Pelukan” karya Candra Malik.


***Idem.


****Semua teladan puisi terzina di artikel ini diambil dari buku “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko Pinurbo.


Demikianlah beberapa teladan puisi gres distikon dan terzina dalam bahasa Indonesia. JIka pembaca ingin melihat beberapa teladan puisi gres lainnya, maka pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut ini, yaitu: contoh puisi quatrain, contoh puisi quint, contoh puisi oktaf atau stanza, contoh puisi soneta, contoh puisi romance, contoh puisi elegi, dan contoh puisi balada.


Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi gres pada khususnya, maupun mengenai bahan pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya. Mohon dimaafkan bila terdapat kekeliruan di dalam artikel kali ini. Sekian dan juga terima kasih.


 



Sumber https://dosenbahasa.com